Naviza terlonjak sadar dengan napas terengah labil. Keringat dinginnya mengucur deras hingga pelipisnya basah. Dan bibir pucatnya belum juga berubah. “Ara? kau sudah sadar?” seru Nam yang kemudian muncul di hadapannya. Nam membawa semangkuk air hangat untuk diminum Naviza. dia duduk di pinggiran ranjangnya, memijat pelan kaki Naviza sambil menunggu dia menghabiskan airnya. “Apa kita tertangkap?” seru Naviza spontan. Kekhawatiran itu kembali muncul memenuhi pikirannya. Dia mengamati sekitar dengan cepat. dinding, atap bahkan lantai ruangan ini terbuat dari batu. Permukaannya lembab bahkan sedikit berair. Tapi tidak ada pintu, hanya ada lubang besar di ujung ruangan untuk akses keluar masuk. Ruangan ini mungkin akan sangat gelap ketika api lilin disampingnya ditiup. Hingga detik ini pun,

