“Naviza..” ucap Angkasa sangat lirih setelah hembusan napas panjang. Melihat bagaimana tatapan mata Angkasa yang berubah, Naviza bisa mengartikannya sebagian. Bahwa Angkasa juga memikirkan apa yang sedang ia pikirkan sekarang. entah apakah dia berubah pikiran dan ingin memberi penjelasan atas semuanya, ataukah kemarahan pagi ini masih tetap berlanjut. Itu sebagian pikiran lain yang tak ingin Naviza artikan dari tatapan mata itu. “Kalau kau sudah tahu keberadaan semua senjatanya, kenapa kau membuatku menjadi seperti orang bodoh?” Cetus Naviza pelan. Jaraknya dengan Angkasa hanya dua langkah saja. “Ini rahasia. Begitu pun kepadamu, tak seharusnya kau datang ke tempat ini.” jawab Angkasa dengan nada yang datar. “bahkan Faritzal dan yang lainnya, belum tahu tentang rencana ini. Aku memang s

