Sagara datang ke rumah besar itu keesokan harinya. Motor tinggi bersuara ribut itu diparkir dekat gerbang di mana pos satpam berada. Dia turun dan celingak-celinguk. Lalu, seorang lelaki berseragam menyapanya dari pos dengan kaca berlubang. “Mau ke siapa, Mas?” tanyanya curiga. Apalagi saat ini Sagara hanya memakai celana jin robek yang memperlihatkan beberapa tato di kakinya. Satpam itu curiga jika SAgara adalah preman yang ingin meminta jatah sumbangan. “Mau ketemu Pak Reksa,” jawab Sagara sopan. Wajahnya memang lebih sering terlihat ramah. Berbeda dengan Daniel yang selalu terlihat angkuh. “Mau ada apa, ya? Sudah punya janji?” tanya satpam itu menilik Sagara dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. “Belum, sih ….” Sagara tampak ragu. “Kalau mau ketemu Pak Reksa itu tidak bisa

