Bab 9 Lamaran

1625 Kata
“Semalam kamu pulang jam berapa?” Pertanyaan itu menghentikan Sagara yang hendak membalikan piring di hadapannya. “Tengah malam,” jawab Sagara seadanya. “Kamu ini, selalu saja tidak pedulikan badanmu. Sampai kapan kamu mau mengurus anak-anak itu? Usiamu terus bertambah. Kamu harus menikah satu saat nanti,” ujar Murni, sang ibu. Sagara mengembus napas, lalu mendongak dan menatap sang ibu. “Aku mau menikah, Ma,” ucapnya dan sukses membuat Murni menjatuhkan sendok di tangannya. Matanya terbelalak. “Apa Naomi sudah kembali?” tanyanya dengan wajah penasaran. Sagara menggeleng. “Kamu sudah bisa nelupakannya ternyata.” Murni tersenyum. Sagara tersenyum masam. “Apa aku harus menunggu seseorang yang bahkan mungkin tidak ingat lagi padaku?” Murni mengangguk dengan senyuman tak kalah masam. “Sepertinya Mama ingin segera bertemu dengan gadis itu. Dia pasti gadis yang istimewa hingga bisa membuatmu melupakan Naomi.” Murni mendesah menatap sang putra. Sagara tersenyum sekilas. Jika saja sang ibu tahu apa alasan di balik dia menikahi wanita itu. Namun, biar semua itu menjadi rahasianya sendiri. Sudah lama juga Murni meminta agar Sagara segera melepas masa lajangnya. Namun, itu bukan hal yang mudah bagi Sagara. Menikah bukan sekedar main-main. “Makanlah. Hari ini kamu kerja?” ujar Murni. “Eh? Oh, iya. Aku masuk jam sepuluh, tapi mau cek anak-anak dulu.” Sagara mulai menyuap sarapannya. Murni menatap haru pada putra kesayangannya. Anak yang tersisih karena perceraian orangtuanya semenjak dia kecil. “Apa kamu masih akan mengurus anak-anak itu jika sudah menikah nanti?” Murni menelisik keinginan sang putra yang selama ini selalu saja mementingkan orang lain. “Tentu saja, Ma. Mau pergi kemana mereka jika aku tak mengurusnya. Paling tidak, aku mengurus mereka sampai bisa mencari uang sendiri.” “Apakah calon istrimu tahu tentang itu?” “Tentu saja. Dia bahkan sering berkunjung ke rumah singgah,” jawab Sagara meyakinkan. Murni mendengkus pelan. “Sepertinya kalian sudah kenal cukup lama, kenapa kamu baru mengatakan soal pernikahanmu sekarang?” Sagara tertawa kecil melihat sang ibu yang tampak sangat penasaran dengan Sabrina. Haruskah dia mengatakan jika semua itu terjadi karena terpaksa? “Aku akan mengenalkannya pada Mama.” “Dia cantik?” Murni kembali menelisik. Kali ini Sagara tertawa. “Apa menjadi menantu Mama itu harus cantik?” tanya Sagara. “Bukan begitu juga. Mama hanya ingin tahu saja. Apa dia pantas mendampingi anak Mama yang tampan ini.” Sagara langsung tergelak saat mendengar pujian dari sang mama. “Mama bisa menilainya nanti. ” Lelaki itu menembak ibunya dengan telunjuk. Murni pun tertawa. ** Mata Sagara terbelalak saat tiba di rumah singgah. Di sana Daniel sedang duduk ongkang-ongkang kaki di atas sofa. Anak-anak hanya diam sambil menonton TV. “Selamat pagi, Sagara,” ucap Daniel dan bangkit dari duduknya. Jalan mondar-mandir dengan tangan masuk ke dalam saku celananya. “Ada apa kamu ke sini?” Sagara bertanya tegas. Mendengar itu Daniel malah tertawa. “Sepertinya kamu sudah lupa kalau rumah ini masih menjadi milikku.” Daniel menatap sekeliling sambil mengembus napas kasar. “Dan kamu sudah lancang menghancurkan kamera CCTV yang kupasang. Itu benar-benar membuat Daniel marah,” ucap lelaki itu dan menaikan salah satu kakinya ke atas meja. Sagara menatap satu per satu anak-anak dan memberi isyarat agar mereka pergi dari sana. anak-anak itu menurut. Mereka pergi ke luar. “Untuk apa kamu memasang CCTV? Apa untuk memata-matai aku dan Sabrina? Kamu ingin tahu kami melakukan apa saja? Lalu, apakah kamu lupa apa saja yang bisa dilakukan sepasang suami istri? Apa kamu juga mau melihat adegan ranjang kami?” Sagara sengaja memanas-manasi. Dan memang, darah Daniel langsung mendidih seketika. Dia sama sekali tak rela mantan istrinya itu ada yang menyentuh selain dirinya. “Akan kuremukan badanmu jika sampai berani menyentuhnya!” ucap Daniel dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. “Lho, bukannya kamu sendiri yang memintaku menikahinya?” Sagara menantang. Terdengar dengkusan kasar dari mulutnya. “Dengar! Aku memang memintamu menikahinya, tapi, hanya sebentar saja. Kamu hanya boleh menyentuhnya sekali, setelah itu … lepaskan dia. Kembalikan dia padaku. Kamu mengerti!” gertak Daniel yang ditimpali senyum masam oleh Sagara. “Bukankah sekali juga sama saja aku menyentuhnya? Lalu … apa yang sekali itu pun kamu ingin melihatnya? Mendengar dia mendesah bersamaku?” Sagara semakin menantang. Tatapan mereka saling beradu nyalang. “Anj*ng lu!” Rahang Daniel semakin mengeras. “Lalu bagaimana? Mau melanjutkannya atau tidak? Kalau mau lanjutkan, lepas semua kamera CCTV yang kamu pasang. Aku bukan artis sinetron. Aku tidak mau jadi bahan tontonan.” Sagara berucap dengan tatapan nyalang. Bibirnya mencebik seolah ingin meludah di wajah Daniel. “Ok.” Daniel melunak dan mundur selangkah, memalingkan muka. Tak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain menuruti keinginan Sagara untuk sementara. “Ada harga yang harus kamu bayar karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik dia. Aku tidak akan membuatnya mudah agar kamu bisa menghargai sesuatu,” ujar Sagara setengah berbisik. “Fine. Mungkin kamu memang benar. Ini terakhir kalinya aku berbuat kesalahan. Setelah ini aku akan mempertahankan Sabrina bagaimanapun caranya.” Daniel kembali duduk lalu mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Asapnya membumbung saat dia mengembusnya. “Segeralah kamu menikahinya. Aku sudah tidak sabar ingin memilikinya lagi.” Daniel mencondongkan tubuh untuk mematikan rokoknya di asbak. “Jangan menganggap dia hanya boneka mainanmu saja. Dia manusia yang punya rasa—“ “Berhenti membual!” teriak Daniel memotong kalimat Sagara. “Aku sudah tahu bagaimana Sabrina. Yang dia inginkan itu hanya uang dan uang,” ujarnya sambil memetikan telunjuk dan ibu jarinya. Sagara tak ingin lagi berdebat. Dia kemudian pergi ke kamar anak-anak dan memberikan uang pada Eva. “Beli sayuran dan lauk. Maaf, Kakak ada perlu dulu.” Gadis itu mengangguk saat menerima lembaran uang berwarna biru. Sagara meninggalkan Daniel yang masih duduk di sofa. ** Sagara bergegas pulang. Dia sudah mengabari Sabrina tadi jika dia akan menjemputnya. Entah mimpi apa semalam, Sabrina benar-benar terlonjak senang. “Aneh banget, sih. kamu kayak yang seneng banget,” tukas Fany saat melihat Sabrina yang tiba-tiba terlonjak bahagia ketika mendekati waktu pulang. Sabrina tak menjawab. Dia melanjutkan memoleskan liptint di bibir tipisnya. Dia juga bergegas angkat kaki dari mejanya. Membuat teman-temannya yang lain saling melempar pandang. “Elu mau ada yang jemput, ya?” tanya Alice pada Sabrina. Wanita itu hanya menjawab dengan senyuman. Tak lama Kawasaki KLX itu tiba di sana. Sagara mengangkat kaca penutup helmnya. “Maaf, bikin kamu nunggu lama,” ujarnya dengan senyuman khas gigi gingsulnya. “Aku duluan ya,” pamit Sabrina pada ketiga temannya yang terpaku dengan mulut melongo tak percaya. Dia melambaikan tangan lalu naik ke boncengan. Sagara menganggukan kepala pada ketiga gadis yang pernah mengerjainya di kafe. “Lho … lho … bukannya itu … Sagara?” ucap Santi seakan tengah bermimpi. “Gue nggak lagi mimpi, kan? Kenapa dia malah jemput si Saby?” rengeknya sambil mengentakan kaki. “Sabar, San. Barangkali belum jodohmu,” hibur Fany dan Alice, walaupun mereka merasakan kekesalan yang sama. ** “Kita mau kemana?” tanya Sabrina yang merasa asing dengan rute yang diambil oleh Sagara. “Ke rumahku dulu,” jawabnya singkat. Hati Sabrina memang sudah berbunga sejak tadi, tetapi kini rasanya dia tengah berada di tengah kebun tulip berwarna-warni. Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah rumah sederhana. Kecil, tetapi tampak asri dengan taman di depannya. Sabrina memindai setiap sudut halaman. Sangat tertata rapih, menunjukan jika penghuninya sangat gila dengan kerapihan juga kebersihan. Sagara mengetuk pintu lalu membuka dan mengajak Sabrina masuk. “Tunggu di sini, aku mau ganti baju,” ujar Sagara meninggalkan Sabrina di ruang tamu. Sebuah dehaman terdengar. Sabrina langsung menoleh. “Kamu?” Murni memasang wajah penuh tanya. “Saya, Sabrina,” jawab wanita berambut panjang itu. “Calon istri Sagara?” tanya Murni lagi yang sontak membuat Sabrina kaget. Untung saja Sagara segera datang. Kaus putih lengan pendek, juga celana selutut semakin menunjukan beberapa tato di tubuhnya. “Ayo, Saby. Ikut aku,” ajaknya. Sabrina masih tampak kikuk dengan keadaan itu. “Ayo!” Sagara mengulurkan tangannya. Murni tersenyum. Dia mengerti sekarang tanpa harus mendengar jawaban dari mulut wanita itu. “Mau ngapain?” bisik Sabrina sambil mengikuti Sagara yang menuntunnya ke bagian belakang rumah. “Kita masak. Aku sudah lapar,” jawabnya cuek. Dia lalu meninggalkan Sabrina yang berdiri di depan kompor, sementara dia sendiri mengambil sayuran juga telur dari kulkas. “Kamu mau bantuin atau lihat saja?” tanya Sagara sambil memasuka telur-telur yang sudah dia pecahkan ke dalam mangkuk. “Mau bikin apa, sih?” tanya Sabrina. “Omelet.” Sagara dengan sigap mencacah aneka bawang, seledri, wortel juga daun bawang yang sudah dicuci. Murni menatap mereka dari ambang pintu. Hatinya sudah yakin jika sang putra telah melupakan masa lalunya. “Silahkan dinikmati,” ujar Sagara setelah omeletnya jadi. Dua piring nasi hangat tersaji di depan masing-masing. “Tidak perlu makanan istimewa untuk makan enak. Dengan siapa kita makan, itu jauh lebih penting,” ucap Sagara ketika mengambil potongan omeletnya. Sabrina lagi-lagi terpaku. “Ayo makan,” ucap Sagara setelah meletakan omelet di piring Sabrina. Wanita itu mengangguk dan mulai menikmati makanannya dalam diam. Kunjungan Sabrina tak lama di rumah itu, karena Sagara harus melatih beladiri setelah mengantar wanita itu pulang. “Saga,” panggil Sabrina kala lelaki itu hendak menyalakan motornya lagi. “Hmm?” Sagara menoleh. “Apa boleh aku menanyakan sesuatu?” Sabrina berucap ragu. “Iya, tanyakanlah.” “Tadi, ibumu menanyakan, apakah aku ini calon istrimu. Itu … itu ….” Sabrina tampak ragu. “Apa kamu keberatan?” Sagara balik bertanya. “Eh?” Sabrina kembali terperangah. “Apa kamu keberatan jika aku memang ingin menikahimu?” tanya Sagara dan membuat Sabrina benar-benar mati kutu. Next episode, Kita akan ungkap jati diri Sagara. Apakah dia akan kalah menghadapi keangkuhan dan kesewenang-wenangan Daniel? Atau ... justru Daniel yang akan bernasib buruk?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN