“Kak Saby, pacarnya Kak Gara ya?” tanya seorang anak berumur tujuh tahun bernama Aina. Dia bergelayut manja pada Sabrina sejak tadi. Bahkan anak itu minta dimandikan oleh wanita cantik itu.
Sabrina tertawa kecil. “Memangnya apa pacar itu?” tanya Saby.
Anak itu terlihat berpikir sesaat. “Emmh, itu yang cinta-cintaan. Peluk-pelukan,” ucapnya polos membuat mulut Sabrina melongo tak percaya.
“Kamu tau dari mana? Kata siapa pacaran pake peluk-pelukan?” selidik Sabrina.
Anak itu tersenyum malu-malu, lalu ditimpali ledekan oleh anak-anak lain. Riuh suara mereka membuat hiburan tersendiri bagi Sabrina.
Seorang anak menajamkan telinganya saat suara kentongan kayu dipukul dan melewati jalan depan rumah mereka.
“Nasi goreng!!” pekiknya sambil lompat dari atas sofa. Lalu, diikuti sorakan dari yang lain.
“Mau nasi goreng!” timpal yang lain.
“Panggil sana,” ujar Saby menyuruh seorang anak laki-laki yang tadi lompat-lompat. Anak itu langsung bersorak dan berlari ke luar sambil teriak memanggil tukang nasi goreng.
Sepuluh piring nasi goreng dipesan Saby. Anak yang masih kecil-kecil terlihat asik makan sepiring berdua. Ada juga yang berbagi dengan kakaknya.
“Ada yang masih mau nggak? Kalau nggak cukup, Kakak pesankan lagi buat kalian,” tawar Sabrina. Namun, anak-anak itu pada menggeleng. Hanya anak laki-laki yang sudah besar saja yang bisa menghabiskan sepiring penuh nasi goreng.
“Mas, tambah satu lagi, ya. Pake pedes aja,” pinta Sabrina setelah anak-anak sudah cukup dengan nasi goreng yang dipesannya. Dia lalu menyimpan bungkusan itu di atas bufet.
Sudah hampir jam sepuluh dan Sagara belum juga kelihatan batang hidungnya. Sabrina ingin pulang, tapi tak enak juga karena tadi sudah janji mau menunggu laki-laki itu untuk mengantarnya pulang. Apalagi anak-anak di rumah singgah itu kebanyakan sudah pada tidur. Anak-anak perempuan tidur di kamar, sedangkan yang laki-laki menggelar karpet dan matras di depan TV. Dan beberapa dari mereka pun sudah terlihat mengantuk.
Sabrina mengendap ke luar dan berniat menunggu di sana sejenak. Jika Sagara tak juga muncul, dia berencana memesan taksi online.
Tepat saat Sabrina memasangkan sepatunya, sorot lampu dari motor yang sangat dikenalnya terlihat. Suara motornya yang khas sedikit ribut, benar-benar dihapalnya. Sabrina langsung mendongak dan menatap lelaki yang baru saja melepas helm dari kepalanya.
“Aku baru saja mau pulang,” ujar Sabrina yang sudah siap dengan sepatu kanvasnya.
“Owh. Mau naik apa emang?” Sagara mengerutkan dahinya.
“Ya … tadinya mau pesen taksi online aja,” jawab Sabrina.
Sagara merapikan rambut bagian depannya yang tergerai menghalangi muka. Saat dia melepaskan jaket kulitnya terlihat kaos yang dia kenakan basah oleh keringat, sehingga roti sobeknya tercetak jelas di sana. Sabrina menelan salivanya berat.
“Tidak usah. Sebentar, aku minum dulu, setelah itu aku antar kamu pulang.” Sagara masuk ke dalam rumah. Sabrina kembali membuka sepatunya dan mengikuti Sagara ke dalam rumah.
Dia menatap lelaki itu yang meneguk segelas besar air putih yang ia tuang dari dispenser. Sagara sepertinya haus juga lapar.
“Aku tadi beli nasi goreng buat kamu,” ujar Sabrina dari ambang pintu. Sagara sontak menoleh.
“Eh?”
“Itu di atas bufet.” Sabrina menunjuk bungkusan yang tadi sengaja dia simpan di sana agar Sagara dengan mudah menemukannya jika dia sudah pulang. Bungkusan itu juga sudah berada di atas piring dengan sebuah sendok di sana.
Lelaki itu gegas mengambil bungkusan dalam kertas nasi berwarna coklat. Ketika dibuka, menguar wangi bawang dan bumbu lainnya.
“Waah, bikin tambah lapar,” ucap Sagara lalu membawanya ke sofa depan televisi.
“Kamu nunggu sebentar lagi nggak apa-apa, kan?” tanyanya seranya menyendok nasi dan menyuapnya dengan rakus. Sabrina menggeleng sambil tersenyum. Wanita itu lalu duduk tak jauh dari Sagara menikmati nasi gorengnya.
Diam-diam Sabrina menatap lelaki itu tak berkedip. Wajah tampannya bukan hal yang wah. Masih banyak lelaki yang jauh lebih tampan darinya. Namun, kebaikan hatinya telah menyentuh jiwa Sabrina.
Sagara yang mulai menyadari diperhatikan, menghentikan suapannya dan perlahan menoleh. Sabrina masih menatapnya tak berkedip dengan tatapan kosong.
Jujur, Sagara merasa risih dengan tatapan Sabrina.
“Kamu udah makan?” tanya Sagara mengembalikan kesadaran Sabrina. Wanita itu terlihat tak kalah kikuk dari lelaki yang ditatapnya.
“Eh, udah. Eh, belum.” Sabrina tampak gugup dan memalingkan muka.
Sagara malah tertawa melihatnya. “Jadi, kamu Cuma beli satu bungkus buat aku ini?” tanyanya.
Sabrina tersenyum dan mengangguk.
“Ya sudah, sini, makan berdua,” ajak Sagara yang membuat jantung Sabrina seolah lepas seketika dari dadanya.
Sabrina menggeleng cepat. Dia merasa benar-benar malu.
“Ayo, kita naik motor, lho. Dan angin malam sangat jelek jika bertemu dengan perut kosong. Nanti kamu bisa masuk angin.” Sagara menggeser duduknya hingga mereka tak lagi berjauhan.
“Haa,” ujar Sagara menyodorkan sesuap nasi goreng. Sabrina malah menatap lelaki itu sebelum akhirnya membuka mulut.
Sabrina benar-benar kikuk. Berulang kali dia mencuri pandang pada lelaki itu. Kenapa segalanya mendadak berubah indah?
“Untung saja belum kuhabisin. Coba kalau aku habisin, bikin anak orang sakit, nanti,” ujar Sagara lagi diselingi kekehan.
Jika waktu bisa diulang kembali, Sabrina akan memilih dipertemukan dengan lelaki sederhana ini, ketimbang dengan Daniel, walaupun mereka punya status sosial yang jauh berbeda.
Kini, Sabrina telah membuktikan, jika uang bukan jaminan kebahagiaan jiwanya. Dia justru bagaikan burung dalam sangkar emas, selama kebersamaannya dengan Daniel.
Suap demi suap telah beralih ke perut wanita itu. Hingga nasi goreng itu tandas tak bersisa.
“Kamu masih lapar? Nanti kita cari makan di jalan,” kata Sagara. “Ayo!”
Lelaki itu bangkit seraya mengulurkan tangannya. Betapa manis dan membuat Sabrina berbunga-bunga.
Kawasaki KLX itu meluncur membelah pekatnya malam. Entah kenapa kali ini Sabrina tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang lelaki itu. Senyumnya terkembang dengan hati yang berbunga.
**
Ponsel Sagara berdering. Dia baru saja kembali dari mengantar Sabrina ke apartementnya. Sagara tahu siapa orang yang menelponnya itu.
Terdengar tawa membahana di ujung sana.
“Pintar juga kamu bikin mantan istriku terpesona. Aku acungkan sepuluh jempol” ujar Daniel diselingi embusan napas kesal. “Tapi ingat, dia itu milikku. Kamu hanya perantara agar aku bisa memilikinya lagi. Jangan sampai kamu membuatku cemburu lebih besar daripada hari ini. Aku akan terus memantaumu,” pungkas Daniel terbahak lalu menutup sambungan teleponnya.
Sagara menyadari sesuatu. Lelaki angkuh itu rupanya telah memasang kamera pengintai di rumah itu.
“Sialan!” umpatnya lalu memindai setiap inci rumah itu demi mencari keberadaan kamera yang dipasang orangnya Daniel.
Crash!
Sebuah kamera hancur di ujung pedang Sagara. Dia kembali mencari, karena yakin kamera itu tidak hanya satu di sana.