Sabrina mematut wajahnya yang putih pucat di depan cermin. Seoles lipstick berwarna pink nude mewarnai bibir tipisnya. Dia kembali menatap wajahnya baik-baik, make up tipisnya sudah membuat wajahnya tampak cantik alami.
Fany meliriknya saat bangkit dari kursi di kubikelnya.
“Ciee, mau ketemu siapa, sih, pake dandan segala?” ledek Fany seraya menyelempangkan tasnya ke bahu.
Sabrina tertawa kecil. “Aku cuman mau pulang, biar nggak terlalu pucat,” jawabnya mencari alasan.
Fany mencebik. Dia tahu jika Sabrina jarang sekali memoles make up di wajahnya, apalagi jika hendak pulang.
“Ok, deh, terserah kamu. Bye!” Gadis berambut pendek itu melambaikan tangannya sebelum pergi.
Sabrina mengembus napasnya berulang kali. Entah kenapa hatinya mendadak berdentam kuat tak seperti biasanya. Taksi online yang dia pesan sudah datang. Dia kembali mengembus napas sebelum menaikinya. Sekeresek makanan yang sudah dibelinya tak lupa dia masukan ke mobil terlebih dahulu.
The Java coffee Shop and Eatery nama kafe tempat Sagara bekerja. Iya, Sabrina masih mengingatnya ketika Fany menyebut nama kafe itu. Tempatnya tepat berada si kiri jalan. Sabrina menyuruh sopir segera menepi.
Jantung wanita itu kembali berdebar cepat saat melihat pintu kaca kafe itu. Entah kenapa, rasanya seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Lucu, memang. Seumur-umur, lelaki yang dikenalnya dekat hanya Daniel. Cinta dan hidupnya hanya Daniel. Laki-laki yang justru menorehkan luka di tubuh juga batinnya.
Sabrina terpesona melihat kebaikan yang ditunjukan Sagara. Dulu, dia bahkan tidak yakin jika masih ada lelaki baik selain ayahnya di dunia ini.
“Silakan.” Seorang waitress menyambut kedatangan Sabrina dengan ramah.
“Apa ada Sagara?” tanya wanita berambut panjang itu malu-malu.
“Oh Sagara, dia kebetulan sudah habis waktu kerjanya. Apa ada yang bisa kami bantu? Pelayan yang lain juga masih bisa melayani,” ujar waiter dengan rambut diikat rapi.
Sabrina terlihat gelagapan. “Eh, bu-bukan begitu. Aku … aku mau memberikan ini pada Sagara,” ucapnya seraya menunjukan sekeresek besar makanan ringan.
“Oh,” timpal waitress itu walaupun sambil mengerutkan dahinya. “Dia lagi siap-siap pulang kayaknya. Nah, itu dia,” tunjuknya ke arah lelaki jangkung yang berjalan ke arah pintu ke luar.
Mata Sabrina menoleh ke arah wanita itu menunjuk. Sagara menghentikan langkahnya saat tatapan mereka bersirobok.
“Saga,” gumam Sabrina pelan menyebut nama lelaki itu.
“Hai.” Sagara menyapa. Dia belum sempat mencari wanita yang sudah menjadi perjanjian akan didekati dan dinikahi. Lelaki itu masih mencari alasan untuk sekedar bertemu. Ada rasa takut jka akhirnya malah menyakiti. Namun, dia kembali teringat dengan janji yang Daniel ucap, lelaki berwajah oriental itu berjanji akan merubah sikapnya.
“Hai,” balas Saby malu-malu. Wajahnya mendadak merona merah.
“Dari mana kamu tahu aku di sini?” tanya Sagara heran. Tangan kanannya membetulkan letak ransel yang bergeser.
“Dari … temenku.”
Sagara menaikan sebelah alisnya.
“Temenku kemarin ke sini dan dia bilang soal kamu. Aku yakin itu kamu,” ungkap Saby dengan wajah memanas.
“Owh.” Sagara menjawab singkat. “Emh, aku udah mau pulang. Apa kamu mau lanjut nongkrong di sini?” tanya lelaki itu.
Sabrina menggeleng cepat seraya mengibaskan tangannya. “Nggak. Aku justru nyari kamu buat ngasihin ini,” ucapnya menunjukan keresek besar yang ditentengnya.
“Kemarin, aku mampir ke rumah singgah, tapi ternyata ….” Ucapan Sabrina menggantung dengan nada menyesal.
“Oh, ayo kita bicara di luar,” ajak Sagara menarik tangan Sabrina.
Waitress yang sedari tadi memperhatikan obrolan kedua orang itu tampak heran dengan sikap Sagara. Tak biasanya lelaki itu bersikap manis pada wanita. Biasanya dia selalu menjauh jika ada wanita yang mendekati. Dia melempar pandang pada Jenny yang sedang meracik kopi di balik meja barista. Wanita bercelemek coklat itu hanya mengedikan bahunya.
**
Sagara mengajak duduk di bangku yang ada di sepanjang trotoar setelah membeli dua buah minuman kaleng. Dia berikan pada Sabrina satu dan dia sendiri membuka salah satunya. Meneguknya sambil mendongak untuk menghilangkan hausnya.
“Kalian pindah kemana?” tanya Sabrina memulai obrolan.
Sagara berpikir sejenak. Dia tidak boleh sampai membuka rahasia jika tempat yang dipakai oleh anak-anak itu diberikan oleh Daniel.
“Ada. Nggak terlalu jauh dari tempat yang dulu,” jawab Sagara.
“Bagaimana kejadiannya? Kenapa bisa sampai kebakaran?” selidik Saby menatap pada lelaki di sampingnya.
“Entahlah. Eva bilang ada ledakan dari dapur. Mungkin dia lupa mematikan kompor atau apa. Yang jelas mereka bergegas menyelamatkan diri. Aku tak menyalahkan mereka. Anak-anak sebesar itu, mereka hebat karena bisa melakukan segala sendiri. Saling membantu dan saling menyayangi,” ungkap Sagara menerawang jauh.
Sabrina mengangguk setuju. “Aku kangen dengan mereka, makanya kemarin aku sempatkan ke sana. Aku sedih melihat bangunan itu tinggal puing-puing.”
Sagara menoleh. “Terima kasih,” ucapnya lirih.
Sabrina mengerutkan keningnya. “Untuk?”
“Sudah mau peduli dengan mereka. Orang-orang terbuang,” jawabnya pelan dan kembali menatap ke jalanan.
“Apa aku boleh mengunjungi mereka? Aku sudah belikan banyak makanan,” ujar Sabrina kembali menunjukan keresek itu.
“Tentu saja.” Sagara mengangguk. “Tapi, mungkin aku akan meninggalkanmu di sana nanti. Aku ada kelas Kendo malam ini. Kamu keberatan?” tanyanya dengan tatapan teduh. Jangankan Sabrina, siapapun yang melihat tatapan itu akan tenggelam di dalamnya.
Wanita itu terpaku sesaat, sebelum akhirnya kesadarannya kembali.
“Eh, tentu saja. Aku tidak keberatan. Kamu berlatih atau melatih?” tanya Sabrina.
“Dua-duanya.” Sagara tersenyum. “Sekalian cari uang untuk tambahan,” lanjutnya diselingi tawa.
“Ayo.” Sagara bangkit dan meminta kantong keresek dari tangan Saby.
“Pegangan!” ujar Sagara. Wajah Sabrina kembali merona.
Motor Kawasaki KLX hitam itu meluncur membelah jalanan yang mulai dipadati orang-orang sepulang kerja. Sabrina ragu-ragu berpegangan pada pinggang lelaki itu dengan hati yang berdebar. Tak pernah dia merasakan desir seperti itu sebelumnya, bahkan kepada Daniel.
**
Sebuah rumah yang cukup besar dan nyaman. Itu penilaian pertama di mata Sabrina tentang rumah singgah yang baru.
Riuh suara anak-anak yang berlarian di tengah rumah, juga ada yang asik menonton kartun di televisi. Mereka berhenti seketika saat melihat Sagara juga Saby sampai di ambang pintu. Beberapa anak bahkan menghambur dan memeluk kaki jenjang milik lelaki bertato itu.
“Kak Gara!” pekik mereka. “Waah sama Kak Saby ya.” Mereka lalu beralih memeluk Sabrina.
Wanita itu tertawa bersama anak-anak yang mengerumuninya.
“Sebentar. Kakak punya makanan buat kalian,” ujar Sabrina setengah berteriak memecah suara ribut anak-anak. Mereka langsung diam dan mengantri makanan dari tangan Sabrina.
Sagara menatap wanita itu dari kejauhan. Hatinya ragu. Apakah harus melanjutkan perjanjiannya dengan Daniel, atau membatalkannya? Dia takut, jika nanti akan menyakiti hati wanita itu. Pernikahan bukanlah mainan, pikirnya.
“Sabrina, aku tinggal dulu, ya. Nanti malam aku antar kamu pulang,” ujar Sagara membuyarkan Sabrina yang masih asik bercengkrama dengan anak-anak. Wanita itu mengangguk seraya mengangkat jempolnya.
**
Pikiran Sagara berkecamuk dalam setiap gerakan dan sabetan pedangnya kala berlatih. Haruskah menikahi wanita itu untuk menyelamatkannya dari kungkungan lelaki bermata sipit itu, atau justru memberi mereka jalan untuk kembali bersama seperti yang Daniel inginkan?
Braak!
Pedang itu terlepas dari tangannya. Napas Sagara tersengal dengan tatapan kosong.
Apapun tujuannya pernikahan itu harus tetap terlaksana.