Pagi-pagi Saby terbangun. Badannya terasa berbeda. Dia menyingkap selimut, lalu menutup mulutnya sambil mengulum senyum. Saby baru ingat dengan kejadian semalam. Perlahan dia berbalik dan menatap lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Sagara masih terlelap dan mendengkur halus. Saby menatap setiap inci wajah tampan itu. Mata lentiknya, hidung mancungnya, juga bibir tipisnya yang berwarna kemerahan. Saby akui, jika Sagara dan Daniel tak jauh jika dinilai dari segi ketampanan. Namun, Daniel sering bersikap kasar dan ringan tangan. Tidak bisa merasa kecewa apalagi cemburu. Berbeda dengan yang dia hadapi pada Sagara, kini justru dirinyalah yang sering merasakan kecemburuan itu. Sikap manisnya terlalu sering menarik perhatian para wanita, hingga banyak wanita yang mengidolakann

