Murni bergegas ke rumah sakit saat menerima telepon dari Sabrina. Wajahnya masih terlihat pucat, karena dia memang sedang sakit beberapa hari ini. “Bagaimana keadaan Gara?” tanya Murni dengan napas yang masih tersengal karena habis berjalan cepat. “Masih belum sadar, Bu. Moga sebentar lagi,” jawab Saby dengan wajah cemas. “Bagaimana ini bisa terjadi? Tidak mungkin orang itu tiba-tiba datang dan menghajar Sagara.” Murni duduk di sebelah ranjang besi itu. Sagara masih belum membuka matanya. Sabrina lalu menceritakan segala yang terjadi di apartmentnya tadi tanpa ada yang ditutupi. Murni melengos. Terdengar dengkuksan pelan dari mulutnya. Dia sudah ada rasa tak enak hati dari awal sang putra mengatakan ingin segera menikah. Suatu rencana yang terlalu cepat bagi seorang yang selama in

