Mempermalukan Suami
"Lihat ini, alamat rumah sudah aku temukan, kamu tinggal labrak aja ke sana." Dila menyodorkan sebuah tumpukan foto. Dengan perlahan Saras mengambil tumpukan foto tersebut, dan melihatnya satu persatu.
"Kamu terlihat begitu bahagia, Mas." Saras menatap foto tersebut satu persatu, rasanya sangat perih melihat suaminya sendiri tersenyum bahagia bersama wanita lain. Padahal ia yang menemaninya mulai dari nol hingga sesukses sekarang. Tapi justru dengan mudah Rayyan lupa akan perjuangannya.
Setelah itu Saras mengambil kertas yang berisi alamat rumah suaminya itu. Sedetik kemudian, Saras terkejut setelah mengetahui alamat tersebut. Rumah yang pernah Rayyan beli setahun yang lalu, bahkan sertifikat rumah itu adalah atas nama dirinya. Tanpa rasa berdosa Rayyan membawa istri barunya untuk tinggal di sana.
"Ini kan alamat rumah yang pernah, mas Rayyan beli setahun yang lalu," ucap Saras. Seketika Dila tersentak, itu artinya Rayyan sengaja membeli rumah itu untuk istri mudanya. Atau mungkin sengaja membawa istri mudanya untuk tinggal di sana agar mengirit biaya.
"Jadi kamu tahu kalau Rayyan membeli rumah itu?" tanya Dila. Akan sangat mudah jika Saras tahu kalau suaminya membeli rumah yang sekarang di tempati oleh istri muda Rayyan.
"Iya, sertifikat juga atas namaku," jawab Saras. Mendengar itu Dila menganggukkan kepalanya, terlebih sertifikat atas nama Saras. Akan sangat mudah untuk menghancurkan penghianat seperti mereka.
"Itu artinya kamu punya hak atas rumah itu, bahkan jika kamu mau, usir saja mereka," ujar Dila. Meski bukan dia yang mengalaminya, tetapi ia ikut geram dengan kelakuan Rayyan. Suami yang tak pernah merasa bersyukur.
"Iya, bahkan aku sudah menyiapkan surat gugatan cerai. Tak rela aku jika wanita itu ikut menikmati harta yang susah payah aku kumpulkan selama ini," ungkap Saras, beruntung hampir semua aset menggunakan atas nama dirinya. Dengan begitu, Saras akan mudah untuk menyingkirkan benalu seperti mereka.
"Bagus, aku suka dengan cara kamu. Diam tapi mematikan," ujar Dila. Ia benar-benar salut dengan sahabatnya itu, meski tersakiti tetapi tetap tegar. Ada kalanya seorang wanita berubah menjadi ganas jika sudah merasa tersakiti.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Kalau kamu butuh bantuan, kamu tinggal bilang saja," ujar Dila seraya bangkit dari duduknya.
"Iya, kamu tidak perlu khawatir," sahut Saras. Setelah itu ia mengantarkan Dila sampai di teras rumah.
Baru saja mobil Dila menghilang dari pandangan mata, tiba-tiba mobil suaminya sampai di halaman depan. Sejujurnya Saras sudah muak dengan suaminya itu, tetapi ia harus bertahan hingga pesta bayi itu datang. Karena Saras sudah menyiapkan kejutan untuk mereka.
"Sayang lagi ngapain." Rayyan berjalan menghampiri istrinya, tak lupa kecupan lembut di kening Saras. Namun, entah kenapa sekarang Saras justru jijik dengan sikap romantis suaminya itu. Padahal dulu Saras paling menyukainya, rasanya ada yang kurang jika Rayyan tidak melakukan hal romantis itu.
"Enggak, tadi Dila habis dari sini. Tumben jam segini udah pulang." Saras mengambil alih jas serta tas kerja milik suaminya itu. Setelah itu keduanya beranjak masuk ke dalam rumah.
"Iya, soalnya nanti sore aku harus ke luar kota urusan kerjaan," ujar Rayyan seraya terus melangkah, setibanya di ruang tengah pria berkemeja putih itu menjatuhkan bobotnya di sofa.
"Berapa lama, Mas?" tanya Saras.
"Enggak lama kok, paling cuma dua hari," sahut Rayyan, mendengar itu Saras hanya mengangguk. Saras yakin jika kepergian suaminya itu bukan untuk bekerja. Namun untuk menemui istri mudanya.
"Oh, kalau begitu aku siapkan baju dulu ya. Sama sekalian nyiapin air untuk mandi kamu," ujar Saras dan beranjak naik ke lantai atas.
"Oya, kamu nggak usah nyiapin baju. Soalnya di sana sudah ada baju yang dulu," ujar Rayyan. Tidak heran, karena Rayyan memiliki beberapa apartemen di setiap kota di mana perusahaannya berada.
"Oh, ok." Saras mengangguk. Setelah itu ia beranjak naik ke lantai atas, di mana kamar mereka berada. Saras akan menyiapkan air untuk mandi suaminya itu. Meski sudah muak, tetapi Saras harus bisa berpura-pura untuk memuluskan rencananya itu.
***
Hari telah berganti, dan hari yang ditunggu kini sudah tiba, di mana Saras akan datang ke acara pesta bayi suaminya bersama dengan istri mudanya. Pagi ini Saras sudah mempersiapkan semua, setelah semuanya siap, Saras bergegas pergi. Rasanya ia tidak sabar ingin segera sampai di sana.
"Siap-siap saja kamu, Mas. Setelah ini kamu akan merasakan akibatnya," gumamnya. Saras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat wajah para penghianat itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini mobil Saras sudah berhenti di pelataran rumah. Suasana nampak begitu ramai dan meriah, setelah memarkirkan mobilnya Saras bergegas turun. Perlahan wanita berjilbab itu melangkah menerobos para tamu yang datang.
Mata Saras menatap lurus, di mana suaminya tengah berbahagia dengan istri mudanya. Bukan itu saja, ibu mertuanya pun demikian, memang sakit tetapi Saras harus bisa kuat menghadapi itu semua. Kini Saras sudah berdiri tak jauh dari Rayyan serta keluarganya.
"Selamat ya, Mas atas kelahiran putrimu. Mudah-mudahan putrimu kelak tidak mengikuti jejak orang tuanya." Saras mengucapkan selamat kepada suami serta madunya itu. Seketika mereka terkejut melihat kehadiran Saras, terlebih Rayyan.
"Sa-Saras." Terbata Rayyan menyebut nama istrinya, bahkan lidahnya terasa kelu. Tubuhnya terasa lemas seperti tidak mempunyai tulang. Dan detik itu juga mereka menjadi pusat perhatian oleh tamu undangan yang datang.
"Kamu tidak perlu kaget seperti itu, Mas. Kedatangan aku ke sini untuk mengantarkan ini." Saras menyodorkan koper yang berisi baju milik suaminya, bukan itu saja. Saras juga menyodorkan sebuah amplop kepada suaminya itu.
"Saras maksud kamu ini apa?" tanya Rayyan ia benar-benar tidak tahu apa maksud istrinya itu. Melihat kedatangannya saja sudah sangat mengejutkan, bahkan jantungnya seperti berhenti berdetak. Tak pernah terbayangkan jika Saras akan hadir, dan yang membuat Rayyan heran, dari mana istrinya itu tahu tentang acara yang tengah ia adakan.
"Ini koper berisi baju milik kamu, Mas. Dan ini adalah surat gugatan cerai dariku. Oya satu lagi, karena sertifikat rumah ini adalah atas namaku, aku harap setelah acara selesai kalian pergi dari rumah ini. Karena aku akan menjualnya," jelasnya. Seketika Rayyan terkejut mendengar penjelasan dari istrinya itu. Bukan hanya Rayyan, tetapi istri serta keluarganya pun demikian.