"Kenapa diam, takut." Saras menatap tiga manusia yang berdiri di hadapannya itu, tak peduli dengan tatapan serta bisikan dari pengunjung resto yang lain. Saras sama sekali tidak takut, karena ia tidak merasa bersalah.
"Saras, ikut aku." Rayyan menarik pergelangan tangan Saras dan membawanya pergi dari tempat tersebut. Entah apa yang akan ia lakukan, hal tersebut membuat Alexa merasa geram. Sementara itu, Bima memilih untuk kembali duduk.
Kini Saras dan Rayyan sudah berada di taman yang berada tak jauh dari resto. Entah ada apa kenapa Rayyan tiba-tiba membawa istrinya itu menjauh. Mungkinkah Rayyan cemburu melihat Saras bersama dengan pria lain, tidak sadarkah dirinya yang sudah menghancurkan kepercayaan terhadap sang istri.
"Ada apa, Mas." Saras melepaskan tangannya yang Rayyan cekal. Entah apa yang akan suaminya itu lakukan.
"Apa benar pria yang bersamamu itu seorang pengacara?" tanya Rayyan. Sorot matanya menunjukkan jika lelaki itu cemburu saat melihat Saras bersama dengan pria lain.
"Iya benar, memangnya kenapa." Saras menjatuhkan bobotnya di kursi kayu yang berada di taman tersebut. Ia tidak takut jika Rayyan marah, selama Saras benar.
Rayyan ikut duduk di sebelah Saras. "Sampai kapanpun aku tidak setuju kita bercerai. Dan aku akan melakukan apapun untuk menggagalkan rencana kamu itu."
Saras tersenyum. "Silahkan saja, tapi perlu kamu ketahui. Aku sudah punya bukti perselingkuhanmu itu, terlebih kamu menikah lagi tanpa persetujuan dariku."
Mendengar itu d**a Rayyan kembang kempis menahan amarah. Ia memang sudah berbuat salah, tapi entah kenapa Rayyan selalu marah saat mendengar istrinya menyalahkan dirinya. Rayyan akui memang perbuatannya itu sangat fatal, dan tidak akan ada seorang istri yang rela dimadu.
"Tolong pertimbangkan lagi, selagi masih bisa kita perbaiki," ujar Rayyan. Ia terus berusaha untuk membujuk Saras agar mengurungkan niatnya. Tak rela jika nanti Saras dimiliki oleh orang lain, melihatnya di resto dengan pria lain saja Rayyan sudah cemburu, apa lagi jika sampai dimiliki.
"Aku rasa tidak ada yang perlu diperbaiki, jadikan ini sebagai pelajaran saja. Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang benar-benar menyayangimu. Orang yang tulus bersamamu dan memulai hidup dari nol sampai sukses. Dan aku harap kamu tidak akan pernah menyesal menikah dengan Alexa," ungkap Saras. Entah kenapa mendengar itu hati Rayyan terasa sakit.
"Kamu itu berpendidikan, Mas. Seharusnya kamu paham, wanita yang baik tidak akan pernah masuk ke dalam rumah tangga orang lain. Apa lagi sampai merusaknya, ingat anak kalian itu perempuan. Jangan sampai kelak mengikuti jejak orang tuanya." Setelah mengatakan itu Saras memilih untuk bangkit dan beranjak meninggalkan Rayyan yang masih diam mematung.
Perpisahan memang bukan jalan yang tepat, tetapi jika tidak ada kecocokan lagi, untuk apa dipertahankan. Dan seorang wanita diam bukan karena takut atau bodoh, tetapi diamnya seorang wanita itu untuk berpikir. Membalas sakit hati dengan cara yang cerdik dan elegan.
***
Hari demi hati telah berlalu, sore ini Dila berada di rumah Saras untuk menunjukkan bukti siapa Alexa yang sebenarnya. Dila memang pernah memberikan beberapa bukti tetapi itu belum cukup. Karena orang seperti Alexa pasti akan bermain curang itu sebabnya Dila terus mencari bukti yang kuat.
"Ini adalah beberapa bukti yang berhasil aku dapat, di sini juga ada data diri siapa Alexa yang sebenarnya." Dila menyodorkan flashdisk dan juga amplop yang berisi foto Alexa.
"Ok, entah apa yang harus aku bilang. Karena sampai saat ini kamu masih mau membantuku," ujar Saras. Keduanya memang sudah bersahabat sejak kecil. Beruntung karena sekarang Dila bisa membantunya.
"Santai saja, oya yang di flashdisk jangan sampai hilang. Karena bukti yang tersimpan di flashdisk sangat kuat," ujar Dila memberikan saran, ia sangat berharap semoga masalah Saras segera selesai.
"Iya, sekali lagi terima kasih ya," sahut Saras. Sementara Dila hanya mengangguk.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, udah sore." Dila bangkit dan berpamitan untuk pulang.
"Iya, hati-hati di jalan." Saras ikut bangkit dan mengantarkan Dila sampai di teras depan. Perlahan mobil yang Dila naiki melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Saat Saras hendak masuk ke dalam tiba-tiba sebuah mobil datang. Dengan terpaksa Saras menghentikan niatnya, mobil tersebut berhenti tepat di depan rumah. Selang beberapa menit seorang pria keluar yang tak lain adalah Rayyan. Pria berkemeja putih itu melangkah menghampiri Saras.
"Saras, maksud kamu apa menjual semua aset perusahaan kita. Kamu sudah gila apa! Kamu pikir mudah mendapatkan semua itu, iya!" bentak Rayyan. Matanya yang merah, memancarkan amarah yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
Saras cukup terkejut, tetapi ia harus tenang. "Kalau iya memangnya kenapa, Mas. Tok semua itu milikku, karena dari awal kamu sendiri yang sudah menyerahkannya untukku. Jadi terserah aku dong mau menjualnya atau tidak."
"Kamu bilang kenapa, untuk apa kamu menjualnya, hah!" bentaknya lagi. Kesabaran Rayyan benar-benar sudah dipermainkan oleh Saras. Wanita yang selama ini diam, tetapi sekali bertindak sangat mematikan.
"Karena aku tidak rela Alexa ikut menikmatinya. Aku ingin Alexa juga memulainya dari nol, sama seperti aku dulu. Jangan hanya mau enaknya saja, datang saat kamu sudah sukses," ujar Saras, mendengar itu Rayyan terdiam. Memang keduanya bertemu dan menikah setelah usia pernikahan Rayyan dengan Saras sembilan tahun.
"Kalau kamu benar-benar sudah menjualnya, ke mana hasilnya. Walaupun itu milikmu tetapi aku juga ingin tahu berapa hasil dari penjualan semua aset perusahaan kita," sahut Rayyan.
"Sudah habis, aku sudah menyumbangkan ke beberapa panti asuhan, dan juga masjid. Bahkan aku juga menggunakannya untuk membangun masjid di tempat yang memang belum tersedia," ungkap Saras. Jantung Rayyan rasanya ingin lepas saat mendengar jika hasil penjualan aset sudah Saras habiskan.
"Aku memang menjualnya, tapi tidak untuk aku nikmati. Aku memberikan pada orang yang benar-benar membutuhkannya. Dan untuk Alexa, jika dia benar-benar mencintaimu dia pasti akan mau berjuang, sama sepertiku dulu," jelasnya. Rasanya seperti mimpi, dan Rayyan berharap jika yang Saras katakan semua itu hanya mimpi.