Anjani menangis tersedu di kursinya. Tangis itu begitu menyayat. Bagaimana tidak? Bila hatinya hancur tak berkeping. Sudah tak berbentuk lagi. Hancur membentuk serpihan. Apa sampai di sini ia merasakan cinta? Apa sudah tidak ada kesempatan lagi baginya untuk bersama Arsya? Anjani menangis semakin dalam. Ia menunduk dengan dua tangan yang ia tutupkan pada muka. Ia tak peduli jika nanti ada tamu, fokusnya adalah melepaskan rasa sesak dengan air mata. Arsya masih tetap bertahan di tempatnya. Usiran Anjani tidak digubris. Ia perhatikan sejak tadi tangisan Anjani. Kesedihan ikut ia rasakan. Keinginannya sejak tadi adalah mendekat pada Anjani, kemudian ia berikan pelukan hangat. Pelukan menenangkan. Juga ucapan bahwa dirinya tidak bersama perempuan lain selain Anjani. Arsya setia menunggu d

