55

2014 Kata

Anjani duduk di samping Sukma dengan gusar. Kakinya yang dilindungi dengan flat shoes mocca-nya terus saja ia ketuk-ketukkan pada ubin berwarna putih. Saat ini mereka sedang berada di depan ruang praktik dokter spesialis organ dalam di rumah sakit tempat Arsya bekerja. Mereka mendapatkan nomor antrian dua berkat nepotisme dari Arsya. Tak apa. Untuk kali ini Anjani memaafkan dirinya yang bermain nakal. Dan berharap semoga Allah memahami kegundahan hatinya sehingga membuatnya memilih tindakan curang itu. Anjani mengalungkan lengan ibunya di lengannya saat nomor mereka dipanggil. Jantung Anjani bertalu tak tenang. Bahkan wajahnya juga pucat. Padahal Sukma terlihat tenang-tenang saja. Yah meskipun wajah ibu dua anak itu juga terlihat lemas. “Selamat pagi, Bu Sukma. Apa kabar hari ini?” ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN