Rompang 8

2231 Kata
Assalamu'alaikum. Selamat pagi. Selamat hari Senin. Semoga aktivitas hari ini berjalan dengan lancar ya. Aamiin. Jika bingung dengan alurnya, coba dibaca dengan baik-baik ya. Insya Allah nanti akan paham arahnya. Hehehe Terima kasih. Happy reading!! Ketukan pintu di siang hari, membuat Sukma mengernyit heran. Ia mendongak menatap jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 1.20. Biasanya Anjani sudah tiba di rumah sekitar pukul 1.15, tetapi Anjani tidak pernah mengetuk pintu. Putri sulungnya itu akan langsung masuk ke rumah dengan mengucap salam cukup keras. Sukma menghentikan gerak kakinya di mesin jahit manual yang sudah menemaninya selama ini. Ia beranjak dari kursinya untuk menuju ke depan. Di tengah-tengah ruang tamu—yang sejajar dengan pintu utama rumah, langkah Sukma terhenti. Kakinya seperti terjebak dalam tanah lumpur. Tubuhnya benar-benar terpaku. Sedangkan di dekat pintu berdiri seorang wanita muda yang menggendong bayi. “Bu,” panggil wanita itu dengan suara tercekat. Sukma masih berdiri diam di tempatnya. Matanya berkaca-kaca. “Nduk.” Sukma balas memanggil putri bungsunya yang sangat lama tidak ia temui. Terakhir saat pernikahan Anjeli. Sukma masih bertahan di posisinya. Tubuhnya benar-benar seperti tertancap di bumi. Anjeli juga tidak dapat membendung air mata yang sudah tertahan sejak ia menginjakkan kaki di rumah yang penuh kenangan ini. “Anjeli.. boleh masuk, Bu?” tanyanya dengan suara serak dan tersendat. Sukma mengangguk. Kakinya seperti lumpuh dan menempel di tempat. Ia kemudian menyambut putrinya dengan pelukan. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Sepertinya hampir dua tahunan. Bahkan ia pun tidak tahu jika Anjeli hamil dan sudah melahirkan. Ikatan keluarga mereka sepertinya benar-benar mulai merenggang sejak perpisahannya dengan Purnomo. Anjeli mencium tangan ibunya setelah pelukan di antara mereka lepas. Dengan dituntun Sukma, ia duduk di salah satu sofa. “Anjani tidak di rumah, Bu?” tanya Anjeli karena melihat rumah yang sangat sepi. Rasanya berbeda 180 derajat dengan saat mereka masih tinggal berempat. Sudahlah. Mengenang masa lalu semakin membuat sesak. “Tadi sebelum berangkat dia ijin akan pergi dengan Nabila membeli beberapa barang untuk hadiah lomba memperingati hari kemerdakaan,” jawab Sukma. Ia memilih duduk berdampingan dengan putrinya. Sesekali ia melongok untuk melihat cucunya. “Putih bersih. Hidungnya juga mancung. Ada beberapa bagian wajah yang mirip kamu,” kata Sukma. Anjeli membalasnya dengan lengkungan senyum. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Sukma pun memandang Anjeli heran. “Oh iya, kamu ke sini sendiri? Mana suamimu?” Sukma seakan baru tersadar akan kedatangan Anjeli yang hanya seorang diri. Anjeli menghembuskan napas dengan panjang dan perlahan. Dengan tangis sedu sedan, ia menceritakan semua yang terjadi pada hidupnya. Sukma segera memberikan pelukan hangatnya untuk menguatkan Anjeli. “Jadi, Anjeli ingin minta tolong pada Ibu untuk merawat Putri,” pintanya dengan suara lirih setelah tangisan di antara mereka mulai mereda. “Maaf jika Anjeli hanya datang kepada Ibu di saat-saat seperti ini,” lanjutnya. Ia sebagai anak sadar betul bahwa dirinya bisa dikategorikan sebagai anak kurang ajar, tidak tahu diri, bahkan mungkin durhaka. Namun, hanya ibunyalah yang terbersit di pikirannya saat ini untuk ia mintai pertolongan. “Sampai kapan, Nduk? Kamu tahu kan bagaimana Anjani selama ini?” Anjeli menghembuskan napas panjang lagi. Ia sangat tahu jika Anjani sudah tidak pernah respect lagi dengannya. Itu semua juga karena kesalahannya. Kesalahannya yang tiba-tiba menjaga jarak dan memilih hidup dengan dunia barunya. “Lalu, Anjeli harus minta tolong pada siapa, Bu?” tanyanya putus asa. Sukma diam. Otaknya masih berpikir keputusan apa yang paling tepat untuk dilakukan saat ini. “Kamu titipkan Putri di sini. Biar Ibu yang membujuk Anjani nanti.” Anjeli merasa lega, sangat lega. Ia mengucap beribu terima kasih dan permohonan maaf. “Bu, tetapi.. Anjani jangan dulu tahu alasan yang sebenarnya, ya. Anjeli merasa belum siap jika melihat Anjani terpuruk, dan mungkin akan semakin membenci ayah dan Anjeli.” Sukma mengangguk. “Kalau begitu, kamu lekaslah kembali sebelum Anjani pulang.” Bukan bermaksud mengusir. Namun, ia tidak ingin terjadi keributan antara Anjani dan Anjeli jika mereka bertemu. Urusan Anjani biar ia yang menanganinya. Anjeli mengangguk patuh. Sebelum ia pergi, ia mengucap terima kasih dan permohonan maaf kepada ibunya. Tidak lupa, ia juga mencium putrinya berulang kali. Ia pasti akan merindukan putrinya itu. *** “Bil, kamu masih ingat saat kita ke mall, di kelas 11, yang membeli buku soal-soal kumpulan olimpiade kimia?” tanya Anjani. Saat ini, mereka sedang makan siang di kantin sekolah bersamaan dengan jam istirahat. Beruntungnya, meja untuk guru disediakan juga oleh pihak kantin sehingga privasi mereka tetap terjaga. Nabila tampak merenung sambil mengunyah siomay yang ia pesan sebagai pengganjal perut sebelum soto ayam pesanannya datang. Ia berpikir cukup lama karena harus menggali memori yang telah lama terjadi. Setelah berpikir beberapa saat, Nabila mengangguk. “Yang kamu tiba-tiba diam dan memperhatikan sebuah keluarga itu?” tanya Nabila memastikan. “Iya,” jawab Anjani singkat. “Sore itu setelah aku merasa lebih baik, aku berbincang dengan ibu. Dan ternyata selama itu ibu sudah tahu jika ayah menikah lagi. Keluarga yang saat itu kuperhatikan adalah keluarga baru ayah.” Anjani kemudian melanjutkan ceritanya. Tidak lupa ia juga menceritakan tentang kedatangan Anjeli. “Jadi, kakakmu hanya datang ke kalian saat sedang butuh saja?” Anjani mengangguk kesal. Mengingat hal itu membuatnya ingin marah. Ia menusuk-nusuk pentol dagingnya dengan kuat sebagai pelampiasan akan jalan hidup yang terjadi padanya. “Kakak kamu tega banget. Dia juga seenaknya sendiri,” dumal Nabila ikut kesal. “Kamu yang tahu dari cerita saja marah, apalagi aku yang mengalaminya.” “Terus sekarang kamu dan Tante Sukma yang mengurus anaknya Kakak kamu?” “Ibu, sih. Aku memegang saja malas,” jawab Anjani kesal. “Tapi kasihan Tante Sukma kalau hanya beliau yang mengurus anak Kakak kamu. Kamu coba mulai biasakan diri dengan kehadiran bayi itu. Bayi itu nggak salah, Jan. Jadi, jangan lampiaskan kemarahanmu yang seharusnya kamu tujukan pada ibunya malah kamu tujukan pada anaknya. Lakukan demi Tante Sukma, bukan untuk kakakmu,” saran Nabila. Ia memang kesal dengan kakak Anjani, tetapi melihat seorang ibu harus kelelahan, ia tidak tega. Anjani menghela napas lelah. “Akan ku coba, Bil. Terima kasih ya sarannya.” Tidak salah mereka bersahabat dan terus menjaga keawetan hubungan mereka selama ini. Mereka benar-benar saling memahami dan mengerti. *** Masa Sekarang “Sampai kapan kita akan terus seperti ini, Dek?” tanya Arsya lemah. Terkadang ia merasa lelah dengan status mereka yang disembunyikan dari rekan-rekan di sekolah. Saat ingin menunjukkan perhatian, ia harus tersadar bahwa mereka menjalani backstreet. Ia ingin menjadi laki-laki yang bebas memberikan perhatian, kasih sayang, dan cinta pada perempuan yang ia pilih tanpa dibayang-bayangi oleh rasa tak enak hati. “Mas!! Kamu masih ingat kan dengan syarat yang aku ajukan saat aku menerima kamu?” balas Anjani tegas. “Aku tidak siap mendapatkan ledekan dari rekan-rekan guru. Belum lagi jika kita ada masalah, malah semakin membuat runyam, Mas,” lanjutnya meyakinkan Arsya. “Aku ingat, Dek. Sangat ingat. Namun, sampai kapan? Apa kamu mau stuck seperti ini terus? Kamu tidak ingin meningkatkan hubungan kita menuju jenjang yang lebih tinggi?” “Ingin, Mas. Siapa yang tidak ingin menikah dengan orang yang tepat dan kita sayangi? Namun, aku belum siap menunjukkan pada teman-teman bahwa selama ini kita menjalin hubungan.” “Belum siap berarti akan ada waktunya siap, Dek. Namun, jika kamu hanya diam di tempat dan tidak bergerak, kamu akan belum siap terus. Tidak ada perubahan. Jikalau banyak yang meledek, apa hanya kamu yang diledek? Ada aku juga disitu, Dek. Atau kamu malu karena menjadi kekasihku?” “Mas!! Jangan ngomong seperti itu. Tidak pernah terbersit di pikiranku jika aku malu memiliki kekasih seperti kamu. Kamu lelaki hebat dan terbaik. Kamu adalah laki-laki yang begitu mengerti aku,” kata Anjani jujur. Ia memandang kekasihnya dengan tatapan yang dalam dan tulus. “Mas, jika kamu tidak meragukan rasa sayang dan cintaku ke kamu, kamu mau lebih bersabar kan? Kamu mau menambah stok sabar untuk aku kan?” Anjani menggenggam tangan Arsya. Ia ingin meyakinkan kepada lelakinya bahwa jika waktunya tiba, ia akan memberi tahukan pada semua orang jika mereka adalah sepasang kekasih. Arsya tidak mampu menolak bahkan mengalihkan netranya dari pandangan Anjani yang dalam itu. Ia pun hanya mampu mengangguk patuh. Ia selalu kalah dengan bujuk rayu Anjani. “Tapi kamu janji kan tidak akan pernah berpaling dariku? Aku takut kamu menunda-nunda orang tahu hubungan kita karena kamu juga sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain,” ucap Arsya sambil menunduk dalam. Matanya sendu. Ia tidak rela jika Anjani memilih dengan laki-laki lain. Tidak akan pernah rela. Tingkah Arsya membuat Anjani melengkungkan senyum merekahnya. Ia selalu merasa terhibur kala melihat ekspresi Arsya yang sedang cemburu—atau mungkin rendah diri—atau mungkin lebih kepada rasa tidak rela jika ia memilih laki-laki lain. “Memangnya aku tipe perempuan yang bisa berbagi hati ya, Mas? Wong wajahku ini wajah anti-pati sama laki-laki,” kata Anjani sambil tertawa geli. “Iya. Dulu sama aku saja kayak mandang sesuatu yang tidak pantas untuk dipandang,” balas Arsya. Anjani tertawa bahagia. Ia tidak menyangka jika yang awalnya mereka seperti musuh, bukan lebih tepatnya dirinya yang memandang Arsya seperti musuh atau kuman yang memang harus ia hindari ternyata saat ini mereka telah menjadi sepasang kekasih. Kekasih yang selalu berbunga-bunga dan seperti jatuh cinta sepanjang waktu setiap bertemu. Anjani mengusap punggung tangan Arsya lembut. “Tapi sekarang kamu adalah laki-laki terbaik dan selalu di hatiku. Mana pernah sekarang aku memandang kamu kayak gitu?” Arsya melengkungkan senyum lebarnya. Ia selalu bahagia. Ia juga tidak menduga jika setelah mereka menjalin hubungan, Anjani sungguh pandai sekali merayunya dengan kata-kata manis seperti itu. Arsya menjengit tiba-tiba. “Tangannya dilepaskan dulu, ya. Jangan pancing-pancing aku, jika kamu tidak ingin aku apa-apakan,” kata Arsya tegas. “Memangnya berani? Memang mau ngapain?” goda Anjani. “Dek!! Kalau kamu kayak gini terus, jangan marah kalau aku berbuat lebih dari biasanya,” ancam Arsya. Anjani pun menjauhkan tangannya dari tangan Arsya. Entah setan apa yang membuat Anjani selalu suka menempel-nempel pada Arsya, entah memegang tangan, menjawil-jawil, atau mencubit. Padahal dari awal, dirinya sendiri yang meminta dengan tegas pada Arsya supaya tidak ada kontak fisik yang berlebihan. Dan dirinya sendirilah yang melanggar permintaan itu. Beberapa kali ia suka menempelkan tangannya pada Arsya. Ia yang lebih dulu melakukan kontak fisik. Entah reflek atau memang dorongan dari dalam diri. Bukan Arsya tidak mau melakukan kontak fisik, tetapi ia takut tidak mampu menguasai diri. Ia laki-laki yang sudah akan menginjak usia 30 tahun meskipun tidak setua itu, tetapi ia punya hormon tubuh yang memberikan sinyal jika Anjani memegang tangannya dengan lembut. ‘Gitu saja kamu lemah, Sya. Belum jika pelukan atau ciuman, mungkin kamu malah tidak dapat menahan diri,’ ejek batinnya. Anjani pun melanjutkan menghisap sisa minumannya. Mereka baru saja makan malam di sebuah tenda yang berdiri di tepi jalan. Nasi penyet dengan lalapan menjadi pilihan menu makan malam mereka yang juga berfungsi sebagai teman kencan. Anjani dan Arsya tidak mempermasalahkan lokasi mereka makan, yang paling utama adalah mereka makan menu yang mereka sukai dan rasanya enak. “Nggak bungkus buat Ibu?” tanya Arsya. “Sudah pesan tadi. Mas mau bungkus juga?” tanya Anjani balik. Arsya menggeleng. Ia hendak mengatakan jika keluarganya sangat anti dengan makanan di pinggir jalan seperti ini, tetapi ia tidak ingin membuat Anjani tidak nyaman. Biarkan Anjani tidak tahu dulu. Menurutnya, ini bukan hal penting yang harus ia ceritakan. Anjani tidak bertanya alasannya. Ia tahu batasan. Meskipun mereka adalah sepasang kekasih, terkadang beberapa hal tidak harus diceritakan. Ada privasi dari tiap diri. Bukan masalah tidak terbuka, tetapi ada kalanya memang mereka membutuhkan suatu zona nyaman. Anjani menerima bungkusan pesanannya. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Sang Penjual. Setelah menghisap sisa terakhir minumannya, ia berjalan ke arah Sang Penjual untuk membayar pesanannya juga pesanan Arsya. Hal ini juga sering diangkat sebagai topik pembicaraan alot mereka. Tidak pernah sampai bertengkar, tetapi cukup membuat urat menonjol karena saling merasa kuat dengan argumennya masing-masing. “Dek, biar aku saja yang membayar setiap kita makan.” Anjani menggeleng dengan tegas. “Enggak!! Kamu boleh bayarkan pesananku, Mas. Tetapi di makan malam selanjutnya aku yang membayar.” “Kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu, Dek.” “Tidak salah memang, Mas. Tetapi Anjani kurang suka dengan konsep itu. Kita masih pacaran, Mas. Bukan sepasang suami istri. Aku belum menjadi tanggung jawab kamu. Jadi, tolong hargai keinginanku,” tegas Anjani. ‘Makanya kamu jangan minta backstreet terus, Dek. Biar aku juga bisa segera mengajak kamu ke jenjang yang lebih serius. Atau aku langsung melamar kamu, ya?’ gumam batinnya. ‘Selesaikan dulu semuanya sebelum kamu mengajak Anjani menikah, Sya,’ peringatnya tegas. Arsya menghembuskan napasnya panjang. Ia tidak membantah Anjani. Ia menghargai prinsip Anjani. Anjani kembali ke meja mereka setelah selesai melakukan transaksi pembayaran tiga porsi nasi ayam kampung dan dua gelas jeruk hangat. “Ayo pulang, Mas. Atau mau jalan-jalan dulu?” tawar Anjani. “Ibu tidak masalah jika hanya beliau saja bersama Putri?” Anjani tampak merenung. Di satu sisi ia merasa tak enak membiarkan ibunya di rumah bersama Putri terlalu lama. Di sisi lain, ia belum mau berpisah dengan Arsya. “Ehm.. kalau kamu mampir ke rumah saja gimana, Mas?” ajak Anjani. Sering sekali pilihan itu yang akhirnya menjadi pilihan mereka berkencan. Mengobrol banyak hal di ruang tamu atau teras rumah Anjani untuk menghabiskan waktu bersama. Selama ini mereka tidak masalah, yang paling penting adalah topik yang mereka bahas. Tempat yang indah hanyalah bonus, tetapi pembicaraan yang berbobot dan komunikasi yang saling nyambung adalah hal utama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN