Assalamu'alaikum.
Selamat Tahun Baru Islam. Semoga kita bisa menjadi insan yang selalu bisa meningkatkan iman dari waktu ke waktu. Aamiin.
Silakan diambil manfaatnya dan buang jauh-jauh hal buruk dari bab ini. Bab ini hampir tiga ribu kata. Saya juga tidak sadar karena telah menulis sebanyak itu :D
So, enjoy with this story.
Happy reading!!
“Assalamu’alaikum warah matullahi wa barakatuh.”
Ucapan salam dari suara bariton itu mendapatkan jawaban salam serempak dari rekan-rekan kerjanya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum lebarnya atas respons yang diberikan oleh rekan-rekannya. Ia bahagia karena rapat perdana Panitia Pelaksana Ujian Tengah Semester (UTS) disambut dengan semangat menggebu.
“Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak dan Ibu Panitia Pelaksana UTS yang bersedia hadir pada rapat perdana hari ini.” Arsya melanjutkan dengan penjabaran konsep pelaksanaan ujian tengah semester yang akan dilakukan.
Rapat berlangsung kurang lebih satu jam. Diskusi berjalan dengan lancar. Konsep yang sudah dicanangkan oleh pihak kurikulum sekolah diterima dengan baik oleh panitia. Ada juga beberapa saran yang ditambahkan.
“Bu Anjani, bisa kita bicara sebentar,” pinta Arsya saat melihat Anjani membereskan piring sisa makan snack yang ada di mejanya. Sedangkan panitia lain sudah keluar ruangan rapat beberapa waktu yang lalu.
Anjani memandang Arsya dengan ragu. Wajahnya pun menunjukkan kejutekan. Jujur saja, nyali Arsya sedikit menyusut melihat tatapan Anjani yang seperti malas diajak berbincang dengannya.
“Ehm.. saya ingin berbincang tentang anggaran dana yang harus dibuat,” ucap Arsya melanjutkan.
Anjani mengangguk. Ia mempercepat kerja tangannya yang membersihkan meja dengan tisu. “Bisa minta tolong agar Pak Arsya duduk di meja sebelah sana saja,” pinta Anjani tegas. Anjani juga menunjukkan meja yang dimaksud. Berjarak satu meja dari Anjani.
Arsya tidak menolak. Ia manut saja pada permintaan Anjani daripada pelaksanaan ujian akan terhambat. Hatinya merasa sedikit tertohok karena Anjani seperti menjaga jarak dengannya. Ia merasa seperti sesuatu yang harus dijauhi dan dihindari saja padahal ia tidak pernah membuat salah dengan rekan kerjanya itu. Atau sapaannya yang terlalu centil di pagi hari membuat Anjani risih dengan kehadirannya?
“Jadi, Pak Arsya ingin membahas tentang apa?” tanya Anjani dengan tatapan tegas dan mengintimidasi.
Arsya tentu tidak merasa terintimidasi sedikit pun. Ia membalas tatapan Anjani tak kalah tegas. Namun, terselip sedikit kelembutan di dalamnya.
“Jujur saja, ini pengalaman pertama saya menjadi ketua Panitia Pelaksana Ujian Tengah Semester. Saya tidak memiliki gambaran sedikit pun mengenai hal ini. Apalagi tentang rincian keuangan, lalu untuk hal itu bagaimana ya, Bu?”
“Saya sudah sempat minta file rincian anggaran UTS semester lalu pada Bu Tutik. Saya juga sudah membuat rincian baru untuk pelaksanaan UTS semester ini. Silakan Bapak lihat.” Anjani mengangsurkan beberapa lembar kertas hasil print yang berisi angka-angka. Arsya mengamati setiap angka itu dengan teliti. Dalam hati, ia memuji ketangkasan Anjani. Meskipun Anjani adalah guru yang sering memasang wajah garang pada laki-laki, ternyata kerjanya sangat cepat. Tidak perlu diperintah, ia sudah tahu tugasnya.
“Saya sudah sesuaikan dengan rancangan UTS semester ini. Jika ada beberapa hal yang belum saya masukkan atau dirasa kurang, Bapak bisa menyampaikan pada saya,” kata Anjani.
Arsya mengangguk. Ia kembali mengamati angka-angka yang tercetak di lembaran kertas putih itu. “Saya rasa semuanya sudah tidak ada masalah, hanya mungkin perlu ditambahkan anggaran untuk konsumsinya 1.000 atau 2.000 begitu,” saran Arsya. “Karena saya merasa jika nilai konsumsi terlalu rendah, saya takut banyak yang memberikan protes apalagi durasi pelaksanaan ujian ini cukup lama.”
Anjani mengecek lembaran kertas yang ada di tangannya. Anggaran untuk snack sebesar 3.000 rupiah dan nasi bungkus 6.000 rupiah. “Nanti saya coba bicarakan dengan bendahara sekolah terlebih dahulu, Pak.”
Arsya mengangguk. Setelah itu, ia mencukupkan perbincangan mereka. Ia juga mempersilakan pada Anjani untuk keluar ruangan lebih dulu. Arsya menghela napas panjang ketika punggung Anjani mulai berjalan menjauh meninggalkan ruang rapat.
“Memang aku pernah melakukan kesalahan apa sehingga dia seperti enggan berbincang denganku?” gumam Arsya sambil menggeleng-geleng. Ia pun merapikan penampilannya sejenak sebelum meninggalkan ruang rapat mengikuti Anjani.
***
Dada Anjani terasa sesak. Apa sesakit ini ketika ada orang lain yang mengucapkan kata-kata tidak enak untuk didengar kepadanya? Apa sesakit ini perasaan orang lain ketika ia berkata asal ceplos. Air matanya terus menetes, tak berhenti.
Di pojok perpustakaan yang siang ini sepi dari siswa karena siswa sedang diliburkan, digunakan Anjani untuk menumpahkan segala rasa sesak yang menghimpit d**a. Sedu sedan tangisnya membuat perpustakaan sedikit hidup meskipun suasana sedih yang melingkupi.
Arsya yang melintas di depan perpustakaan setelah dari kamar mandi pun menghentikan langkahnya. Ia menajamkan pendengarannya. Bukan ia takut akan adanya sosok makhluk ghaib, tetapi ia ingin mengecek apakah ia tidak salah mendengar suara tangisan. Ia melepas alas kakinya dan meletakkannya di rak sepatu depan perpustakaan. Ia mulai melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Ia mencari sumber suara tangis yang sepertinya berasal dari pojok perpustakaan. Di pojok kanan, ia tidak melihat siapa pun, kemudian ia beralih ke pojok kiri. Terlihat seorang perempuan yang menumpukan kepalanya di atas lutut. Jika dilihat dari kerudung dan perawakan tubuhnya, Arsya sepertinya tahu siapa perempuan itu.
Arsya memilih berdiri dengan memberikan jarak agak jauh dari Anjani. Ia bersandar pada rak buku yang paling ujung, sedangkan Anjani menangis di sisi pojok ujung ruangan. Sambil bersandar, ia mengamati gerak bahu Anjani yang bergetar. Ia juga ikut merasakan kesedihan dari suara tangis Anjani.
Cukup lama Anjani menangis, hingga matanya terasa lelah. Ia mulai mengangkat kepalanya dari lutut. Bola matanya seketika membesar kala melihat Arsya berdiri tidak jauh darinya. Dengan cepat, ia mengusap air matanya yang masih tersisa.
“Hal berat apa yang membuat tangisanmu sangat menyayat?” tanya Arsya.
Anjani memandang Arsya dengan tajam. “Bukan urusan, Bapak,” jawabnya. Ia dengan cepat berdiri dari duduknya. Anjani memilih melewati lorong-lorong yang penuh dengan buku yang tidak ada Arsya. Ia tidak ingin berurusan dengan orang lain. Biarkan saja masalahnya ia yang menyelesaikan.
“Masalah yang berat bisa saja kita pendam sendiri, tetapi apa kamu siap menanggung segala sesak yang mungkin akan semakin menumpuk dari waktu ke waktu? Bicara dengan orang lain yang mungkin memahami dengan permasalahan kita, mungkin bisa sedikit meringankan beban yang ada.”
Ucapan Arsya menghentikan langkah Anjani yang hendak mencapai pintu. Ia memutar tubuhnya. “Terkadang manusia memang sangat suka sekali mencampuri urusan orang lain,” sindir Anjani tegas.
“Lalu, hal apa yang harus dilakukan oleh manusia lain agar tetap dianggap sebagai manusia yang memanusiakan manusia lain? Tindakan apa yang bisa dilakukan agar kita tetap dianggap manusia sosial?” balas Arsya.
Anjani mengumpat dalam benaknya setelah memahami maksud pertanyaan Arsya yang menohok. Benar apa yang dikatakan Arsya. Sering kali, ia merasa bahwa orang lain memang membutuhkan waktu kesendirian. Namun, ada kalanya manusia juga membutuhkan manusia lain. Memang sedikit susah memahami jalan pikiran setiap orang. Tidak peduli dinilai salah. Giliran peduli terkadang dinilai terlalu ikut campur.
Arsya melengkungkan senyum yang sangat kecil. Senyum itu bahkan tersamarkan. “Jadi bagaimana? Apa mau membagi hal berat itu kepadaku?” tawar Arsya lembut. Tidak ada rayuan. Hanya tawaran kecil yang bisa saja ditolak kapan pun.
Anjani menimbang baik dan buruknya. Ia hendak menolak, tetapi ia mau bercerita kepada siapa lagi. Kepada Nabila, pasti sahabatnya itu juga sedang repot dengan urusan raport. Kepada Sukma, ibunya pasti juga sudah dibuat lelah dengan kesibukannya menjahit dan mengurus Putri.
Anjani menyalahkan kerja sistem sarafnya saat ia dengan ringan mengangguk. Ia ingin mengetuk kepalanya yang tiba-tiba mengangguk tanpa beban. Hendak mengurungkan niat pun rasanya sudah terlanjur mengiyakan tawaran itu. Jika kabur dari pilihan yang ia buat, itu sangat bukan dirinya sekali.
“Mau bicara di mana kita? Di sini saja?”
Anjani jadi salah tingkah. Ia juga canggung. Selama ini, ia sudah membangun benteng yang kokoh agar tidak berurusan dengan laki-laki mana pun. Luka yang ditimbulkan karena ayahnya yang lebih memilih wanita lain masih belum sembuh betul. Hal itulah yang membuatnya selalu membentengi diri dari laki-laki. Siapa pun itu. Ia tidak ingin membuat hatinya terlanjur jatuh hati kemudian hanya dipermainkan. Ia tidak akan membiarkan hal itu. Cukup sudah ia melihat tatapan sendu dan sedih di netra ibunya, tidak dengan dirinya. Apalagi laki-laki itu Arsya. Sejak lama, bukan, sejak awal ia sudah sangat menjaga jarak dari rekan gurunya yang memiliki pesona sehingga membuat banyak perempuan terpikat itu.
“Ehm.. di sini saja tidak apa, Pak,” jawab Anjani kaku. Mereka hanya berbincang saat membahas tentang UTS. Dan ketika saat ini akan membicarakan hal di luar itu, rasanya agak aneh.
Arsya pun memimpin Anjani menuju ke jajaran kursi yang ditata mengular di dekat jendela. Selain agar dapat menghirup udara bebas yang lebih segar, pengunjung perpustakaan juga dapat melihat taman yang tertata rapi. Sehingga diharapkan, perpustakaan bukanlah tempat yang menjadi momok bagi siswa.
Anjani mengikuti Arsya dengan langkah berat. Batinnya tidak berhenti merutuki kebodohannya karena mengangguk begitu saja. Anjani akhirnya memilih duduk dengan jarak satu kursi di hadapan Arsya.
“Apa masalah yang sedang Bu Anjani begitu berat?” tanya Arsya memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka selang beberapa waktu tadi.
“Mungkin, menurut Bapak hal ini bisa saja tidak berat. Namun, entahlah. Hati saya rasanya tercabik-cabik karena kejadian hari ini,” kata Anjani dengan bola mata yang menerawang. Kemudian, dengan sedu sedan tangis, ia menceritakan kisahnya.
***
Anjani sudah siap di ruang kelas XI MIA 1. Ia duduk pada kursi guru. Di hadapannya ada laptop yang sudah tersambung dengan proyektor. Di sisi laptop, terdapat lembar kehadiran wali murid dan raport siswa. Berulang kali, ia mengecek penampilannya. Berharap penampilannya sempurna dan tidak ada yang aneh. Ia juga mengecek berulang kali tumpukan kertas di hadapannya. Ia tidak ingin ada celah bagi wali murid untuk memberikan komplain kepadanya.
Anjani melengkungkan senyum profesionalnya ketika ada salah satu wali murid dari siswa yang ia naungi hadir. Sebelum kepada inti pertemuan hari itu, Anjani sedikit mengajak Sang Wali Murid untuk berbasa-basi. Entah menanyakan kabar atau yang lainnya. Kurang lebih lima menit, mereka berbasa-basi. Anjani pun mulai menggiring topik pembicaraan pada inti. Ia menjelaskan perkembangan belajar siswanya dan juga menunjukkan kegiatan siswa dalam potensi—seperti ekstrakulikuler, hanya saja di SMA tempat Anjani mengajar istilahnya disebut dengan potensi—yang diikutinya melalui proyektor. Di akhir, ia akan memberikan laporan hasil belajar siswa, baik nilai akademis mau pun non-akademis.
Penilaian yang dilakukan di setiap ujian terdiri atas dua hal. Siswa tidak hanya mengerjakan soal-soal pengetahuan—materi pembelajaran di kelas, tetapi siswa juga harus mengerjakan suatu proyek yang terinteregrasi dengan mata pelajaran lain yang satu rumpun. Jika dilihat oleh mata orang awam, mungkin akan dinilai berat. Apalagi topik yang diambil untuk tugas proyek tersebut adalah topik yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Alasan paling utama adanya tugas proyek adalah agar siswa dapat merasakan merdeka belajar. Dapat belajar sesuai dengan topik yang ia pilih karena topik yang disediakan ada lebih dari satu. Selain itu, siswa juga dapat dengan mudah beradaptasi dengan kehidupan selepas mereka dari SMA. Seperti suatu teori yang dikemukakan oleh seorang ilmuwan, bahwa individu akan terbiasa melakukan sesuatu jika memang sudah terlatih atau melakukan kebiasaan itu secara berulang-ulang.
Selain itu, sistem penerimaan raport di sekolah Anjani, sedikit berbeda dengan sekolah lain. Biasanya, wali murid akan diarahkan untuk berkumpul di suatu ruangan atau di ruang kelas untuk mendapatkan informasi dari sekolah. Selepas dari hal itu, wali murid baru akan mendapatkan waktu untuk berbincang dengan wali kelas dan menerima raport putra atau putrinya. Di sekolah Anjani tidak seperti itu. Wali murid diberikan waktu dari pukul 9 pagi hingga dua siang untuk mengambil raport. Tidak ada acara sosialisasi yang diselenggarakan sekolah saat pengambilan raport. Wali murid dapat langsung menuju kelas putra atau putrinya dan berbincang dengan wali kelas tentang perkembangan anaknya.
Anjani merasa lega karena sudah sekitar 25 wali murid yang mengambil raport, tersisa lima raport yang belum diambil. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya agar rasa lelah sedikit menghilang. Saat mendengar langkah kaki yang mendekat ke kelas Anjani, Anjani segera memposisikan tubuhnya seprofesional mungkin.
Benar dugaannya, seorang ibu-ibu dengan make up yang cukup tebal datang memasuki kelas. Dengan langkah tegap dan tatapan mendominasi ia berjalan menuju kursi yang ada di hadapan Anjani.
“Selamat siang, Bu,” sapa Anjani disertai senyum lebar.
Ibu tersebut membalas sapaan Anjani dengan muka bak ibu-ibu sosialitasi yang meremehkan lawan bicaranya yang tak sepadan dengan mereka. “Saya tidak ingin basa-basi. Kedatangan saya ke sini untuk memprotes Bu Anjani karena meminta anak saya untuk menghubungi guru mata pelajaran terkait karena nilai yang diberikan adalah D. Sedangkan anak saya selalu mengerjakan setiap tugas dan soal-soal yang diberikan,” kata ibu tersebut setelah duduk di hadapan Anjani. “Tadi suami saya yang sudah datang ke sini, kemudian putra saya menghubungi Ibu karena nilai yang dia dapatkan tidak sesuai dengan hasil kerjanya. Lalu saat saya mendengar penjelasan putra saya, saya dengan segera memutuskan untuk datang ke sekolah.”
Anjani sedikit bingung. Namun, dengan cepat otaknya dapat kembali bekerja. “Mohon maaf, ananda atas nama siapa, nggih?” tanya Anjani sopan dan lembut.
Ibu tersebut menyebutkan nama putranya. Anjani pun melengkungkan senyum sopannya. “Baik, jadi kedatangan ibu ingin memprotes akan nilai mata pelajaran apa?”
“Matematika untuk tugas proyek. Anak saya bilang bahwa dia sudah mengerjakan dan mengumpulkannya pada link pengumpulan tugas proyek,” wajah ibu tersebut memandang Anjani tajam dan tak bersahabat. Anjani sudah terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu, ia pun tidak terlalu ambil pusing dan tetap menanggapi salah satu wali murid itu dengan profesional.
“Saya bantu cekkan pada link pengumpulan tugas proyeknya nggih, Bu.” Jari-jemari dan netra Anjani mulai terfokus pada laptop di hadapannya. Ia kemudian menggulir sebuah halaman driver penyimpan dan menunjukkan pada ibu tersebut.
“Itu, ada nama anak saya disitu. Lalu bagaimana bisa nilai anak saya jadi D, Bu?” Ibu tersebut memprotes Anjani dengan kasar. “Dan bisa-bisanya Bu Anjani meminta anak saya yang menghubungi guru mata pelajarannya. Seharusnya, Bu Anjani sebagai wali kelas yang bertugas untuk menghubungkan murid dengan guru mapel. Bukan malah melimpahkan permasalahan itu kembali ke murid. Jika seperti itu, lalu apa tugasnya Bu Anjani sebagai wali kelas?” Komentar ibu yang ada di hadapan Anjani saat ini benar-benar menohok ulu hatinya dengan kuat. Dadanya tiba-tiba terasa sakit dan sesak.
Ia menyadari kesalahannya setelah mendengarkan teguran tegas tersebut. Ia sadar bahwa ia ceroboh karena tidak mencocokkan antara link pengumpulan tugas dengan nilai yang disetorkan oleh guru mapel padanya. Di sisi lain, ia juga menyalahkan guru mapel yang kurang teliti dalam menilai. Ah, menyalahkan orang lain karena kesalahan yang juga ia buat terasa kurang tepat.
“Iya, Ibu. Saya mohon maaf atas keteledoran saya,” ucap Anjani pelan sambil menahan tangis yang hendak keluar.
“Jangan hanya meminta maaf, Bu. Lain kali, Bu Anjani harus lebih teliti dalam memasukkan nilai. Jangan langsung memasukkan nilai tanpa cross check terlebih dahulu. Jika sudah seperti ini, siapa yang dirugikan? Tentu saja anak saya. Lalu, apa tindakan sekolah yang akan diberikan agar nilai anak saya bisa sesuai dengan hasil aslinya? Saat ini untuk masuk perguruan tinggi, nilai itu penting, Bu,” kata ibu tersebut dengan tajam.
Anjani mengatur napasnya tenang agar tidak ikut emosi. “Sekolah akan memberikan surat pemberitahuan atas perubahan nilai ananda, Bu. Surat tersebut akan ditanda tangani oleh kepala sekolah.”
Ibu itu pun mengangguk. Tidak ada ucapan terima kasih atau apa pun. Anjani pun tidak membutuhkan hal itu. “Saya juga PNS, Bu. Kerjanya bukan hanya salin tempel saja, tetapi juga harus meneliti semuanya.”
Sebelum ibu tersebut kembali berbicara panjang lebar, Anjani segera menyelanya. Biar saja ia dinilai tidak sopan, tetapi ia sedang membela harga dirinya. “Ngapunten nggih, Bu. Ibu boleh saja menyalahkan saya karena keteledoran saya, tetapi yang perlu ibu tahu saya bukan PNS. Bukan pula CPNS. Namun, bukan berarti saya mengerjakan sesuatu asal-asalan. Sekali lagi saya mohon maaf ya, Bu. Meskipun saya bukan PNS, saya akan berusaha melakukan pekerjaan sebaik mungkin.” (Mohon maaf ya, Bu)
Ibu itu seketika diam tak berkutik. Namun, nyatanya ia tidak berhenti disitu saja untuk memojokkan Anjani. “Saya juga punya kakak seorang guru, Bu. Jadi saya tahu pekerjaannya seperti apa. Jadi guru itu berat lho, Bu. Pesan saya lain kali jangan hanya salin tempel saja, Bu. Apalagi saat ini orang-orang memang lebih suka yang cepat dengan salin tempel.”
Anjani sudah ingin menampilkan senyum sinisnya. 'Apa Ibu juga termasuk dalam jajaran orang-orang saat ini yang juga suka salin tempel?' Tentu saja itu hanya dalam batinnya. Jika bibirnya mengatakan hal itu, tidak perlu menunggu waktu lama, pasti kepala sekolah akan memanggilnya.
Kemudian ibu itu juga memprotes akan nilai mata pelajaran lain yang juga D. Anjani tidak langsung mengiyakan, ia melihat pada link pengumpulan tugas. Dan ternyata, nama putra ibu di hadapannya tidak ada. Sang Ibu itu berkata dengan tegas pada Anjani bahwa putranya sudah mengumpulkan. Anjani pun juga tidak kalah tegas pada ibu tersebut. Ibu itu kembali menyalahkan Anjani yang tidak memantau siswanya jika ada yang belum mengumpulkan. Padahal, Anjani sudah sering mengingatkan siswanya melalui grup kelas dan tatap muka untuk mengumpulkan tugas itu. Apalagi ada perpanjangan waktu. Seharusnya hal itu sudah menjadi tanggung jawab siswa terhadap tugasnya. Sudah menjadi kesadaran dan kewajiban bagi mereka untuk mengecek tugas mereka masing-masing. Jika semua Anjani yang harus melakukan, lalu bagaimana bisa rasa mandiri dan tanggung jawab siswa berkembang? Untuk perkembangan diri siswa tidak hanya wali kelas dan guru yang bertugas membimbing, tetapi peran orang tua juga sangat penting dalam hal itu. Setelah mendengar Anjani mengucapkan itu, ibu tersebut diam tak berkutik. Namun, untuk menutupi kekalahannya, dengan tegas ibu tersebut mengingatkan agar Anjani tidak teledor lagi.
“Iya, Bu. Terima kasih sudah diingatkan. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya. Secepat mungkin, saya akan menghubungi guru mapel dan meminta nilai Ananda yang awalnya D agar diubah sesuai dengan penilaian berdasarkan panduan penilaian kemudian akan saya uruskan untuk suratnya,” kata Anjani menutup pesan-pesan ibu di hadapannya itu.
Sepertinya, ibu tersebut masih ingin berbicara banyak hal padanya. Namun karena ada wali murid lain yang datang, ia pun pamit pulang dan meminta Anjani agar segera memperbaiki nilai putranya.
Sisa lima wali murid terakhir, Anjani mengusahakan agar ia tidak memasang wajah menyebalkan. Mood-nya benar-benar hancur. Ia ingin sekali menumpahkan rasa sesak yang mengganjal sejak tadi. Namun, ia berusaha tetap profesional dan menahan air matanya yang siap menetes kapan saja.