Bisa saja dulu kita menjadi dua orang yang saling mengalihkan pandangan saat berpapasan. Namun, jika kuasa Allah yang mampu membolak-balikkan hati makhluk-Nya terjadi, kita bisa menjadi dua orang yang tak pernah membuang waktu sedetik pun untuk saling membuang muka seperti saat ini. -Bilbul17-
“Wah, coba dari dulu Bu Anjani dan Pak Arsya sekompak ini. Mungkin saja sekolah kita sudah lebih maju sejak kalian bergabung,” puji Bu Tutik disertai dengan sedikit godaan.
“Tidak hanya sekolahnya yang maju, Bu. Tapi mungkin status jomblonya Pak Arsya dan Bu Anjani bisa berkembang menjadi hubungan yang lebih maju juga,” celetuk guru lain.
Sejak perbincangan Anjani dan Arsya di perpustakaan satu bulan yang lalu, mereka sudah tidak pernah lagi bermusuhan atau saling memalingkan pandangan. Arsya tidak pernah memalingkan pandangan, Anjani saja yang antipati sekali dengan guru olahraga itu.
Mereka juga sering diskusi atau pun sharing tentang apa pun. Meleburkan dinding kokoh yang pernah Anjani bangun.
***
Kebiasaan Arsya yang di pagi hari selalu menyapa guru yang ia temui tidak pernah berubah. Hingga di Senin pagi setelah hari pengambilan raport—kurang lebih dua hari setelah pengambilan raport—Arsya menyapa Anjani dan Nabila yang berjalan berdampingan menuju ruang guru.
“Selamat pagi, Bu Anjani dan Bu Nabila,” sapa Arsya riang disertai lengkungan senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Selamat pagi, Pak Arsya,” jawab Anjani dan Nabila hampir bersamaan.
Nabila dengan cepat memandang ke arah sahabatnya. Ia terkejut. Bola matanya membesar. Dahinya mengernyit. Seingatnya, sejak Arsya bergabung menjadi guru olahraga di SMA Cenderawasih Nusantara, ia sangat jarang sekali melihat Anjani dan Arsya akrab. Jika ia tidak salah ingat, Anjani hanya berbincang dengan Arsya saat perkenalan Arsya sebagai guru baru. Selebihnya, Anjani memilih abai dengan rekan guru yang ia taksir itu.
Keterkejutan Nabila tidak berhenti disitu saja, ia melihat dengan jelas Anjani dan Arsya saling melemparkan senyum. “Sejak kapan kamu jadi dekat dengan Pak Arsya, Jan?” tanya Nabila. Masih ada Arsya di hadapannya, tetapi Nabila cuek saja. Rasa penasaran lebih mendominasi daripada rasa malu.
Bukan jawaban yang terlontar dari bibir Anjani dan Arsya, tetapi hanya seutas senyum yang diberikan kepada Nabila. Hal itu tentu saja semakin membuat Nabila penasaran juga curiga. “Kalian mencurigakan,” ungkap Nabila jujur.
Anjani hanya melebarkan senyum. Sedangkan Arsya tertawa ringan. “Mencurigakan bagaimana, Bu? Bukankah bagus jika saya dan Bu Anjani saling melempar senyum. Kalau kami saling melempar pandangan permusuhan, itu malah nggak baik,” jawab Arsya. "Apalagi melempar suatu barang," canda Arsya sambil tertawa ringan.
Nabila cemberut. Ia memandang Anjani dan Arsya bergantian. Tatapannya menyelidik, semacam detektif yang mengawasi objek buruannya.
“Kenapa sih, Bil? Apa salah kalau aku jawab sapaan Pak Arsya?” Akhirnya Anjani angkat bicara setelah dari tadi hanya menyunggingkan senyum.
Nabila jengkel dengan sahabatnya. “Ya nggak salah. Tapi aku kaget tahu. Kan biasanya kamu mandang Pak Arsya sinis. Eh, sekarang tiba-tiba saling menebarkan senyuman,” gerutu Nabila.
Arsya menahan tawa yang akan menyembur. Ia merapatkan bibirnya dengan kuat. Berusaha untuk menetralkan diri agar tidak tertawa. “Alhamdulillah, sekarang saya dan Bu Anjani sudah tidak saling bermusuhan. Ya kan, Bu?” Arsya mengedipkan sebelah matanya pada Anjani. Membuat Anjani menguarkan tawanya. Dan Nabila yang berada di antara manusia yang baru akrab itu merasa terabaikan.
“Saya senang-senang saja kalau kalian sudah akrab seperti sekarang. Tapi, saya jangan dikacangi,” rengek Nabila. ‘Kenapa tiba-tiba Anjani dan Arsya jadi akrab seperti ini? Perasaan sebelum ini mereka kayak musuh. Apalagi Anjani yang selalu memasang muka garang pada Arsya,’ batin Nabila. ‘Kalau Anjani dan Arsya akrab, pasti perhatian Arsya tidak hanya ke aku saja. Laki-laki itu pasti akan membagi fokusnya,’ lanjut batinnya sedih.
Kesempatan untuk memikat Arsya sepertinya akan berkurang. Namun, dengan cepat Nabila mensugesti diri untuk kembali bangkit memperjuangkan perasaannya. Ia tidak boleh patah semangat hanya karena melihat keakraban antara Anjani dan Arsya. ‘Mereka baru saja akrab, sedangkan sama kamu, Arsya sudah lebih akrab dari lama. Jadi jangan mudah putus asa.’ Batinnya menyemangatinya.
Anjani dan Arsya menyemburkan tawanya. Nabila memang luar biasa. Selain sering shopping, sahabatnya itu memang kadang suka merengek dan manja.
“Sudah. Sudah. Ayo kita lanjutkan perjalanan ke ruang guru,” ajak Anjani. Ia pun berjalan lebih dulu, meninggalkan Nabila dan Arsya di belakangnya.
Nabila menghentakkan kakinya karena Anjani dengan santai meninggalkannya. Ia juga berteriak agar Anjani menunggunya, tidak meninggalkannya. Anjani memilih tetap melanjutkan langkahnya dan mengabaikan teriakan Nabila. Sedangkan Arsya geleng-geleng. Ia juga menatap punggung tegap Anjani yang sudah akan mencapai pintu ruang guru. Ia jadi tahu, setegap-tegapnya punggung seseorang apalagi perempuan, ada masanya mereka tetap membutuhkan bantuan orang lain. Membutuhkan bantuan punggung atau pun pundak orang lain.
Saking penasarannya akan keakraban antara Anjani dan Arsya yang tiba-tiba, Nabila terus mengejar Anjani di saat mereka sama-sama longgar tidak ada jadwal masuk kelas. “Jani, sejak kapan kamu sama Pak Arsya bisa seakrab itu? Kalian juga saling melemparkan senyum,” tanya Nabila memburu, seperti seorang wartawan yang mengejar berita terkini. Nabila bahkan memutar tubuhnya menghadap ke arah Anjani.
“Sejak aku tergabung dalam Panitia Pelaksana UTS kan sudah mulai akrab dengan Pak Arsya,” jawab Anjani santai.
Nabila tidak puas dengan jawaban Anjani. “Perasaan kamu masih cuek-cuek aja, deh,” balas Nabila.
“Tapi kalau dalam rapat, kami kan nggak saling cuek, Bil. Ya dari situ aku dan Pak Arsya mulai menjalin keakraban.”
Nabila memandang Anjani menyelidik. “Kamu dan Pak Arsya nggak lagi pendekatan kan?” Nabila memicing pada Anjani.
Anjani melontarkan tawa gelinya. “Kamu kok mikir ke sana sih, Bil? Memangnya kalau orang akrab itu selalu merujuk pada pendekatan? Enggak kan?”
“Memang enggak. Tapi aku curiga sama kedekatan kalian. Kayak ada chemistry apa gitu.”
“Chemistry apa coba? Kamu kok jadi ngelantur?”
“Soalnya aku takut kalau Pak Arsya tiba-tiba berpaling ke kamu. Sedangkan aku kan sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada Pak Arsya sejak awal,” kata Nabila dengan sangat jujur dan terbuka. Tidak ada rasa malu sedikit pun.
“Ya makanya kamu pepet terus sana Pak Arsya biar segera menangkap umpan asmara yang kamu lemparkan.”
“Kan kamu tahu sendiri gimana Pak Arsya ke orang lain atau guru lain? Akrab sama siapa aja. Berbagi tawa pun nggak mandang bulu. Saat Pak Arsya menanggapi dengan senyum dan tawa setiap ucapanku, rasanya berbunga dan seperti terbang gitu, Jan. Tapi saat lihat Pak Arsya juga begitu ke orang lain, aku seperti dijatuhkan dari tebing tinggi,” curhat Nabila dengan wajah sendu. Meskipun ia tipe perempuan yang ceplas-ceplos—a.k.a blak-blakan, hatinya juga sama seperti perempuan lain. Hatinya mudah goyah jika dihadapkan pada laki-laki yang memang menarik hatinya. Apalagi jika laki-laki itu ramah, mudah welcome dengan siapa pun. Hati Nabila akan selalu meleleh jika di hadapkan pada laki-laki seperti itu. Salah satunya dengan Arsya.
Semua orang—guru, siswa, dan karyawan sekolah, bahkan satpam juga penjaga kantin tahu jika dari awal Nabila memiliki ketertarikan pada Arsya. Namun, mereka juga tahu jika Arsya memang mudah akrab dengan siapa pun. Laki-laki itu begitu luwes dalam berbincang dengan lawan bicaranya. Jadi, ketika warga sekolah ditanya apakah Arsya juga memiliki perasaan yang sama dengan Nabila, mereka tidak dapat memberikan jawaban yang tegas. Karena Arsya memang sebaik dan seramah itu kepada siapa pun.
‘Apa tindakanku tempo hari salah? Apa aku memang seharusnya menjaga jarak dengan Arsya?’ batin Anjani mulai bimbang. Baru saja mereka saling mengenal diri, apa iya mereka harus memutuskan perkenalan yang baru saja terjadi itu?
Anjani tidak berani memberikan komentar. Ia takut. Ia takut saran atau ucapan apa pun yang ia katakan akan kembali pada dirinya sendiri. Takut hatinya goyah. Takut hatinya tidak mampu tetap bertahan pada prinsip yang telah lama ia pegang. Lima tahun lebih ia bertahan dengan prinsip agar membentengi diri dari laki-laki. Nyatanya, akhir pekan kemarin benteng itu mulai lemah pertahanannya. Jika diibaratkan dengan tembok, mungkin kekuatan semen untuk merekatkan antara pasir dengan batu bata mulai melemah. Membuat tembok mulai mengeropos dan lama-kelamaan akan roboh. Entah roboh karena tidak mampu menahan beban, atau diterpa oleh kondisi lingkungan, baik hujan, angin, atau musim yang berganti tak tentu waktu.
Anjani memilih memberikan senyum semangat. Rasa aneh tiba-tiba menyusup dalam dirinya. Ia tidak paham apa itu, yang jelas Anjani saat ini sudah tidak seperti Anjani sebelum berbincang dengan Arsya di perpustakaan.
***
Nabila yang duduk di mejanya, menatap dua insan yang sedang menjadi buah bibir rekan guru yang lain. Rasa iri dan cemburu sering kali menyusup dalam hatinya, tetapi jika diamati lebih dalam, Anjani dan Arsya tidak pernah melakukan sesuatu yang memancing seseorang untuk menilai mereka sedang menjalin hubungan. Ia juga sering kali ikut bergabung dengan Anjani dan Arsya untuk membahas apa pun. Tidak hanya bertiga, tetapi juga dengan rekan guru yang lain. Dan selama itu, sikap Arsya kepada Anjani atau pun dirinya tidak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Bedanya, saat ini Anjani akan merespons dengan lebih manusia setiap rekan bicaranya terutama laki-laki.
Dalam pengamatan Nabila, sahabatnya dan laki-laki yang ia taksir hanya menanggapi godaan para ibu-ibu dengan senyum sopan. Tidak ada yang mencurigakan. Namun, kembali ke awal, hati Nabila menginginkan jika ia bisa berada di posisi Anjani. Pasti sangat menyenangkan.
‘Ingat!! Jangan terlalu banyak berharap. Jangan juga mudah melambung. Jika kamu dijatuhkan secara tiba-tiba, tidak hanya sakit, tetapi juga meninggalkan luka. Dan luka yang awalnya kecil, lama-kelamaan akan berkembang dan menjadi menganga. Menjadi besar. Jadi, Nabila please, stop berandai-andai tentang Arsya,’ peringat batinnya tegas.
Logikanya sudah sering membuat peringatan seperti itu. Dan perasaannya yang lebih mendominasi. Logikanya akan terkalahkan oleh keinginan seorang perempuan yang mendamba balasan perasaan dari laki-laki yang sudah lama ia puja.
“Mohon maaf, Bu Tutik. Nggak baik, jika berandai-andai seperti itu. Mungkin, memang takdirnya saya dan Bu Anjani berkolaborasi saat ini. Dan di saat inilah kami baru bisa membantu dalam mengembangkan sekolah,” tegur Arsya lembut. Anjani mengangguk setuju dengan ucapan Arsya. Jika mengandai-andai, bisa saja memunculkan harapan-harapan kosong yang semakin menyakitkan. Jalani apa yang ada di hadapan kita dengan semaksimal mungkin, agar hasilnya pun juga maksimal.
Bu Tutik membenarkan. Mereka kemudian melanjutkan perbincangan akan rencana-rencana sekolah ke depannya. Ia pun dengan lugas meminta bantuan guru-guru muda agar sekolah tempat mereka menyalurkan ilmu semakin berkembang dan sukses. Berkembang dalam menciptakan sumber daya siswa yang memiliki keterampilan di luar tagihan akademis dan sukses dalam mengantarkan siswa menuju cita-cita atau harapan yang mereka impikan.
Nabila semakin kagum mendengar jawaban yang dilontarkan Arsya. ‘Jika kamu selalu bijak seperti itu terus, gimana aku nggak semakin jatuh hati, Sya?’ jerit batinnya.
Mata Nabila yang memancarkan binar memuja pada Arsya harus teralihkan fokusnya karena ada telapak tangan yang melambai tepat di depan netranya. Ia pun berdecak kesal karena gangguan yang dilakukan di tengah aktivitasnya memandang Sang Pujaan Hati.
“Matanya nggak perlu lebar-lebar Mbak kalau lihat. Bola matanya keluar bahaya nanti,” canda Anjani yang sudah duduk di kursinya.
Nabila pun memandang kursi sebelahnya. Benar, ternyata Anjani yang mengajaknya bicara. Saking seriusnya memandang dan memuja Arsya, ia tidak melihat Anjani yang berjalan ke mejanya. “Kok aku nggak sadar ya kalau kamu sudah duduk di situ,” celetuk Nabila heran.
“Gimana mau sadar kalau mata kamu sudah dipenuhi oleh bayangan Pak Arsya. Apalagi bola mata kamu yang sampai melotot saat memandangi Pak Arsya,” balas Anjani sambil geleng-geleng. Ia dibuat kagum dengan kelakuan sahabatnya yang tetap bertahan pada pendiriannya. Pendirian akan rasa pada Arsya yang tak pernah tergoyahkan oleh badai-badai yang sering melintas.
Nabila hanya menunjukkan cengiran lebarnya. Ia pun pura-pura mengatur kerudungnya untuk menutupi rasa malu yang datang.
“Cie blushing tuh pipinya,” ledek Anjani.
Nabila semakin sok sibuk dengan kerudungnya. Tujuan sebenarnya adalah menutupi pipinya agar tidak terlihat oleh rekan guru lain bahwa ia sedang malu karena seorang Arsya. Sudah sering kali ia mendapat ledekan akan rasa cintanya untuk Arsya, lama-lama ia jadi malu sendiri. Meskipun kadar rasa malu itu masih sangat berbanding terbalik jauh dengan rasa tidak malunya.
“Sudah deh jangan ngeledek mulu. Nanti guru-guru yang lain jadi mandang aku. Terus aku digoda lagi. Cukup sudah. Aku malu.”
Anjani tertawa lepas. “Alhamdulillah, akhirnya sahabatku ini mulai dapat merasakan malu,” kata Anjani dengan tawa yang mengiringi.
Nabila ingin sekali menjitak sahabatnya itu. Namun, posisi di ruang guru bukanlah tempat yang tepat untuk berbuat kekerasan. Dan ketika ia melihat tumpukan brosur sekolah tahun lalu, dengan cepat ia menggulungnya dan memukulkannya pada lengan Anjani.
Anjani tentu tidak merasa kesakitan. Ia semakin melebarkan tawanya. Dan hal itu semakin membuat Nabila kesal kepada sahabatnya sejak SMA itu.