Sewa Kursi Roda

1135 Kata
"Bapak jangan mudah tertipu dengan orang yang baru kita temui, Siapa tahu saja dia hanya ingin memanfaatkan keluarga kita." tahan anaknya yang tidak setuju dengan kesanggupan Bapaknya yang hendak meminjamkan Wira sebuah kursi roda miliknya. "Tidak apa-apa Amir, kita harus membantu orang lain yang sedang kesusahan, apalagi Dia berbuat seperti ini pasti dia sangat malu, Namun keinginan untuk membahagiakan istrinya yang lebih besar, sehingga pria ini meninggalkan rasa malunya demi membahagiakan istri tercinta. kamu pasti tidak akan bisa merasakan Karena kamu belum menikah." jawab pria tua itu dengan sangat bijaksana. "Lihat Pak! tampangnya saja tidak meyakinkan. bagaimana kalau dia menipu kita?" ujar Amir yang tetap tidak setuju. "Itu urusannya, karena urusan kita hanyalah menolong orang lain, tapi kita boleh berburuk sangka, soalnya itu akan mempersulit diri kita sendiri dan mungkin akan menimbulkan penyesalan di lain waktu." "Tidak, pokoknya tidak boleh. aku tidak setuju Pak." "Kalau tidak boleh menyewa, aku beli saja kursi roda ini. mohon maaf bukannya sombong tapi aku benar-benar membutuhkan." potong Wira memecah perdebatan antara orang tua dan anak. "Memangnya kamu punya duit, aku tidak yakin walaupun dandananmu sangat mewah kamu memiliki uang." "Iya memang aku tidak memiliki uang yang banyak, tapi untuk membahagiakan istriku Aku akan berusaha semaksimal mungkin." jawab Wira yang tetap merendah, kalau tidak ingat dirinya sedang butuh mungkin dia sudah menggampar mulut pemuda yang kurang sopan. "Halah! penipu tetap penipu, jangan berpura-pura bersedih Aku tidak akan tertipu." "Amir, jaga bicaramu! Bapak tidak pernah mengajarkan ketidaksopanan kepada orang lain, ajaran dari siapa kamu berbicara seperti itu?" "Berbicara dengan orang seperti ini tidak memerlukan kesopanan, karena dirinya juga tidak menghormati dirinya sendiri, soalnya dia sudah mencoba mencari keuntungan dari menipu orang lain." "Amir! masuk ke dalam." bentak Bapaknya dengan Tatapan yang sangat tajam membuat Amir sedikit meringis. "Sudah masuk ke dalam, Kalau kamu tidak memiliki etika." lanjut bapaknya dengan suara yang kembali lembut. Amir tidak menjawab, Dia pun berlalu pergi dengan membawa kekesalan yang membakar dirinya, Karena bapaknya sudah terlalu baik kepada orang lain. kalau tertipu siapa yang akan rugi pasti merekalah yang akan rugi. "Mohon maaf Pak, gara-gara aku datang ke sini sampai-sampai Bapak harus bertengkar dengan anaknya." Ujar Wira setelah Amir tidak terlihat lagi, raut wajahnya menunjukkan tidak enak karena sudah mengganggu ketentraman keluarga orang lain. "Tidak apa-apa, dia masih muda dia belum bisa mengendalikan emosi Nanti kalau sudah berumur seperti kita pasti dia akan mengerti. Silakan duduk!" Pinta orang tua itu mempersilahkan Wira untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya, karena di depan toko itu terlihat ada beberapa meja yang dipasang mungkin Mereka menjual makanan ataupun minuman. "Terima kasih, terus bagaimana dengan peminjaman eh penyewaan kursinya?" tanya Wira yang sesekali melihat jam yang ada di tangan. "Itu masalah gampang, sekarang di mana istrimu." "Dia masih menunggu di Gedung Teater, karena kami berencana menonton musik kesukaannya." jawab Wira yang kepalang tanggung berbohong. "Oh iya, aku sampai lupa kalau sekarang ada pertunjukan musik orkestra. istriku waktu dulu dia sering mengajakku menonton di sana, meski Sebenarnya aku kurang suka tapi untuk membahagiakannya aku berpura-pura menikmati." "Yah begitulah seorang laki-laki yang pura-pura menyukai apa yang disukai oleh istrinya, karena itu adalah salah satu cara untuk membahagiakan mereka." "Benar, kadang kita harus mengalah dan meminta maaf dengan kesalahan yang tidak pernah kita lakukan, tapi meski begitu kita akan sangat kehilangan ketika tidak ada canda tawa dan rayunya yang manja." "Nampaknya Bapak sangat paham memahami sifat istri yang kadang-kadang tidak dimengerti oleh logika." ujar Wira dengan penuh kekaguman. "Iya, makanya bagi para suami yang masih memiliki istri, sayangilah mereka Soalnya kalau sudah tidak ada, kita hanya bisa tersenyum ataupun menangis ketika mengingat kenangan-kenangan Indah bersamanya." "Emangnya istri bapak ke mana?" tanya Wira sambil celengokkan mencari mencari keberadaan seorang wanita. "Sudah meninggal, sama gara-gara kecelakaan. waktu itu, kita dalam keadaan masa Jaya warung yang kita Rintis berdua perlahan-lahan menjadi cafe yang sangat favorit untuk didatangi, sehingga aku lupa Bagaimana cara membahagiakan istri. suatu saat istriku meminta untuk beristirahat dan mengajakku untuk liburan ke Puncak, aku yang kala sedang menikmati kesuksesan tidak sedikitpun ingin menyia-nyiakan waktu yang yang sedang berada di dalam masa kejayaan. tapi istriku terus memaksa sampai akhirnya dengan berat hati aku pun mengikuti, namun di perjalanan hati yang terbagi dua, aku tidak fokus sehingga kecelakaan pun terjadi. istriku meninggal, Aku hanya bisa duduk di kursi roda. anakku yang kedua meninggal, hanya amirlah yang tersisa. makanya dia sangat marah terhadapku karena mungkin masih belum menerima kenyataan pahit kehilangan ibu dan adiknya." jawab pria itu sambil menitikan air mata, Mungkin dia teringat kembali kenangan-kenangan indah bersama istrinya. "Semoga istri bapak meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah, diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosa-dosanya." "Amin! Maaf malah jadi curhat, kamu mau meminjam kursi yang mana?" tanya pria tua itu sambil menyeka air mata. "Terserah yang mau meminjamkan saja." "Kalau mau, pakai yang elektrik aja. soalnya ini selain bisa didorong menggunakan tangan, ini juga bisa berjalan sendiri menggunakan baterai." "Memangnya boleh?" tanya Wira seolah tidak percaya karena sejak dari tadi dia pun terus memindai kursi roda yang nampak berbeda dengan kursi kursi roda yang pernah ia gunakan. "Boleh tapi Bapak hanya menitip pesan kalau kamu diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk hidup bersama istrimu kembali. Maka jangan sia-siakan kesempatan itu karena kalau sudah tidak ada, kita tidak bisa berbuat apa-apa hanya tenggelam dalam penyesalan dan penderitaan." "Terima kasih terima kasih banyak Pak!" jawab Wira dengan wajah sumringah. "Sama-sama, Ya sudah sekarang bawalah Kursi ini." "Mohon maaf pak, sebelumnya. Bukan saya menolak kebaikan Bapak, Tapi sebaiknya saya menyimpan kartu pengenal dan uang, jikalau nanti saya tidak kembali maka bapak bisa membeli kursi roda yang baru atau bapak bisa mendatangi alamat rumah saya." "Apa-apaan, begituan. tidak usah aku sangat percaya denganmu." "Untuk menjaga keharmonisan keluarga Bapak, soalnya bapak sendiri yang mengatakan kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Sekarang bapak hanya tinggal berdua dengan anaknya, maka Bapak harus menyayangi Amir dengan begitu penuh kasih sayang." jawab Wira yang tah Kenapa dia pun terlihat begitu bijak. "Baiklah kalau begitu, tapi untuk menyimpan KTP itu sangat tidak perlu, Karena sekarang bisa dengan memotretnya." "Benar juga, bapak punya nomor rekening?" "Untuk apa?" jawab orang itu dengan tetapan penuh peranan. Untuk saling menjaga kepercayaan, Bapak sudah mempercayakan saya untuk meminjam kursi roda dan saya akan mempercayakan uang saya dititipkan di bapak. Awalnya pria itu menolak namun setelah dipaksa beberapa kali Akhirnya dia pun memberikan nomor rekeningnya. tanpa membuang waktu Wira pun mentransfer sejumlah uang sesuai dengan harga kursi roda yang baru. besok ketika dia mengembalikan kursi roda maka uang itu akan diambil kembali, karena bapaknya Amir tetap menolak untuk menyewakan kursi roda. "Kalau begitu Tolong bantu saya untuk pindah ke kursi itu." pinta bapaknya Amir. Dengan penuh semangat Wira pun membopong tubuh pria tua itu kemudian dia dia pun berpamitan dengan membawa kursi roda, hatinya merasa bahagia karena dia tidak harus susah-susah mendorong kursi itu, soalnya sudah ditanamkan sebuah baterai untuk menggerakkan rodanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN