Wira terus mendorong kursi roda milik bapak-bapak yang ia temui di depan toko, menuju kembali ke Gedung Teater untuk menonton pertunjukan musik orkestra. Sesampainya di sana terlihat orang-orang yang sudah berdandan rapi dengan memakai jas dan gaun-gaun yang sangat cantik mulai merangseg masuk ke dalam lobby yang sudah dilapisi dengan karpet merah, membuat suasana semakin Begitu Terasa bahwa mereka seperti sedang berada di tahun 90-an.
Wira yang menggunakan kursi roda setelah berada di lobby dia pun duduk di atasnya, kemudian memperhatikan tombol-tombol yang berada di samping kanan, mengingat-ingat kembali apa yang sudah diajarkan oleh pemiliknya.
"Tombol up untuk maju, tombol down untuk mundur. tombol left atau righ untuk belok kiri dan belok kanan. Aku cobain dulu biar tidak memalukan." gumam Wira sambil menekan tombol yang mengarah ke depan sehingga kursi roda itu mulai melaju, ketika dia menekan tombol ke belakang roda pun mundur ke belakang. namun ketika dia menemukan tombol righ, roda sebelah kiri berhenti dan kursi yang sebelah kanan tetap berputar.
"Sangat canggih, benar-benar sangat canggih dunia zaman sekarang. orang cacat saja sudah di manjakan seperti ini?" umpat Wira yang memuji keistimewaan kursi roda yang dipinjamnya.
Setelah memahami semua petunjuk yang ada di kursi roda canggih itu, Wira pun mulai berjalan menuju penukaran tiket kemudian dia menukarkan tiket yang ia miliki, setelah itu dia pun dengan keterbatasan yang diperlihatkan memiliki jamuan prioritas di mana dia diantarkan ke sebuah auditorium yang terbuat dari kaca, yang berada di samping kiri Aula pertunjukan.
Wira memindai keadaan sekitar yang terlihat berwarna merah sedikit kecoklatan, kursi-kursi sudah rapi dan sebagian mulai diduduki oleh para pengunjung sesuai dengan tiket yang mereka beli. di panggung terlihat sudah tertata rapi berbagai alat musik di bagian paling depan terlihat ada podium yang khusus digunakan untuk konduktor ataupun Dirjen pemimpin pertunjukan.
"Masih lama ya mulainya?" tanya Wira dengan wanita tua yang berada di samping yang sama menggunakan kursi roda.
"Yah kamu lihat aja waktu pertunjukannya dimulai jam berapa, kamu punya tiket ya kan?" jawab wanita itu membuat Wira sedikit mengeluhkan dahi.
"Yah kita ngobrol aja Nek, biar tidak terlalu tegang dan sedikit akrab."
"Enak saja kamu panggil aku nenek, Emangnya aku memiliki cucu sekurang ajar seperti kamu?"
"Kurang ajar dari mananya?"
"Kamu manggil aku nenek, memangnya aku serua itu sampai Harus dipanggil nenek."
"Kalau tidak Mau dipanggil nenek, Apakah aku harus memanggil Sayang?"
Wanita tua itu tidak menjawab Dia hanya mendelik kesal ke arah Wira yang dianggapnya tidak sopan, Namun Wira tidak terlalu mempedulikan, dia hanya mengulum senyum dan kembali memfokuskan pandangan ke arah panggung yang mulai didatangi oleh para musisi yang akan tampil, Mereka terlihat mengecek alat-alatnya sebelum mereka gunakan agar mereka bisa menampilkan performa yang sangat Apik dan memuaskan para pengunjung, apalagi sekarang sudah tidak terlalu banyak orang yang menyukai musik klasik.
Sedangkan para pengunjung yang awalnya berada di luar, mereka sudah mulai memasuki dan menempati tempat duduk masing-masing sesuai dengan nomor yang ada di tiket yang mereka miliki, soalnya sebentar lagi waktu pertunjukan akan segera dimulai.
Suara riuh rendah mulai terdengar memenuhi setiap sudut auditorium yang mulai dipenuhi oleh para penikmat musik klasik, sampai Suara bising itu terhenti ketika melihat konduktor orkestra menaiki podiumnya dengan baju yang sangat khas, jas yang panjang ke belakang. di tangannya terlihat ada tongkat kecil seperti tongkat sihir yang nantinya akan digunakan untuk menghipnotis semua penontonnya.
Tepuk tangan pun mulai terdengar ketika konduktor itu mulai membungkuk memberi penghormatan kepada orang-orang yang sudah meluangkan waktu menonton dan mendukung musik Orkes tetap berjaya di tengah maraknya alat-alat musik yang sangat canggih. Lampu pun mulai meredup menyapu gelombang keheningan ke arah bangku penonton, menciptakan suasana yang nyaman dan damai di tengah ketegangan apa yang akan terjadi. melodi yang sangat indah diikuti dengan suara gitar dan Selo yang tak kalah menakjubkan menghipnotis semua orang yang berada di auditorium, setiap not yang dimainkan membuat mereka merasa berada di dunia mimpi dan cerita-cerita kerajaan zaman dahulu.
Satu musik pun selesai dimainkan, sebelum melanjutkan ke pertunjukan musik yang selanjutnya konduktor pun terlihat mengambil mic untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata.
"Saya ucapkan banyak terima kasih bagi para pengunjung yang sudah menyempatkan hadir dalam pertunjukan seni musik orkestra Simponi, dalam kesempatan ini kita sangat tahu kalau kalian yang datang dan hadir ke sini menginginkan seorang wanita cantik yang sangat piawai memainkan biola."
Suara tepuk tangan pun terdengar Riuh memenuhi setiap sudut, membuat Wira yang awalnya merasa kecewa karena gadis pujaannya tidak ikut tampil. namun ketika dia mendengar bahwa ada satu orang yang masih disembunyikan dia pun terlihat terkejut penuh harap.
"Baiklah kalau itu yang kalian mau, kita sambut. Aluna.....+"
Tepuk tangan burger bergemuruh kembali lalu dari sudut panggung yang didesain dengan warna merah hati, terlihat ada seorang wanita yang duduk di kursi roda di pahanya ada biola dan sebuah Bow alat yang digunakan untuk menggeseknya. sedangkan kedua tangannya terlihat menggerakkan roda.
Kala itu Aluna terlihat begitu sangat cantik, wajahnya yang mempesona mampu menghipnotis semua pengunjung yang datang, dipadukan dengan gaun berwarna hitam dan lengan terbuka, memamerkan kulitnya yang putih dan mulus. rambutnya disanggul membuatnya semakin terlihat menawan, membuat Wira beberapa kali menelan ludah seolah ingin menerkam wanita cantik itu dengan bulat-bulat.
"Pinjem teropongnya tante!" Pinta Wira kepada orang yang duduk di samping.
"Eh kurang ajar, aku tidak memiliki keponakan sepertimu. Jadi jangan panggil aku dengan sebutan tante." jawabnya dengan Ketus.
"Kalau bukan nenek-nenek aku sudah dorong menerobos kaca, agar dia jatuh dan mati menimpa kursi penonton. sudah tua bukannya bertaubat malah membuat hati orang lain menjadi tambah kesal aja." gerutu Wira dalam hati, sambil kembali memfokuskan pandangan menatap ke arah Aluna yang terlihat sudah menaikkan biola ke atas pundaknya.
Ketika konduktor mengangkat tongkat sihirnya, suara musik pun mulai menggema kembali dengan disauti oleh tepuk tangan yang begitu meriah, membuat Wira semakin terkagum dengan kepribadian wanita yang satu ini. meski Dia memiliki kekurangan fisik namun dia tidak sedikitpun memiliki kekurangan mental, sehingga dia masih bisa menjalani hidupnya dengan begitu normal.
"Anak bodoh, nih kalau kamu mau pinjam teropongnya, tapi hati-hati nanti rusak!" ujar nenek-nenek itu ketika pertunjukan musik berada di tengah-tengah, membuat Wira menatap heran seolah tidak percaya dengan kebaikan wanita itu.
"Kenapa malah bengong, mau pinjam atau enggak?"
"Terima kasih, terima kasih banyak!" ujar Wira dengan segera menyambar teropong itu kemudian didekatkan ke matanya, sehingga terlihatlah Aluna yang begitu piawai memainkan biola diikuti oleh berbagai alat musik yang sangat menenangkan telinga.
Semua penonton yang hadir merasa sangat kagum dengan pertunjukan yang dimainkan oleh Aluna, memberikan motivasi, kekuatan kasih sayang, cinta kepada orang-orang yang melihat kepiawaiannya. setiap kali berganti dari musik yang satu ke musik yang lain tidak sedikitpun penonton mengendur memberikan tepuk tangan penuh kekaguman membuat Aluna semakin bersemangat.
Dan tibalah dengan pertunjukan musik yang terakhir para penonton dibawa dengan alunan musik yang sangat lembut penuh ketenangan, membawa mereka kembali ke masa-masa indah bersama orang yang dicintai. suara biola yang digesek oleh Aluna mampu menjadi ruh pertunjukan kala itu, memberikan kesan yang sangat berharga bagi orang yang sudah menyempatkan waktu untuk menontonnya.
Akhirnya pertunjukan musik pun selesai di pertontonkan, disambut kembali dengan tepuk tangan yang lebih meriah daripada tepuk tangan tepuk tangan sebelumnya. bahkan Wira yang Terpukau dia pun sampai berdiri memberikan penghormatan seperti para penonton yang lain.
Para musisi yang berada di atas panggung Mereka pun sama-sama berdiri kemudian membungkuk mengucapkan terima kasih, lalu tatapan mereka seolah dibagi kepada setiap orang yang hadir bahkan Aluna melihat ke arah atas di mana Wira berada di situ.