Kedua pasangan yang baru saja memulai petualangan cinta mereka berjalan meninggalkan restoran untuk kembali ke mobilnya, Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan ke kosan Clarissa.
Di perjalanan mereka berdua terus mengobrol membahas hubungan yang akan mereka jalani kedepannya, Wira yang sangat pintar bermain, Dia terlihat seperti sangat mencintai Clarissa seperti yang sudah ia lakukan dengan sahabatnya Cindy yang beberapa kali menelepon namun Wira tidak mengangkatnya.
Suasana kala itu terasa begitu indah, bintang-bintang di langit bertaburan menambah keromantisan suasana. jalanan yang mereka lewati terlihat begitu ramai oleh orang-orang yang hendak menikmati malam akhir pekan atau pun yang pulang dari tempat hiburan. sampai akhirnya biarpun berhenti ketika mobilnya sudah terparkir di halaman.
"Mau mampir dulu?" tanya Clarissa berbasa-basi.
"Memangnya boleh?"
"Tidak, aku hanya bercanda." Jawab Clarissa yang merasa keceplosan Bahkan dia pun menutup bibirnya.
"Kok begitu berarti kamu bohong kalau kamu mencintaiku. lagian kamu tidak usah takut, aku mampir hanya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali pulang ke rumah.
"Bukan begitu, haduh bagaimana ya menjelaskannya. Aku bukan tidak mau mengajakku mampir, tapi aku takut sahabatku sudah ada di rumah. bagaimana nanti kalau marah kalau tahu aku jalan denganmu?"
"Oh kamu tidak usah khawatir karena mungkin dia masih betah tinggal di rumahku, kalau kamu masih ragu kamu bisa meneleponnya sekarang." jawab Wira yang sedikit merasa lega karena tujuan mendekati Clarissa sudah akan terwujud, meski Awalnya sempat ragu kalau malam itu dia hanya mengeluarkan modal tanpa mendapatkan sedikit sentuhan.
Carissa yang sudah terdesak dia pun mengeluarkan handphonenya, kemudian menekan tombol Panggil Ketika menemukan nomor Cindy. Tak lama menunggu telepon pun terhubung.
"Halo, ada apa Clarissa?" tanya Cindy dari ujung sana.
"Kamu kenapa belum pulang, padahal ini sudah malam?"
"Maaf Clarissa mungkin malam ini aku tidak tidur di rumah, karena aku masih Merayakan kemenangan Tim favoritku. jadi kamu tidak usah khawatir aku baik-baik saja di sini."
"Berarti kamu mau menginap?"
" iya Aku menginap sekarang, Tapi besok pagi-pagi aku sudah pulang untuk bekerja."
"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di sana." Clarissa pun mencibir sambil mematikan telepon karena sahabatnya sudah mulai membohonginya, dia mengaku berada di pesta perayaan kemenangan, padahal dia sudah tahu kalau Cindy sedang menginap di rumah Wira.
"Bagaimana?" tanya orang yang sejak dari tadi memperhatikan.
"Ini katanya tidak akan pulang?"
"Berarti aku boleh mampir hanya untuk meminta air minum?"
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya! soalnya tidak enak dengan orang lain."
"Baiklah." jawab Wira dengan rasa bahagia karena keinginannya Sebentar lagi mungkin akan terwujud.
Mereka berdua pun keluar dari mobil kemudian berjalan beriringan menuju kamar kosan yang terlihat nampak sepi, mungkin penghuninya sudah tidur mengumpulkan tenaga kembali untuk bekerja Keesokan paginya.
"Maaf kalau tempat tinggalku tidak sebesar kamarmu." ujar Clarissa ketika membuka pintu kosannya.
"Tidak apa-apa, Lagian mau besar ataupun kecil yang terpenting kita bisa nyaman, ketika memejamkan mata. buat apa besar Kalau tidak ada kenyamanan?"
"Bener banget Meski aku tinggal di kontrakan, tapi aku merasa bahagia karena aku bisa hidup mandiri tidak bergantung kepada orang tua."
"Itulah yang aku sukai dari dirimu kamu sangat Mandiri, meskipun kamu hanya seorang perempuan."
"Ah kamu terlalu berlebihan memujiku. ya sudah Silakan duduk tapi mohon maaf kalau duduknya harus di atas kasur, karena ruangannya sangat sempit hanya cukup untuk membaringkan tubuh."
"Kita harus bersyukur, masih memiliki tempat tinggal yang nyaman meskipun kecil banyak orang-orang di luaran sana mereka hanya bisa tidur beralaskan trotoar dan beratapkan langit." jawab Wira yang tidak pernah merendahkan kehidupan orang lain, dia memotivasi agar orang itu tetap bersyukur dengan apa yang dimilikinya.
Carissa terlihat manggut-manggut seperti mengerti dengan apa yang disampaikan, hingga akhirnya mereka pun duduk di atas kasur busa yang sangat sempit dan mulai terlarut kembali dengan obrolan obrolan yang lebih mendalam tentang masa depan mereka, yang di terus diberikan keindahan-keindahan dan khayalan khayalan yang membuat Clarissa semakin terbang tinggi, hingga akhirnya dia pun menjadi korban yang kedua setelah sahabatnya.
Malam itu Clarissa yang awalnya menolak ketika Wira hendak meminta hal yang tidak wajar, namun setelah dipaksa dengan berbagai rayuan-rayuan maut, membuat Gadis itu pun luluh dan memberikan apa yang harusnya ia jaga kepada pria yang baru Iya temui.
Setelah melakukan hubungan terlarang Clarissa pun menangis seperti Cindy, namun kala itu Wira sangat memakluminya karena dia tahu kalau Clarissa baru pertama kali melakukan hubungan itu dengannya.
"Maaf, maafkan aku...! aku khilaf." tenang Wira sambil memeluk tubuh Clarissa.
"Kenapa kamu sangat tega melakukan hal ini kepadaku, katanya kamu sangat mencintaiku tapi kamu malah merusakku?"
"Semua itu berada di luar kendali, kita terhanyut dalam suasana. Maafkan Aku aku pasti bertanggung jawab dan akan secepatnya menikahimu." seperti biasa Wira mengeluarkan kata-kata pujangganya.
Berbeda dengan Cindy, Clarissa Semakin ditenangkan Semakin menjadi. bahkan mengeluarkan suara membuat Wira merasa takut kalau suara tangisnya itu terdengar oleh orang lain. dengan berusaha sekuat tenaga Wira terus menenangkan dan memberikan perhatian-perhatian agar wanita yang baru saja ia nikmati tidak terus menangis.
Lama berusaha akhirnya Clarissa pun mulai menarik nafas dalam, kemudian menatap tajam ke arah mata lelaki yang baru saja merenggut kehormatannya, memastikan bahwa apa yang dikatakan itu adalah kebenaran.
"Kamu harus yakin bahwa aku bukanlah orang jahat yang hanya menikmati tubuh wanita, jujur baru pertama kali ini aku melakukannya."
"Benar ya, kamu akan bertanggung jawab?"
"Iya, benar." jawab Wira menirukan orang yang bersungguh-sungguh dengan apa yang sudah Ia janjikan.
"Kalau benar, nanti minggu depan kamu temui orang tuaku dan lamar aku sebagaimana mestinya.
"Baik, itu masalah mudah nanti aku akan mempersiapkan semuanya. sekarang kamu Berhentilah menangis kita harus menyadari bahwa semua ini adalah kesalahan yang tidak boleh Diulangi sebelum kita resmi menjadi suami istri."
Mendengar perkataan itu, Clarissa pun semakin merasa tenang, Bahkan dia mulai memeluk Wira dengan penuh kasih sayang ,tak lupa mendaratkan ciuman mesra di bibir. hingga akhirnya mereka pun kelelahan setelah permainan dengan berpelukan Seperti takut kehilangan satu sama lain.
Telepon Wira terlihat terus menyala namun tidak mengeluarkan suara, karena pria Buaya itu sudah mensilent-nya sehingga ketika ada panggilan masuk tidak terdengar berdering.
Keesokan paginya, Clarissa membangunkan Wira. takut Cindy sahabatnya keburu pulang. Wira yang masih terlihat kelelahan karena melewati dua pertempuran dengan berbeda orang, terlihat menggeliat meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
"Mohon maaf Sayang! sekarang bukan waktunya untuk tidur, sekarang kamu harus segera pulang, takut sahabatku keburu datang." ujar Clarissa dengan suara lembutnya.
Mendengar perkataan itu, Wira pun mengambil handphone kemudian menyalakan layarnya, terlihatlah berpuluh-puluh mungkin ada ratusan panggilan yang masuk. namun dia tidak memperdulikannya dia hanya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 05.30.