Wanita yang baru saja ia temui tadi pagi terlihat masuk kembali ke dalam kosan, membuat Wira menggulung senyum merasa bangga dengan kemampuan yang ia miliki, du mana tidak ada seorang wanita yang mampu menolak ketampanan dan kegagahannya.
"Hari ini aku benar-benar beruntung satu kali tepuk 2 nyamuk terbengkalai. satu kali berlari aku mendapati dua wanita cantik yang masih terasa kinyis-kinyis. aku sudah tidak sabar Bagaimana rasanya sahabat dari Cindy." gumam Wira sambil menatap ke arah depan, tangannya disandarkan ke jendela yang kacanya terbuka, menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang paling santai.
Suasana kala itu terasa begitu indah, langit sore yang cerah dipadukan dengan warna kuning keemasan, burung-burung gereja terdengar berkicau dari pohon-pohon yang berdiri di halaman dan tepian jalan, loncat ke sana kemari dengan penuh keriangan, mencari tempat untuk menginap dengan yang tepat. anak-anak terlihat bermain di halaman perkiraan kosan, ada yang bermain petak umpet, Ada pula yang bermain kucing-kucingan, Ada pula yang duduk sambil memainkan gadgetnya.
Lama menunggu akhirnya dari dalam kosan keluar sosok wanita yang sangat cantik, dengan balutan baju yang sederhana. dengan tersenyum Dia mendekati Wira yang sabar menunggunya.
"Kamu sangat cantik ketika berdandan seperti ini, sangat natural tidak seperti wanita-wanita cantik yang hanya mengandalkan lukisan wajah." Puji Wira yang membuat hidung Clarissa sedikit kembang kempis.
"Aku bukan anak kecil yang mudah digombalin." jawab wanita itu dengan sedikit mendengus manja, namun tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
"Aku Bukan gombal, Aku berbicara apa adanya. Ayo masuk!" ajak Wira sambil membukakan pintu mobil dari dalam.
Clarissa tidak menjawab lagi dia pun berjalan ke arah samping kemudian masuk ke dalam mobil mewah itu, wajahnya dipenuhi kekaguman melihat interior yang begitu memukau yang belum pernah Ia lihat di mobil-mobil yang iya tumpangi
Wira yang memperhatikan semuanya dia merasa bangga dengan kekayaan yang ia miliki, dengan perlahan dia mulai menemukan tombol Start di mobilnya, sehingga mobil itu mengeluarkan suara yang begitu khas dan memukau. tanpa membuang waktu Wira pun pergi meninggalkan kosan kumuh milik Clarissa.
"Mau makan di mana?" tanya Wira memecah heningnya suasana di dalam mobil.
"Terserah, aku hanya diajak, pasti aku akan ikut asalkan itu tidak membahayakan diriku."
"Sejak kapan makanan bisa membahayakan manusia, bukannya dengan makan manusia itu bisa bertahan hidup?"
"Iya bisa bertahan hidup kalau makanan yang dimakannya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuhnya. tapi makanan itu bisa membunuh ketika yang memakannya memiliki alergi. banyak orang yang meninggal seketika karena tidak bisa memakan makanan tertentu."
"Oh iya, ya! Ternyata selain cantik kamu sangat pintar pengetahuanmu sangat luas." jawab Wira yang tidak pernah bosan melancarkan jurus-jurus mautnya.
"Jangan memuji terus, nanti kamu kecewa karena aku tidak sesuai dengan kenyataan."
"Aku tidak memujimu, aku hanya berkata jujur tentang apa yang kulihat Dan aku dengar.
"Kamu Ternyata benar-benar pandai membuat seseorang merasa nyaman dan terbang melupakan segalanya."
"Aku baru kali ini berbicara seperti itu kepada seorang wanita. sebelumnya aku belum pernah menemukan wanita yang sempurna seperti dirimu."
Obrolan pun terus berlanjut dengan jurus-jurus pujian buaya yang dikeluarkan begitu deras, membuat Clarissa terlihat senyum-senyum sendiri merasa bangga menjadi bahan pujian dari sosok pria yang yah kagumi kepribadian, tutur sapa dan gaya berbicara, membuat Clarissa semakin yakin bahwa Wira benar-benar Mencintainya. Padahal kalau dia mau sedikit menggunakan pikiran jernihnya, mana mungkin orang yang baru melihat bisa langsung jatuh cinta kecuali orang itu menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya.
Ketika mobil tiba di salah satu restoran, matahari yang sejak dari tadi hanya mengeluarkan warna oranye sedikit Jingga sekarang sudah bersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit menyisakan keindahan yang sebentar lagi akan hilang digantikan oleh gelapnya malam.
Clarissa kembali begitu Terpukau melihat restoran yang mereka kunjungi, restoran yang mewah di depannya terlihat kaca besar yang mengelilingi, menampilkan kursi kursi elegan dan cantik dari dalam, orang-orang yang berkunjung terlihat begitu istimewa dengan balutan pakaian-pakaian yang mahal.
"Kak Arfan, boleh nggak Makannya jangan di tempat seperti ini. Aku tidak biasa berada di tempat mewah, nanti aku bisa membuatmu malu karena aku hanya orang miskin yang tidak tahu cara bergaul dengan orang-orang kaya seperti kakak." Pinta Clarissa yang memegang tangan Wira ketika dia mau memasuki pintu besar yang terbuat dari kaca, memegang erat seolah akan dibawa ke tempat yang menyeramkan.
"Aku tidak malu, lagian aku yang membayar Kenapa kita harus malu dengan orang lain. mau bagaimanapun di sini kita adalah rajanya, sedangkan orang lain sama seperti kita. kecuali kalau kita ke sini untuk meminta barulah kita harus merasa malu."
"Tapi Kak, aku takut."
Mendengar perkataan Clarissa, Wira pun memegang bahunya kemudian menatap mata Gadis itu sehingga kepalanya tertunduk, mungkin merasa tidak kuat bertatapan dengan pria gagah sepertinya.
"Tatap mataku kalau kamu tidak percaya bahwa di dalam hatiku yang paling terdalam hanya ingin membahagiakanmu, hanya ingin memberikan seluruh yang aku miliki untukmu seorang." ujar Wira menguatkan wanita yang nampak kurang percaya diri.
"Aku tidak biasa, lihat pakaianku yang sederhana ini, nanti bukannya kita menikmati makanan yang ada kita malah risih dengan tatapan-tatapan penuh kecurigaan. Ayo kita cari tempat makan yang lain yang sederhana, yang sesuai dengan baju yang aku kenakan.
"Tidak apa-apa manusia itu dinilai bukan dari pakaian melainkan dari hati dan inner beauty yang keluar, Siapa tahu saja mereka yang menggunakan gaun yang mahal ketika tidak dirias Mereka pun akan lebih jelek daripada yang sekarang. ayo kita masuk, sesekali kita menikmati gaya hidup orang lain.
Perdebatan pun sedikit terjadi antara Clarissa dan Wira. yang satu mengajak untuk membalikkan tubuh, yang satu tetap memaksa agar makan di restoran mewah itu. namun setelah dipaksa beberapa kali akhirnya Clarissa pun mengalah dan melangkahkan kakinya memasuki restoran yang baru ia lihat keindahannya.
Setelah masuk di dalam ternyata prasangkaan Clarissa sangat salah, orang-orang yang berada di sana terlihat cuek tidak memperdulikan keadaan sekitar, terfokus menikmati makanan dan obrolan bersama keluarga. Untuk itu Clarissa merasa bangga karena Wira memilih tempat private yang tidak bisa dilihat orang lain dan dirinya pun tidak bisa melihat.
Acara makan malam pun berlangsung dengan begitu khidmat, makanan-makanan mewah dan sangat nikmat membuat Clarissa semakin yakin bahwa Wira adalah lelaki terbaik yang dikirimkan oleh Tuhan dari doa-doa yang selalu ia panjatkan.
Wira memperlakukan Clarissa dengan begitu lembut dan penuh perhatian, bahkan ketika ada nasi yang tertempel di bibirnya. dengan penuh kasih sayang Wira membuangnya, membuat mata Gadis itu sedikit terbelalak, mulutnya menganga, tidak menyangka akan diperlakukan seperti seorang bidadari.
Sambil makan mereka pun terus mengobrol membahas kesibukan sehari-hari, mulai dari Wira yang selalu sibuk dengan terobosan-terobosan perusahaan dan Clarissa yang pengalamannya hanya itu-itu saja. pagi berangkat ke toko, siang bertemu dengan pembeli, lalu sore pulang ke rumah untuk beristirahat.
Suasana pun semakin lama semakin malam matahari sudah tidak memberikan bekas sinarnya, digantikan lampu-lampu yang dinyalakan memenuhi seluruh penjuru Kota Jakarta. kira-kira pukul 09.00 malam Wira pun mengajak Clarissa untuk pulang kembali ke kosan.