"Clarissa masihkah kau berada di tempatmu?" tanya Wira setelah tidak mendapat Jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan.
"Iya aku masih di sini." jawab suara Clarissa yang terdengar lirih seperti bingung hendak memberikan jawaban. soalnya ketika dia mengiyakan ajakan dari Wira, pasti ada hati sahabatnya yang terluka.
"Kamu ada acara ya nanti malam?"
"Tidak ada." jawab Clarissa dengan hati yang tak karuan, di satu sisi Dia sangat kesal dengan kebohongan yang dibuat oleh Cindy, namun di sisi lain dia tidak ingin menjadi penghianat.
"Kalau tidak ada Bolehkah Nanti malam aku mengajakmu untuk makan bersama?"
"Jam berapa, Bukankah kamu akan menemani Cindy sekarang."
"Aku tidak akan menemaninya, aku akan membiarkan dirinya untuk tinggal di rumah, karena kalau aku usir aku merasa tidak enak."
"Kamu sebenarnya memilih siapa? jadi pria itu harus tegas tidak boleh Plin Plan dalam menentukan pilihan."
"Jujur aku ingin mengenal lebih dekat denganmu. Cindy Aku hanya menghargai perasaannya yang tidak ingin aku kecewakan."
"Apakah omonganmu bisa dipercaya?"
"Kalau aku orang yang tidak bisa dipercaya, Mana mungkin aku memberitahumu bahwa sahabatmu sedang menuju ke sini. aku tidak ingin melukai perasaanmu, namun aku juga tidak menginginkan melukai perasaan orang lain."
Clarissa terdengar menarik nafas dalam seperti ingin menghempaskan beban yang ada di dalam, membuat hati Wira sedikit berdegup dengan kencang, karena Kalau ditolak mungkin Clarissa adalah wanita yang pertama kali menolaknya.
"Baiklah kalau begitu nanti kabari saja kalau kamu mau menjemputku."
"Terima kasih, terima kasih banyak! kamu sudah memberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat."
"Tapi kamu harus berjanji bahwa rahasia ini hanya kita berdua yang tahu, jangan sampai Cindy mengetahui acara makan nanti malam, meski Dia sangat menyebalkan tapi aku sangat menghormatinya."
"Baiklah, sekali lagi Aku mau ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Ya sudah kamu lanjutkan beristirahat!"
Setelah berbasa-basi sebentar, Telepon pun dimatikan. Wira yang memandangi kesibukan kota Jakarta dari gedung pencakar langit, wajahnya terlihat mengikir senyum karena permintaan Clarissa adalah kemauannya.
"Siapa sih wanita yang mau menolak kegagahan dan kekayaanku, hanya wanita bodoh yang tidak memiliki keinginan hidup bahagia yang mau menolak." gumamnya dengan percaya diri.
"Memang kalau wanita itu bisa menyembuhkan penat dari banyaknya pekerjaan, menenangkan hati dari perasaan ketakutan. beruntung Pagi ini aku berlari sehingga satu kali dayung dua pulau terlampaui, sehingga aku bisa melupakan ketakutan gara-gara sering berkumpul dengan orang-orang yang cacat. Wira, Wira....! memang kamu adalah pria sejati yang mampu menaklukkan seluruh wanita. mau tua, mau muda, mau seumuran. mereka akan bertekuk lutut meminta belas kasihan dari cintamu."
Tring, tring, tring.
Bel rumah pun terdengar berbunyi, Wira yang sedang berada di dalam kamar dengan segera keluar untuk membuka pintunya. terlihatlah Cindy dengan mengulum senyum sudah berdiri di depan pintu.
"Ayo masuk!" ajak Wira dengan wajah ramahnya.
"Terima kasih, maaf mengganggu waktu istirahatmu."
"Tidak...! aku tidak merasa terganggu, justru aku merasa senang ketika ada yang menemaniku di rumah. maklum Aku pria yang sangat introvert yang tidak bisa berada di tempat keramaian, sehingga menghabiskan waktu libur berada di dalam rumah." seperti biasa Wira mengeluarkan jurus kebohongan, supaya dikasihani.
Kedua orang pun masuk ke ruang tamu, tapi ketika Cindy mau duduk dengan segera Wira pun menolak membuat Gadis itu merasa heran.
"Katanya kamu mau ikut tidur siang di rumahku, ya sudah Ayo ke kamar!"
"Ke kamar yang mana?" tanya Cindy yang berpura-pura ketakutan.
"Terserah, kamu kamu boleh menggunakan kamar yang mana yang kamu sukai. Kalau yang ini adalah kamarku."
"Emang aku boleh menginap di kamarmu?"
"Yah pasti bolehlah, kenapa aku harus melarang? namun kalau tidur di kamarku mau tidak mau harus aku temani."
"Itu lebih baik, supaya aku tidak kesepian. Dan kamu bisa menjaga barang berhargamu." jawab Cindy yang menggulung senyum membuat Wira mengerti kemana arah dan tujuannya.
Akhirnya kedua manusia yang berbeda jenis kelamin itu masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat luas, lengkap dengan fasilitas-fasilitas yang mewah. di sampingnya ada jendela yang besar yang menunjukkan keindahan kota Jakarta. mata Cindy seolah tidak mau berkedip menyaksikan kemegahan kamar orang kaya.
"Enak ya kamarmu luas dan sangat dingin, tidak seperti kamar kontrakanku yang pengap dan panas, Harus bersaing dengan Clarissa agar mendapatkan tiupan kipas angin." Puji Cindy yang duduk di tepian ranjang sampai tengah dari badannya tertelan oleh kasur yang sangat empuk.
"Yah beginilah kehidupan yang aku jalani, Aku selalu membuat nyaman tempat tinggalku agar aku betah di rumah. Namun sayang keindahan rumah ini tidak tersentuh oleh tangan perempuan, sehingga nampak berantakan seperti tidak terurus." Jawab Wira yang mendudukkan tubuhnya di samping Cindy.
"Yah cari dong agar rumah ini bisa disentuh oleh seorang perempuan."
"Aku tidak perlu mencari karena aku sudah menemukannya."
"Di mana?" tanya Cindy yang terlihat merubah raut wajahnya yang sedikit dipenuhi kekecewaan, khayalan indah hidup dengan kemewahan seketika sirna.
"Yah wanitanya sudah ada di hadapanku, tinggal Dia memberikan persetujuan Apakah dia mau berada di tempat ini atau menolak seperti perempuan-perempuan lainnya yang aku temui."
"Maksudnya?" tanya Cindy dengan menatap nanar ke arah wajah Wira yang sedang menatapnya, sehingga jantungnya mulai terasa berdegup dengan kencang, hatinya berdebar tak karuan mendapat tatapan dari pria yang penuh karismatik.
"Sejak tadi aku melihatmu dan Entah mengapa ketika kamu pergi meninggalkan rumah ini, seperti ada yang hilang dari Separuh Jiwaku." perkataan yang sama dilontarkan kepada sahabatnya Clarissa.
"Aku tidak paham dengan apa yang kamu sampaikan, coba kamu lebih jelas apa yang kamu maksud." pinta Cindy dengan menggulung senyum, Karena dia sudah bisa menebak apa yang ingin diutarakan oleh Wira.
"Aku menyukaimu Maukah kamu menjadi ratu di dalam istana kecilku ini?"
Mendapat pertanyaan yang mendadak Cindy hanya menundukkan kepala, melihat jari-jari kaki yang terlihat bersih dan sangat putih, seperti tidak berani menatap kembali ke arah wajah Wira.
Melihat buruannya yang menjadi salah tingkah, dengan segera Wira pun mengeluarkan jurus terakhir. Dia memegang tangan Cindy lalu mengusapnya dengan begitu lembut, bahkan dia memindahkan tempat duduknya yang semula dari atas kasur menjadi ke bawah lantai, seperti seorang pangeran yang sedang menyatakan cinta kepada sang putri.
"Tatap mataku Jika kamu ragu dengan apa yang aku ucapkan. Aku bersungguh-sungguh mencintaimu. apakah kamu bersedia menjadi Permaisuriku?" jurus rayuan maut mulai dikeluarkan membuat Cindy terhipnotis dan tanpa sadar dia pun menganggukkan kepala menerima apa yang diutarakan oleh Wira.
"Terima kasih, terima kasih banyak." lanjut Wira sambil berdiri kemudian membangkitkan tubuh sang tamu lalu memeluknya begitu erat, mencium aroma wangi yang tersebar dari tubuh gadis yang sudah berada dalam genggamannya.