Sangat Seru

1079 Kata
Setelah menyelesaikan warming up dan berbagai kebutuhan-kebutuhan untuk pertandingan kedua wanita yang akan bertanding pun mulai memasuki lapangan, disambut dengan tepuk tangan yang begitu meriah dari para penonton, sehingga suasana di gedung olahraga terasa begitu riuh, memberikan motivasi kepada kedua belah pihak yang akan bertanding memperebutkan juara. Setelah melakukan quintas Mereka pun bersiap di kedua Sisi lapangan untuk memulai pertandingan, hingga akhirnya peluit memulai pertarungan itu terdengar dibunyikan. Aluna yang mendapat kesempatan untuk melakukan servis pertama dia mengambil bola yang diselipkan di jari jari rodanya, dia mengangkat tinggi-tinggi lalu memukulnya ke arah lawan. Pertandingan tenis disabilitas antara Aluna dan Sumiati menjadi panggung pertarungan sengit yang penuh gairah. Mereka berdua, dengan kekuatan dan keuletan masing-masing, memberikan pertunjukan yang mengagumkan di lapangan tenis. Setiap pukulan bola dari raket Aluna diikuti oleh respons cepat Sumiati, menciptakan serangkaian pukulan saling membalas. Mereka berdua mengejar bola dengan determinasi, bergerak lincah di lapangan dan menghadapi tantangan dengan semangat yang luar biasa. Pertandingan semakin seru ketika Aluna berhasil menciptakan strategi menyerang, mengirim pukulan-pukulan mendalam dan akurat yang sulit diantisipasi oleh Sumiati. Namun, Sumiati tak mau kalah dan dengan keahliannya membalikkan serangan, menciptakan situasi jual beli serangan yang mendebarkan. Pada set terakhir, poin-poin penting menjadi penentu kemenangan. Aluna dan Sumiati sama-sama menunjukkan kecerdasan taktikal dan ketahanan mental. Suporter di pinggir lapangan memberikan sorakan dan tepuk tangan yang meriah, menciptakan atmosfer kompetitif yang memompa semangat kedua pemain. Akhirnya, dalam momen kritis, Aluna mampu menyelesaikan pertandingan dengan pukulan yang tak terduga, meraih poin penentu, dan memastikan kemenangan untuknya. Lapangan tenis bergemuruh dengan kegembiraan, dan Aluna dan Sumiati saling berjabat tangan dalam semangat sportivitas. Wira yang memperhatikan jalannya pertandingan yang terlihat begitu sengit, dia pun bertepuk tangan paling meriah menyemangati Aluna yang bermain cantik pada malam itu, dia tidak menyangka kalau menonton pertandingan orang-orang yang memiliki disabilitas tidak akan seseru seperti sekarang. "Hebat, memang benar-benar hebat kamu Aluna, kamu selain cantik Kamu sangat pandai bermain tenis layaknya sang atlet yang tidak memiliki kekurangan." Puji Wira di dalam hati tatapannya tidak terlepas dari Aluna yang terus mendapatkan tepuk tangan yang begitu meriah. Wira terus berada di lapangan sampai penyerahan medali kepada sang juara sampai ketika Aluna keluar dari lapangan, dengan segera Wira pun menghampiri membuat Gadis itu terlihat terkejut karena sejak dari tadi dia hanya fokus dengan pertandingan lawan yang begitu berat, sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitar. "Selamat ya, Kamu akhirnya jadi pemenangnya, Malam ini kamu sangat hebat!" ujar Wira sambil mengulurkan tangan memberikan selamat kepada orang yang baru menjadi Champion. "Terima kasih atas dukunganmu dan terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menonton pertandinganku." "Sama-sama, kamu benar-benar hebat malam ini, aku saja tadi menonton sampai tidak berkedip." "Wow aku merasa tersanjung dengan perkataanmu." "Kamu pantas mendapatkannya karena kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Oh iya Bagaimana dengan makan malam kita?" "Sebentar, Bolehkah aku membersihkan badan terlebih dahulu, dari keringat soalnya aku merasa gerah." "Boleh silakan!" "Ya sudah tunggu saja di depan, nanti aku akan menyusul." "Bolehkah aku mengantar dan menunggumu di depan toilet, Aku janji tidak akan berbuat apa-apa, Aku hanya tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun Tanpamu." "Aku yakin kamu bukan orang seperti itu, Kamu adalah pria yang baik yang dikagumi banyak wanita." jawab Aluna sambil menggerakkan kembali kursi roda diikuti oleh Wira yang berputar di belakangnya. Suasana lapangan tenis yang semula riuh dengan tepuk tangan para penonton mulai terlihat sepi, karena perlahan namun pasti para penonton pertandingan mulai pergi meninggalkan tempat yang menyajikan pertandingan seru untuk kembali pulang ke rumahnya. Aluna dan wira terus berjalan dengan kursi roda masing-masing, memasuki lorong yang di Sampingnya terlihat ada beberapa kursi roda yang sengaja disiapkan atau dititipkan. "Kamu tunggu di sini, Aku mau ganti baju terlebih dahulu." Pinta Aluna setelah beberapa meter melewati barisan kursi roda. "Baik aku akan menunggumu dengan penuh kesabaran." Aluna yang melemparkan senyum, dia pun mulai menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam salah satu ruang ganti, membuat Wira memindai keadaan sekitar yang terlihat nampak sepi, sehingga dia pun bangun dari tempat duduknya, meregangkan otot-otot yang terasa tegang setelah kelamaan duduk. "Ternyata Duduk terlalu lama di atas kursi roda membuat punggungku terasa sakit dan pegal," ungkap Wira dengan segera dia pun mendudukkan kembali tubuhnya di atas kursi roda lalu berjalan berputar-putar mendekat ke arah pintu untuk mendengarkan apa yang sedang dilakukan oleh Aluna. Crack, crack, crack, prak! Suara roda yang diputar terdengar sangat aneh seperti kekurangan pelumas, dan tiba-tiba roda itu macet tidak bisa diputarkan semakin Wira mencoba semakin susah roda itu bergerak. "Ah lah kenapa ini, kurang ajar kamu Lisa kamu memberikanku kursi roda yang buruk tidak bisa digunakan, kamu benar-benar mencuri atau sengaja mengerjaiku, beruntung saja di sini sangat sepi." Gerutunya yang bangkit dari kursi roda, kemudian dia mencoba mendorong kursi itu namun salah satu rodanya tidak bisa bergerak macet entah kenapa. "Waduh, waduh bagaimana ini?" ujar Wira yang mulai merasakan keringat dingin karena kalau kursi rodanya tidak berputar, maka acara yang sudah disusun rapi malam itu akan menjadi berat bahkan. Mata Wira yang memindai keadaan sekitar dan menangkap daratan kursi roda yang terparkir di samping lorong. mendapat ide, dia pun akan menukarkan kursi roda miliknya dengan salah satu kursi roda yang berada di tempat itu, mata Wira terus memilah dan memilih kursi roda yang mana yang akan ia gunakan. "Maaf telah membuatmu menunggu." terdengar suara orang dari dalam ruangan, membuat Wira kalang kabut tidak bisa memilih kursi roda yang mana yang akan ditukarkan dia mengambil kursi roda yang terdekat. Wira mendudukkan tubuhnya dengan tergesa-gesa takut ketahuan oleh Aluna yang sebentar lagi akan keluar, keringat dingin mulai bercucuran kalau ketahuan maka rencana yang sudah dibuat dengan begitu matang akan berantakan begitu saja. Dan yang paling parah mungkin Wira tidak akan bertemu lagi dengan gadis cantik itu. Ceklek! Pintu ruang ganti pun terbuka, lalu terdengar suara roda yang diputar dan muncullah Aluna yang sudah mengganti pakaiannya dengan menggunakan jaket yang berwarna merah muda, rambutnya yang diikat membuatnya terlihat begitu manis. "Maaf sudah membuatmu menunggu?" "Tidak apa-apa, aku senang kalau yang ditunggu adalah wanita yang sangat energik dan sang juara. sekali lagi aku ucapkan selamat atas keberhasilanmu." "Sama-sama, pujianmu sedikit memberikan nilai lebih sebagai pemenang. Oh ya ngomong-ngomong Kenapa kursi rodamu ganti?" tanya Aluna yang memindai tempat duduk yang digunakan oleh Wira. "Kursi roda, Aku macet sehingga aku meminjam salah satu kursi roda yang ada di sini." "Minjam ke siapa?" Tanya Aluna yang tidak terlepas dari senyumnya. "Tidak tahu, aku mau bertanya sama kamu kursi roda yang di sini milik siapa?" "Milik para pengunjung yang sedang berolahraga ataupun yang latihan, tapi kalau kamu pakai nggak apa-apa, Karena itu adalah kursi roda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN