"Terima kasih Lisa, kamu sudah membantuku. sekarang kamu boleh pulang!" ujar Wira sambil berlalu pergi masuk ke dalam gedung olahraga, meninggalkan asistennya yang menatap dengan penuh kekesalan.
"Kenapa aku bodoh, kenapa aku tidak langsung pulang saja, ngapain aku harus repot-repot mendorong orang yang berpura-pura cacat." gerutu Lisa yang merasa aneh dengan dirinya yang tidak bisa menolak semua permintaan Wira, meski permintaan itu bukan berhubungan dengan pekerjaan.
"Haduh aku benar-benar tidak mengerti kenapa diriku selalu diperdaya olehnya, padahal yang dia suruh tidak berhubungan dengan pekerjaan."
Tring, Tring, Tring.
Teleponnya tiba-tiba berbunyi dengan segera Elisa pun mengangkatnya, setelah diperhatikan ternyata suaminya yang memanggil.
"Halo, Iya Mas."
"Kamu sedang ada di mana, kok sampai malam begini belum sampai."
"Maaf Mas, atasanku meminta untuk mengantarnya ke gedung olahraga karena pagi tadi dia datang ke kantor dengan berlari, dia tidak sempat mengambil mobil."
"Sudah selesai pekerjaannya?"
"Sudah, sebentar lagi saya pulang."
"Oke Mas tunggu di rumah kamu hati-hati menyetir. karena Ibu sudah sampai di sini."
"Baik Mas, Terima kasih. Maaf sudah membuat Mas khawatir."
"Tidak apa-apa."
Setelah telepon terputus, Lisa pun dengan segera masuk ke dalam mobilnya kemudian menekan tombol starter lalu pergi meninggalkan GOR Senayan untuk pulang bertemu keluarga.
Jam 7 malam di kota Jakarta membawa suasana yang berbeda setelah sehari penuh aktivitas. Cahaya lampu jalan mulai bersinar, menciptakan gemerlap warna di sepanjang jalan-jalan yang penuh dengan aktivitas. Gedung-gedung tinggi perkantoran dan pusat perbelanjaan bersinar dengan cahaya neon yang menciptakan siluet modern. Restoran dan kafe di pinggir jalan mulai ramai, dengan pengunjung yang menikmati makan malam atau sekadar berkumpul bersama teman-teman. Aroma lezat dari pedagang kaki lima menggoda lidah dan menciptakan semarak di sepanjang trotoar.
Lalu lintas yang padat mulai mereda, namun masih ada sejumlah kendaraan yang melintas dengan kecepatan moderat. Suara hiruk-pikuk kota bergabung dengan klakson kendaraan, membentuk orkestra urban yang khas. Di taman-taman kota, terdengar suara musik jalanan dan pertunjukan kecil yang menambah kehidupan ke dalam suasana malam. Orang-orang duduk di taman dan trotoar, menikmati udara malam yang segar sambil menikmati keindahan kota yang terang benderang. Pada jam segitu, langit telah berubah menjadi warna biru tua sedikit keunguan menciptakan latar belakang yang dramatis bagi gedung-gedung pencakar langit. Jalanan yang dihiasi dengan lampu kendaraan menciptakan jejak cahaya yang berkilau di permukaan jalan.
Pada waktu keindahan malam terjadi Wira terus mendorong kursinya masuk ke dalam yang ternyata bukan hanya gelanggang olahraga saja. di tempat itu ada beberapa UMKM yang mencari kehidupan untuk keluarga. Setelah mendorong kursi beberapa saat Akhirnya dia pun tiba di pintu masuk ke lapangan, di sana terlihat ada beberapa penjaga dan penjual tiket. mungkin turnamen yang diadakan hanyalah turnamen kecil-kecilan sehingga tidak menyediakan loket khusus, mereka Langsung menjual tiket ke pengunjung yang datang.
"Apakah di sini pertandingan tenis?" tanya wira ke salah satu penjaga.
"Benar Pak, Hari ini adalah final turnamen antara Aluna versus Sumiati. Apakah bapak ingin menontonnya?"
"Benar, Boleh saya masuk?"
"Boleh Pak, tapi untuk mendukung kedua pemain tersebut Bapak diharuskan membeli tiket."
"Berapa?"
"Rp50.000."
Wira merogoh kantong jas yang dikenakan kemudian mengambil uang untuk membeli tiket, setelah mendapatkannya Wira pun diantar oleh salah satu petugas untuk menonton pertandingan, terlihatlah di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu pertandingan dimulai, karena pertandingan itu adalah pertandingan Puncak maka banyak orang yang merasa antusias untuk menonton pertandingan tersebut.
Wira memindai keadaan sekitar yang sedang riuh ramai membicarakan dan menebak-nebak bagaimana jalannya pertandingan nanti, membuat suasana riuh rendah penuh kegembiraan. bukan hanya orang yang disabilitas yang menonton, banyak orang-orang yang mensupport kegiatan-kegiatan untuk memberikan motivasi lebih kepada orang yang sedang diuji dengan musibah.
"Kapan pertandingan akan dimulai?" tanya Wira kepada seorang bapak-bapak yang sama duduk di kursi roda.
"Mungkin sekitar 5 menit lagi, ini baru jam 06.55 karena sesuai dengan tiket yang kita beli pertandingan akan dimulai ketika jam 07.00 pas."
"Kok para pemainnya belum memasuki lapangan untuk melakukan warming up?"
"Mungkin mereka makan dulu atau sedang menuju ke tempat ini." jawab bapak-bapak itu seenaknya.
Mata Wira terus menatap ke arah lapangan membayangkan Bagaimana Aluna yang sedang didekatinya bertanding karena dia belum pernah melihat orang yang duduk di kursi roda melakukan permainan Tenis. Apakah permainan itu akan seru seperti pertandingan orang-orang normal pada umumnya atau hanya kebosanan yang akan dia dapat.
"Selamat malam para penonton yang sudah meluangkan waktu untuk menyampaikan pertandingan big match malam ini yang akan mempertemukan petenis andalan kita Aluna Cynthia Sari berhadapan dengan Sumiati Clarissa Dewi." terdengar suara seseorang yang berbicara lewat microphone membuat suasana di tempat itu semakin terasa riuh dengan tepuk tangan yang begitu meriah.
Untuk itu kita Jangan membuang waktu, kita sambut kedua atlet Hebat kita Aluna Chintya Sari, Berikan tepuk tangan yang begitu meriah." Lanjut suara orang dalam microphone.
Dari arah pintu masuk terlihat ada sosok wanita yang terlihat cantik, kala itu dia mengenakan baju olahraga yang ketat membusungkan kedua dadanya. tangannya terus menggerakkan kursi menuju ke lapangan pertandingan, disambut dengan siulan dan tepuk tangan yang begitu meriah. Wira yang menunggu kedatangan wanita itu dia terlihat Terpukau oleh kecantikannya kursi roda yang selalu menjadi pijakan, tidak membuatnya terlihat begitu buruk.
Aluna yang mendapat sambutan begitu meriah dia pun melempar senyum termanisnya kepada semua penonton yang sudah menyempatkan waktu mengisi malam minggu untuk memberikan motivasi terhadapnya.
"Dan sambut dengan tepuk tangan yang lebih meriah karena inilah sang juara bertahan kita. Sumiati Clarissa Dewi." Lanjutnya dengan sosok wanita yang akan menjadi lawan Aluna, dia pun sama menggunakan kursi roda membuat para penonton menyambutnya dengan begitu meriah.
Kedua pemain yang sudah sama-sama memasuki lapangan, mereka berdua menyiapkan alat-alat penunjang pertandingan mulai dari raket, bola, mengenakan pengaman dan hal-hal penting sebelum melakukan pertandingan. ditemani oleh riuh rendah para penonton yang begitu antusias menyambut pertandingan final.
Terdengar beberapa orang yang meneriakan yel-yel untuk menyemangati dua belah pihak yang akan bertarung memperebutkan label juara, nama Aluna dan Sumiati terdengar mengaum memenuhi Gelora gedung olahraga. Wira yang sejak dari tadi memperhatikan dia pun mengulum senyum merasa bangga memiliki kekasih yang begitu bersemangat.
"Kamu memang sangat cantik, dengan menggunakan pakaian olahraga memamerkan lekuk tubuh yang begitu indah, meski kamu hanya wanita berkursi roda." gumam hati Wira yang perlahan-lahan mulai mengagumi kecantikan Aluna yang tampil sangat berbeda untuk pertemuan ketiga kalinya.