Suasana sore di kota Jakarta membawa kehidupan ke jalanan yang padat. Gedung-gedung perkantoran bersinar di bawah sinar matahari yang merah jingga, menciptakan pemandangan perkotaan yang berkilauan di cakrawala. Lampu lalu lintas mulai menyala satu per satu, menandakan sibuknya jam pulang kerja.
Jalan-jalan yang biasanya ramai dengan kendaraan kini dipadati oleh mobil-mobil pekerja yang pulang. Suara klakson, suara mesin, dan hiruk-pikuk lalu lintas menciptakan simfoni khas Jakarta di sore hari.
Mobil Lisa melaju di antara kepadatan lalu lintas, mengikuti alur kendaraan yang bergerak perlahan. Cahaya sore yang meluncur di antara gedung-gedung menciptakan bayangan yang terpancar di jendela mobilnya. Pohon-pohon di trotoar memberikan sedikit naungan pada pejalan kaki yang bergegas pulang.
Meski lalu lintas dapat menjadi tantangan, namun di dalam mobil, Lisa yang seharusnya merasa lega setelah selesai dengan rutinitas kerja namun kala itu mersa kesal dengan penumpang gelap yang cengar cengir disampingnya. Musik dari radio mobil menemani perjalanannya, tidak menciptakan suasana yang lebih santai di tengah kebisingan kota.
Seiring matahari merosot di horizon, warna-warni langit berubah menjadi nuansa oranye dan merah yang memukau. Sore di kota Jakarta adalah momen transisi dari kesibukan siang ke ketenangan malam bagi orang yang menikmati perjalan.
"Apa kamu tahu GOR Senayan?" Tanya Wira membuka keheningan di dalam mobil.
"Senayan Gelora Bung Karno?"
"Memangnya Senayan Soekarno berada di Jalan Ambarwati?" tanya Wira yang menatap ke arah Lisa yang sedang fokus dengan jalan yang akan dilalui.
"Nggak, Senayan Bung Karno berada di Tanah Abang. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, kamu tahu jalan Ambarwati?"
"Tahu, tapi sangat Macet kalau ke sana. Apalagi bertepatan dengan malam Minggu malam di mana orang akan menikmati malam yang panjang."
"Katanya Di sana ada gelanggang olahraga tenis?" Seperti biasa Wira tidak akan memperdulikan penjelasan dari Lisa.
"Terus mau apa?" tanya Lisa yang sudah merasakan perasaan yang tidak enak.
"Kamu jangan antarkan saya pulang, tapi antarkan saya ke sana!"
"Itu kan lebih jauh dari rumah bapak dan jalan yang akan kita lewati lebih macet."
"Tolonglah, tolong...! aku bingung mau minta tolong dengan siapa lagi, kalau bukan denganmu asisten terbaikku di dunia ini." jawab Wira dengan wajah memelas membuat Lisa semakin mendengus dengan kesal karena penumpang gelapnya sangat merepotkan.
"Bisa nggak sih kalau memiliki keinginan itu dijalankan sendirian, tidak usah merepotkan orang lain. Ingat aku bukan asistenmu di luar kantor."
"Inginnya aku seperti itu, tapi seperti yang kamu ketahui aku selalu sibuk di kantor, tidak ada waktu untuk beristirahat. sehingga waktu pulang seperti inilah waktu yang tepat untuk melepaskan lelah setelah seharian bekerja dengan duduk tanpa harus memikirkan kemacetan."
Lisa yang sudah kesal memenuhi ubun-ubun dia tidak menggubrisnya, dia menatap ke arah depan memperhatikan mobil yang maju dengan perlahan, ketika ada pertigaan dia mengambil ke arah kiri lalu lalu terus berjuang dengan kemacetan.
Suasana yang semula terlihat begitu terang perlahan mulai meredup, menyisakan warna kuning keemasan yang terpancar dari gedung-gedung pencakar langit. lampu-lampu yang berdiri di samping kanan kiri jalan satu persatu perlahan mulai menyala, menyambut kedatangan sang malam yang akan sangat menggairahkan kota Jakarta karena malam itu adalah malam hiburan.
Pedagang kaki lima yang selalu menjadi pemandangan unik di setiap trotoar mulai menjajakan makanan yang dipesan oleh para pelanggan, menambah kemeriahan malam yang akan terasa sangat panjang dengan perlahan sejak pun mulai menghilang digantikan gelap malam yang mengusir sayap-sayap siap.
Lisa terus berkonsentrasi dengan kemudi yang berada di hadapan, matanya menatap tajam ke arah mobil yang melaju dengan perlahan, inginnya dia berteriak melepaskan semua kekesalan, namun itu hanyalah angan-angan soalnya dia hanyalah bawahan yang harus selalu mengikuti semua perintah sang atasan, meski perintah itu tidak masuk dalam job desk pekerjaan.
Lama berjuang, akhirnya mereka pun tiba di tempat yang dituju, dengan segera Wira pun keluar dengan tergesa-gesa Mungkin dia takut ada Aluna yang mengetahui kalau dirinya bisa berjalan menggunakan kedua kaki.
"Buka bagasinya!" Pinta Wira dengan memunculkan wajah di jendela mobil yang dibuka.
"Halah merepotkan saja." jawab Lisa sambil menekan tombol dengan segera Wira pun berlari ke belakang untuk mengambil kursi roda.
Setelah kursi roda dikeluarkan dia pun melebarkan tempat duduknya, agar tubuhnya yang berpura-pura lumpuh bisa semakin terlihat kenyataan. Setelah semuanya dirasa rapi Wira mulai menggerakkan rodanya untuk segera pergi meninggalkan Lisa, namun GOR yang akan dimasuki memiliki tangga.
"Apakah aku bisa menaiki tangga ini yang kayaknya lumayan tinggi?" gumam hati Wira sambil memindai keadaan sekitar, dia merasa kebingungan Bagaimana caranya menjalankan roda di tempat yang memiliki kemiringan.
"Aku coba saja, pasti bisa!" lanjutnya menguatkan hati sambil mulai mencoba menaiki lantai yang miring, namun Baru beberapa senti saja meninggalkan tempat parkiran kursi rodanya turun kembali. Wira yang tidak pernah patah semangat dia pun mencoba beberapa kali namun dia tetap tidak bisa melakukannya, hingga akhirnya dia pun melirik ke arah Lisa yang sejak dari tadi masih menunggu karena Wira belum berpamitan.
"Bantu aku Lisa!" Pinta Wira kepada asistennya.
"Bantu untuk apa?" tanya Lisa yang masih merasa jengkel dengan kelakuan Sang atasan.
"Bantu aku, menaiki tangga ini!"
"Kamu tinggal berdiri dan mendorongnya, lalu kamu bisa duduk kembali."
"Aku nggak bisa berdiri Lisa, tolong bantu aku!" jawab Wira dengan memelas karena dia melihat beberapa penyandang disabilitas yang datang, dia tidak mau kalau penyamarannya akan diketahui oleh orang lain. mungkin saja salah satu penyandang disabilitas yang hadir ke pertandingan adalah teman dari Aluna.
"Tolonglah Lisa, tolong dorong aku untuk naik ke atas!" pinta Wira untuk yang kedua kalinya Karena Lisa tidak mau turun dari mobil.
"Mbak, tolonglah Kasihan! kenapa jadi orang tidak peka dengan orang yang membutuhkan pertolongan," pinta salah seorang yang melihat wira kesusahan, Bukannya dia menolong malah mencibir Lisa yang seperti tidak mempunyai hati.
"Dia itu tidak cacat, dia berpura-pura."
"Kalau mbak gak mau menolong, kasihan banget keterlaluan ada orang seperti Mbak yang membiarkan suaminya kesusahan, tidak seperti Ketika sering memberikan uang." ujar orang yang lewat sambil berlalu pergi membuat Lisa semakin merasa jengkel dengan tingkah laku Wira.
"Lisa tolong bantu aku, tolong aku untuk menaiki tangga." Renget Wira Tak ubahnya seperti anak kecil yang baru bisa berjalan.
Dengan wajah yang masam Lisa pun keluar dari mobilnya kemudian membanting pintu dengan keras, membuat orang-orang yang berlalu Lalang terlihat memindai ke arahnya, dengan Tatapan yang sinis seolah Lisa adalah orang yang banyak memiliki dosa.
"Kenapa sih kamu merepotkan saja, kalau kamu mau kamu bisa berdiri dan kamu dorong kursinya, lalu kamu duduk kembali." gerutunya Setelah tiba di belakang.
"Kamu tidak akan mengerti tentang perjuangan cinta. Ya sudah kamu jangan banyak berbicara, Tolong segera dorong aku untuk naik ke atas."
Dengan wajah yang kesal Lisa pun mendorong kursi roda untuk menaiki tangga, membuat Wira mengulum senyum karena apa yang sudah direncanakan berjalan sebagaimana mestinya.