Setelah Aluna keluar meninggalkan ruang kerja dengan segera Wira pun loncat dari tempat duduknya, kemudian merapihkan celana yang tadi belum terpakai dengan sempurna.
"Lisa!" Panggil Wira setelah ia duduk di kursi eksekutifnya, dengan menekan tombol yang selalu terhubung ke ruangan sang sekretaris.
"Yah Ada apa Pak?" jawab bisa yang terlihat menekan tombol telepon.
"Tolong siapkan sebuah kursi roda."
"Kursi roda, Maksudnya bagaimana?" tanya Lisa yang terdengar kebingungan dengan permintaan sang atasan yang tidak masuk akal.
"Kursi yang ada rodanya untuk membantu menunjang aktivitas disabilitas."
"Maksud saya untuk apa mencari barang yang seperti itu?"
"Kamu sebagai bawahan tidak usah banyak bertanya, tugasmu hanya melaksanakan perintah atasan."
"Tidak bisa, karena ini di luar job desk saya."
"Ingat di peraturan pekerjaan, seorang asisten tidak boleh menolak keinginan atasan, walaupun permintaan itu tidak sesuai dengan job desk kerja. karena apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin pasti ada maksud dan tujuan memajukan perusahaan."
"Selalu saja seperti itu, Kapan saya harus mencarinya?"
"Sekarang. aku butuh buat nanti sore tapi lebih baik lebih cepat."
"Di mana saya mencarinya?"
Kamu tinggal pergi ke panti jompo atau ke sebuah rumah sakit, kamu bisa mencurinya satu di sana!"
Mendengar jawaban dari atasannya Lisa pun terdiam karena di depan ruangan yang berlapis kaca terlihat ada seorang wanita cantik yang sedang memutarkan kursi roda, sehingga Lisa mulai paham Ke mana arah pembicaraan sang atasan.
"Memang benar-benar b******k, dasar laki-laki tidak tahu di Untung sudah memiliki kaki ingin menggunakan kursi roda. semoga saja itu benar-benar terjadi."
"Kalau mau mengumpat lepaskan tanganmu dari tombol itu, karena aku bisa mendengarnya." Sahut Wira yang Mendengar pembicaraan Lisa, karena tangan asisten masih menekan tombol ketika mereka hendak berbicara melalui telepon automatic.
"b******k, b******k! Aku benci benda ini." gumam Lisa sambil menghempaskan telepon yang sedang digenggam.
"Tolong panggilkan Andi ke ruangan saya, suruh dia untuk menemani saya menemui klien dan kamu tolong secepatnya temukan kursi roda."
"Yah, yah, terserah kamu!"
Suasana pagi, CEO Sportiva memulai rutinitas kesehariannya dengan energi yang tinggi. Apalagi sebelumnya Bertemu dengan wanita yang sedang ia dekati membuat semangat sang CEO bertambah di dalam kantor yang modern dan dinamis, ditemani aroma kopi segar dari kafe di lobi.
Ruangannya yang luas dan minimalis segera menjadi pusat strategi bisnis. Sebelum bertemu dengan klien, CEO menyusun prioritas dan merinci agenda pertemuannya. Layar komputer besar menampilkan data terbaru tentang kinerja perusahaan, tren industri, dan perkembangan terkini.
Pertemuan melibatkan calon investor yang strategis, di mana CEO bersama dengan staf kantor menerangkan keuntungan-keuntungan yang akan didapat menciptakan strategi baru, dan Menjelaskan nilai-nilai lain dari kerjasama yang akan mereka jalani. Suasana ruangan penuh semangat dan ide-ide kreatif yang mengalir di setiap sudut.
Setelah bertemu dengan klien, wira menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan karyawan di seluruh lantai kantor. Dia berbicara dengan timnya, memberikan dorongan motivasi, dan mendengarkan masukan dari semua tingkatan organisasi. Pintu terbuka CEO menjadi simbol kolaborasi dan budaya kerja yang inklusif.
Selama siang hari, CEO terlibat dalam pertemuan dengan mitra bisnis, melakukan negosiasi strategis, dan memberikan presentasi di konferensi industri. Dia menjalankan tanggung jawab eksekutifnya dengan percaya diri, memimpin dengan integritas, dan memastikan visi perusahaan terwujud.
Setelah jam kerja berakhir, Wira yang sangat mencintai olah raga dia menyisihkan waktu untuk sesi latihan fisik, menekankan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kebugaran. Hingga pukul 05.00 sore barulah dia membersihkan tubuh di kantornya.
Truk, truk, truk.
"Masuk!" Pinta Wira yang terlihat sudah rapi mengenakan pakaian yang bersih.
Pintu ruangan kantor pun didorong terlihatlah ada seorang wanita yang yang masuk ke dalam dengan mendorong sebuah kursi roda, wajahnya terlihat sangat lesu karena seharian ini dia harus berkeliling mencari-cari benda yang dibutuhkan untuk melengkapi penyamaran.
"Lama amat kamu mencarinya padahal kamu tinggal ngambil di salah satu panti jompo."
"Lagian Apa susahnya sih beli yang baru, daripada mencari yang usang seperti ini?"
"Kamu tidak akan mengerti tentang sebuah arti perjuangan Lisa. Ya sudah kamu boleh pergi dan beristirahat di rumah, Terima kasih atas bantuanmu Hari ini, aku sudah memberikan bonus dari rekening pribadiku Selamat berakhir pekan bersama keluarga salam buat suamimu yang wajahnya kaku." Jawab bila yang diakhiri dengan mengulum senyum.
"Jangan bapak kira kalau saya berada di sini hanya untuk uang, saya berada di sini untuk berkembang menjadi lebih baik dengan menuangkan kemampuan saya untuk memajukan perusahaan, tapi apa yang saya dapat, akhir-akhir ini saya disuruh mencari baju bekas, disuruh Mencari kursi roda bekas, besok apalagi yang akan Bapak serukan!"
"Besok kan hari Minggu, kamu boleh menikmati liburan bersama keluarga." jawab Wira dengan acuhnya tak sesuai dengan keluhan sang asisten.
"Bisa nggak sih saya keluar dari tempat terkutuk ini?"
"Silakan Ini sudah waktunya pulang, nanti masukkan ke waktu Lembur karena kamu bekerja seharian penuh di hari Sabtu. Dan jangan lupa nanti hari Senin jangan telat!"
Mendengar jawaban atasan yang sangat melantur Lisa yang sudah merasa kelelahan dan ingin membaringkan tubuhnya ke atas kasur menikmati rasa lelah dengan berkat. dengan segera meninggalkan ruangan Wira tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Melihat sang asistennya marah Wira hanya mengulum senyum karena sudah sangat hafal dengan tingkah laku kedua bawahannya yang terbilang sangat dekat, sehingga dia yakin kalau asistennya akan kembali baik ketika hari Senin tiba.
"Halah kenapa aku lupa kalau hari ini aku tidak membawa mobil." gumam Wira dengan segera dia pun mengambil handphone kemudian menelepon nomor asistennya.
Tuuuuuuut, tuuuuuut, tut.
Lama menunggu sampai panggilan berakhir Lisa tetap tidak menjawab, membuat Wira sedikit khawatir bagaimana dia pulang ke apartemennya, Wira mengulang kembali pemanggilan itu sehingga beberapa kali memanggil akhirnya Lisa pun mengangkat.
"Ada apa lagi bukannya saya disuruh pulang?" tanya Lisa dengan ada Ketus.
"Tadi pagi aku datang ke sini dengan berlari, sehingga aku tidak membawa mobil. aku ikut pulang sama kamu ya!"
"Kita kan nggak searah Pak Bapak bisa pulang naik mobil online."
"Aku tidak biasa dengan orang baru, Tolong tunggu aku di parkiran."
"Tidak bisa Pak Saya memiliki janji dengan keluarga.
"Tidak akan lama lagian cuma mengantar saya pulang terus kamu pulang lagi dan menikmati malam minggu bersama keluarga." Jelas Wira yang selalu menyepelekan masalah orang lain.
"Mohon maaf pak ini sudah di luar jam kerja.
"Tolong saya! aku tidak tahu meminta tolong sama siapa lagi."
"Halah merepotkan saja! tapi benar kan Coba mengantarkan pulang." Jawab bisa yang selalu tidak bisa menolak.
"Iya kamu tidak percaya banget sih sama saya, Padahal saya atasan yang sudah bekerja lama denganmu."
"Dasar resek! selalu saja bersembunyi di balik kata atasan untuk membenarkan semua kesalahan."
Telepon pun terputus dengan segera Wira keluar dari kantornya, tak lupa dia mendorong kursi roda untuk turun ke bawah. Sesampainya di lobby gedung terlihat Lisa sudah menunggu tanpa membuang waktu dia pun memasukkan kursi roda ke dalam mobil, lalu duduk di samping sang asisten dengan wajah cungar-cengir tampak ada sedikit raut bersalah tersemat di sana.