Janji

1010 Kata
"Masuk!" seru Wira kepada asistennya, sehingga pintu yang tadi terketuk mulai terbuka dengan sedikit cepat lalu muncullah Lisa dengan wajah sedikit panik. "Ada apa Lisa, kok kamu seperti ketakutan?" tanyanya menatap heran ke arah sang asisten. "Lihat jam di dinding, sebentar lagi sudah menunjukkan pukul 09.00, ingat kita sudah memiliki janji untuk bertemu klien dan sebentar lagi mereka akan tiba di kantor kita. aku mohon kamu segera bersiap-siap!" jawab Lisa yang selalu Sigap dalam menangani pekerjaan, dia tidak mau kalau ada klien yang kecewa atas penyambutan kurang baik dari sang atasan. "Ini masih lama, jadi kamu santai saja terlebih dahulu, jangan tegang seperti sekarang!" "Masalahnya proyek yang kita bahas, bukan proyek seribu, dua ribu, ini proyek miliaran yang menyangkut kelanjutan kehidupan Perusahaan kita. jadi sebaiknya kamu secepatnya menyiapkan diri!" "Lisa kumohon sebentar saja, Aku sedang mengobrol dengan Aluna. aku tidak enak kalau tidak menghormati tamuku." "Sesukamu, tapi ingat jam 09.00 tepat kamu harus sudah berada di ruang pertemuan. perusahaan ini ada di genggamanmu dan di dalam tanggung jawabmu." "Iya, iya Lisa! aku sangat mengerti. ya sudah tinggalkan aku sekarang!" "Terserah!" jawab Lisa dengan Ketus, tanpa menunggu jawaban lagi dia pun pergi meninggalkan ruangan San CEO. Aluna yang memperhatikan obrolan atasan dan bawahan, dia merasa tidak enak karena kedatangannya mengganggu pekerjaan orang lain, sehingga dia pun memutuskan untuk secepatnya pergi meninggalkan Wira. meski obrolan mereka sedang seru-serunya, Wira yang mulai terlihat Interactive membuat aluna semakin bersemangat untuk menyemangatinya. "Mohon maaf kalau kedatanganku mengganggu. untuk itu aku mohon pamit undur diri. sekali lagi aku mohon maaf kalau aku datang tidak tepat waktu." ujar Aluna yang terlihat mengulum senyum, mungkin merasa lucu melihat kedekatan atasan dengan staf asistennya yang seperti seorang sahabat. "Jadi intinya kita tidak bisa menikmati malam minggu bersama?" Jawab Wira malah balik bertanya. "Kalau kamu mau menunggu, kita bisa pergi setelah aku menyelesaikan pertandingan." "Memangnya pertandingan tenismu Pukul berapa?" Tanya Wira yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu agar lebih mengenal dekat sosok gadis berkursi roda itu. "Pukul 07.00 di GOR Senayan yang berada di jalan Ambarwati. kamu tahu itu?" "Aku tahu GOR Senayan, karena GOR itu adalah GOR terbesar yang berada di kota Jakarta, dan kami sedang berencana untuk mensponsori kegiatan acara di sana." "Apakah yang kamu bicarakan serius?" "Perusahaanku yang bergerak di bidang olahraga harus menyasar semua sektor perolahragaan, baik dari yang normal maupun yang disabilitas, karena seperti motto perusahaan kami berlari dengan kencang, dan semua orang harus bisa tidak membeda-bedakan tentang sosial ataupun keadaan." "Wow...! kamu memang benar-benar luar biasa, aku salut denganmu." "Begitulah tugasnya seorang pemimpin yang harus bisa memberikan kepemimpinan baik di dalam perusahaan ataupun di luar perusahaan." jawab Wira dengan angkuhnya, padahal sebenarnya dia tidak mengenal GOR itu, dan GOR Senayan bukanlah GOR terbesar, Wira hanya asal menebak Mungkin dia kira GOR yang disebut oleh Aluna adalah gedung olahraga di Senayan Bung Karno. "Hebat! semoga antusiasme kamu bisa memberikan semangat bagi kami kami yang suka dipandang sebelah mata." "Ah itu biasa saja. Oh ya kira-kira aku boleh datang menonton pertandinganmu?" tanya Wira yang secepatnya ingin menaklukkan Aluna. "Semua orang bisa datang ke sana, Tapi melihat kesibukanmu sekarang aku tidak yakin kamu memiliki waktu." "Aku pasti akan menyempatkan diri, di tempat di mana aku akan berinvestasi di sana." "Baik kalau begitu, aku tunggu." Tring, tring, tring. Telepon otomatis yang berada di ruangan kerja Wira berdering, sehingga dengan segera dia pun menekan tombol untuk mengangkat panggilan itu. "Ada apa Lisa?" "Klien yang akan bertemu sudah menunggu di ruangan Tunggu, Apakah saya harus menjadwalkan ulang pertemuan dengannya?" "Kalau bisa kamu Jadwal ulang saja, karena Sekarang aku sedang sibuk." "Kalau dijadwalkan ulang nanti klien kita akan kecewa, syukur-syukur mereka masih mau bekerja sama dengan perusahaan kita, bagaimana proyek yang sangat besar nilainya itu diambil oleh perusahaan yang lain, karena sebelum mereka menjalin kerjasama dengan kita, banyak perusahaan yang bergerak di bidang olahraga yang mengajukan tawaran terbaik, Namun Perusahaan kita yang terpilih." "Ya sudah kalau begitu suruh mereka tunggu beberapa menit, karena aku masih sibuk." "Mereka itu memiliki waktu yang sangat padat, mereka menyempatkan dan meluangkan waktu untuk menemui kita. apakah itu masih bisa di tolelir?" "Itu tugasnya bawahan untuk meyakinkan mereka agar tetap mau bekerja sama dengan kita. Ya sudah jangan mengganggu!" ujar Wira sambil menonaktifkan teleponnya, membuat Lisa terlihat kesal karena semua staf dan jajaran Kantor Perusahaan Sportiva sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan tender itu, namun sekarang akan gagal hanya dengan keegoisan sang atasan. "Aku benar-benar harus pergi, maaf sudah mengganggu waktu kerjamu." ujar Aluna yang merasa tidak enak meski Wira membelanya. "Yah beginilah pekerjaan sebagai seorang CEO yang sangat merepotkan, kita harus terus bertemu dengan orang-orang agar bisa menghidupi seluruh karyawan." "Aku salut dengan kegigihanmu meski dengan keterbatasan namun pergerakanmu tidak terbatas. kalau kita terus mengobrol Kamu tidak akan bekerja, aku pamit. jawab Aluna sambil menggerakkan kursi rodanya untuk segera meninggalkan ruangan kerja sang CEO, dia bukan tidak betah berlama-lama mengobrol dengan Wira namun keadaan lah yang memaksanya untuk segera pergi. "Aluna...!" Panggil Wira ketika gadis cantik ber kursi roda itu hendak membuka pintu. "Yah, kenapa?" tanyanya sambil membalikkan kembali kursi roda, membuat kedua tetapan itu beradu menimbulkan getaran-getaran yang memenuhi d**a, namun belum bisa diartikan getaran Apa yang sedang mereka rasakan. "Ada dua hal yang aku pelajari hari ini." "Apa itu?" tanya Aluna dengan mengerutkan dahi membuatnya terlihat imut dan menggemaskan. "Pertama Aku mulai suka berlama-lama mengobrol denganmu, aku seolah menemukan kehidupan baru yang diberikan oleh semangatmu." "Dan yang kedua?" "Pagi ini kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian olahraga yang dikenakan, kamu layaknya seorang atlet profesional." Puji Wira dengan pakaian yang digunakan oleh Aluna karena hari itu Aluna tidak seformal ketika bertemu di rumah hari itu Aluna terlihat sangat berbeda dengan memakai Training dan jaket olahraga, Mungkin dia berangkat ke tempat itu sekalian berolahraga. "Terima kasih kamu juga terlihat keren dengan setelan kemeja dan celana bahan seperti sekarang, terlihat lebih formal dan Natural. sampai ketemu nanti malam!" jawab Aluna yang tidak mau membuang waktu lagi dengan segera dia pun membalikkan kembali kursi roda menghadap ke arah pintu untuk segera pergi meninggalkan tempat kerja, soalnya dari ruangan itu Lisa terlihat sangat gelisah menunggu kepastian dari sang atasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN