Aluna terus memutarkan kursi rodanya mendekat ke arah Wira yang sedang duduk di atas meja, dia bingung harus duduk di tempat Apalagi, soalnya kursi roda yang ia kenakan tertinggal di rumah.
"Kalau begitu saya tinggal dulu, ingat kita sebentar lagi akan bertemu klien." pamit Lisa sambil manggut memberi hormat kepada atasan dan tamunya.
"Terima kasih Lisa." jawab Wira yang melingkarkan ibu jari dan telunjuknya Bahkan dia mengedipkan sebelah mata.
Sepeningal sang asisten, sempat terjadi kekakuan antara Wira dan Aluna, karena mereka yang baru pertama kali lagi bertemu, sehingga mungkin membuatnya agak sedikit harus beradaptasi kembali.
Di ruangan CEO yang luas, pagi hari dimulai dengan ketenangan yang diiringi oleh gemuruh kota yang mulai terbangun. Cahaya matahari pertama menerobos melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan kilau lembut di atas furnitur mewah dan perabotan desain yang bersusun rapi.
Suara langkah kaki tenang mungkin terdengar ketika asisten pribadi dan staf setia mempersiapkan ruangan. Bau harum kopi segar dari mug berlogo perusahaan menambah aroma menyegarkan di ruangan, memberikan semangat untuk memulai hari.
CEO yang seharusnya duduk di kursi eksekutif yang megah, dikelilingi oleh layar komputer dan dokumen-dokumen strategis, namun kalau itu hanya terdiam membisu seolah kehabisan pembicaraan. Pemandangan dari lantai tinggi menampilkan kota yang mulai beraktivitas, dengan kendaraan yang bergerak lambat di jalanan di bawahnya.
Pada meja kerja di samping tempat yang diduduki terdapat rangkaian bunga segar dan beberapa artefak yang memberikan sentuhan personal. Sebuah motor perusahaan yang didesain dengan cermat menghiasi dinding, menciptakan nuansa etos kerja yang sangat kuat di ruangan tersebut.
"Maaf mengganggu." ujar Aluna mulai membuka kembali pembicaraan membaca kekakuan yang sudah terasa berlarut.
"Tidak, aku tidak terganggu kalau pagi ini jadwal kantor belum tersusun."
"Aku sudah menerima pesanmu."
"Pesan yang tadi pagi, yang aku kirimkan?" tanya Wira memastikan.
"Iya, aku selalu menonaktifkan handphone ketika aku beristirahat supaya aku memiliki tidur yang berkualitas."
"Memangnya berpengaruh ketika handphone menyala dengan tidur yang berkualitas?"
"Menurut keterangan Yang aku baca dari beberapa artikel memang seharusnya ketika kita tidur kita mematikan handphone. agar tidak ada paparan radiasi yang mengganggu otak kita. jadi mohon maaf kalau pagi-pagi tidak bisa menelepon secara langsung."
"Tidak apa-apa, yang terpenting pesanku sudah kamu dengar dan kamu terima."
"Iya sudah aku terima, namun mohon maaf." ujar Aluna tidak langsung melanjutkan perkataan membuat hati Wira sedikit berdegup kencang, takut gadis berkursi roda itu menolak keinginannya untuk bermalam mingguan bersama.
"Maaf kenapa?"
"Aku sudah memiliki jadwal untuk pertandingan."
"Pertandingan?" dahi Wira menurut kemudian memindai seluruh tubuh Aluna yang hanya terduduk di kursi roda, mungkin dia sedang menerka-nerka perlombaan apa yang cocok dengan wanita lumpuh sepertinya.
"Seperti yang Sudah aku bilang, aku suka berolahraga tenis. kebetulan setiap malam Sabtu diadakan pertandingan kecil-kecilan antara teman-teman lainnya."
"Oh ya maaf, aku lupa. kamu suka berolahraga Jadi bagaimana Apakah kita bisa pergi keluar untuk menikmati malam di atas kursi roda, Mungkin kita bisa makan nasi goreng ataupun hanya sekedar ngopi santai."
"Bisa, namun tidak bisa terlalu sore mungkin sekitar jam 09.00 dan aku baru bisa pergi."
Mendengar keterangan dari Aluna, sang CEO itu terlihat terdiam seolah kehabisan pembicaraan, karena berbicara dengan orang yang memiliki kekurangan harus dipikirkan secara matang-matang, Kalau tidak itu bisa menyinggung perasaannya.
"Kenapa mereka mendudukkan mu di atas meja?" tanya Aluna yang selalu membuka pembicaraan dengan begitu interaktif, Entah mengapa Gadis itu sudah tertarik dengan sikap Wira yang terlihat angkuh, namun dia sangat bekerja keras, buktinya meski dalam keadaan yang sama sepertinya tidak bisa berjalan dia mampu memimpin perusahaan Sportiva, perusahaan terbesar yang bergerak di bidang perlengkapan olahraga."
"Tidak, aku tidak. hanya saja." Jawab Wira yang sedikit tergagap karena tidak ada yang mendudukannya di atas meja, dia duduk di tempat itu karena dia tidak memiliki pilihan yang lebih baik soalnya perlengkapan untuk penyamaran tertinggal di rumah ibunya.
"Kamu malu?" Tanya Aluna menatap wajah Wira dengan sedikit sendok Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.
Mendengar pertanyaan Aluna Wira pun hanya terdiam, bingung berucap Seperti apa, karena dia tidak memiliki kekurangan apapun, sehingga dia tidak memiliki rasa malu. Yang ada hanyalah kebanggaan atas pencapaian dan posisi yang sedang didudukinya sekarang.
Aluna yang sangat interaktif terus terlihat bersemangat mengajak Wira, mengobrol Sepertinya dia sangat betah berlama-lama berbicara dengannya, seolah ingin memotivasi sang CEO itu untuk terus tetap hidup di tengah-tengah kekurangan.
"Ini adalah tempat kerja kamu dan di sini pula mungkin kamu bertemu dengan klien yang akan berpura-pura seperti menghormati dengan senyum palsunya. mungkin di belakang kita mereka akan menertawakan karena begitulah kenyataannya, meskipun kita berusaha untuk tampil sama seperti orang-orang normal pada umumnya, namun kita manusia yang memiliki kekurangan tidak bisa seperti itu, Mereka terlihat memandang dengan sebelah mata dengan apa yang sedang menimpa kita, padahal kita hidup tidak merepotkan mereka."
"Kamu mengerti perasaanku yang sekarang?"
"Ya aku merasakannya, mereka menatap kita dengan penuh keharaan mungkin kalau berani mereka akan bertanya kenapa orang yang tidak bisa berjalan masih tetap hidup dan aku pun kadang muak dengan senyum-senyum palsu yang menyapa, di tengah nyiyiran-nyiyiran yang menerpa, tapi mau bagaimana lagi kursi roda adalah sahabat kita yang selalu menemani Kemana kita pergi, kita mungkin tidak bisa menyalahkan orang lain karena begitulah penyandang disabilitas mendapatkan perlakuan, Meski banyak program-program pemerintah yang mendukung disabilitas tapi sampai sekarang belum ada yang terealisasi, hanya bualan. kita tetap menjadi bahan tontonan mungkin bahan olok-olokan ketika kita tampil di khalayak ramai."
"Iya Terima kasih atas pengertiannya. Oh ya Kenapa kamu bisa sampai ke tempat ini. maksudnya bisa tiba di kantorku bekerja?"
"Mohon maaf kalau terganggu, Jujur aku datang ke sini tidak dengan kesengajaan, karena aku yang hendak bertanding Aku ingin membeli celana training untuk pertandinganku nanti malam. Aku pun mencari di internet dan menemukan alamat tokomu yang ternyata bergabung dengan kantor terbesarnya, sehingga aku pun memutuskan untuk mengabari secara langsung bahwa nanti malam kita tidak bisa bertemu."
Obrolan pun terus berlanjut membahas keseharian masing-masing, mulai dari pujian-pujian yang dilontarkan oleh Aluna yang hendak menyemangati Wira yang baru saja mengalami kecelakaan mobil, sampai-sampai dia memiliki penyakit plagia. Aluna yang sudah menjadi senior dia tidak ingin melihat orang lain, berada di dalam keterpurukan. dia menginginkan Wira segera bangkit karena walau mereka hanya duduk di kursi roda, kehidupan mereka harus tetap berjalan tanpa ada keterpurukan.
Truk, truk, truk!
Obrolan mereka sempat terhenti, sesaat ketika ada ketukan di pintu kaca yang terlihat samar. Lisa sedang berdiri di belakangnya dengan wajah yang sedikit penuh kekesalan karena Wira sudah banyak menghabiskan waktu di dalam kantornya dengan mengobrol, padahal sang CEO itu memiliki janji untuk bertemu klaim.