Aluna Datang ke Kantor

1016 Kata
Selesai memberi kabar kepada Aluna, dengan segera Wira pun mengambil celana jogging dan kaos olahraga lengkap menggunakan jaket, tak lupa dia memilih sepatu yang berjejer rapi di dalam lemari kaca. Setelah semuanya dirasa tidak ada yang kurang Wira pun mengambil kembali handphonenya lalu keluar dari apartemen, meski di tengah kesibukan usaha yang sedang maju pesat, dia tetap menyempatkan diri untuk berolahraga dengan berlari pagi menuju ke kantornya, sedangkan untuk menunjang mobilitas bekerja Dia memiliki mobil yang disimpan di kantor, sehingga dia tidak harus kesusahan membawa mobil. Pagi yang cerah menjadi saksi langkah-langkah Wira yang penuh semangat, berlari dengan penuh kegembiraan menuju kantornya. Cahaya matahari pagi menyinari jalanan yang bersih, menciptakan bayangan yang bergerak seiring langkah-langkahnya. Wira merasakan udara segar yang memenuhi paru-parunya, memberikan kekuatan ekstra dalam setiap tarikan napas. Langit yang biru dan cuaca yang nyaman menambah keceriaan suasana pagi, menciptakan latar belakang yang sempurna untuk olahraga di udara terbuka. Melintasi taman-taman kota atau jalanan yang hijau, Wira menyaksikan pohon-pohon yang berayun lembut oleh angin pagi. Beberapa pejalan kaki yang berolahraga atau bersepeda juga menjadi bagian dari pemandangan yang energetik di sekitarnya. 15 menit berlalu Akhirnya dia pun tiba di salah satu gedung bertuliskan sportiva, perusahaan yang bergerak di bidang support, disambut senyum ramah dari berbagai bawahan. meski Wira tahu bahwa senyuman itu sebagian adalah senyuman palsu senyuman untuk menyelamatkan dirinya dari pemecatan. Setibanya di ruangan dengan segera Wira pun membersihkan tubuh dari keringat yang membasahi badannya, dilanjutkan dengan mengganti pakaian dengan pakaian yang selalu tersedia di lemari yang berada di kantor. karena hampir setiap hari dia akan berolahraga pagi, sehingga dia menyimpan beberapa baju di tempat kerja. namun ketika dia mengenakan celana tiba-tiba pintunya terbuka. Ceklek! Mendengar ada orang yang masuk ke ruangannya dengan segera Wira pun menaikkan celana yang hendak ia kenakan, beruntung dia sudah mengenakan dalaman sehingga auratnya tidak terlihat, hanya dadanya yang masih terbuka, memamerkan otot-otot yang terlihat begitu menawan. Wanita yang masuk terlihat menggeleng-gelengan kepala melihat ruang kantor atasannya yang acak-acakan, dengan segera dia pun mengambil sepatu untuk disimpan dirak, Begitu juga dengan kaos kakinya yang dilempar ke tempat cucian. "Biarkan saja Lisa, biar aku nanti yang membereskan." "Mau dibiarkan bagaimana, ini sudah jam 08.00 lewat. sudah masuk waktu untuk bekerja. Bagaimana kalau ada tamu yang melihat dengan ruangan yang sangat berantakan, pasti mereka akan membatalkan kontrak kerja." "Itu tugas kamu untuk menahan mereka, agar tidak mengetahui kebiasaan burukku." "Selalu saja bawahan yang disalahkan." jawab Lisa sambil menyimpan celana dan baju wira ke tempat yang sama untuk dicuci di laundry. "Karena adanya bawahan hanyalah untuk menutupi kebodohan atasannya." jawab Wira sambil mengambil handuk untuk menutupi dadanya yang masih terbuka. "Kenapa ditutupi Lagian aku tidak bernafsu melihat pria yang sangat jorok seperti ini. cepat Pakai bajumu karena sebentar lagi kita akan bertemu klien." "Sepagi ini, di hari Sabtu?" tanya Wira dengan mengerutkan dahi. "Ya karena mereka memiliki dedikasi tinggi dengan pekerjaan yang mereka jalani. sudah Pakai bajumu Jangan membuang waktu. "Iya, iya. kamu jangan ngomel terus seperti seorang istri yang kurang dikasih uang." jawab Wira yang selalu seperti itu ketika berbicara dengan kedua asistennya baik dengan Lisa ataupun Andi. Wira mengambil baju kemeja yang tergantung Di lemari, kemudian Ia mengenakannya di hadapan sang asisten yang masih tetap menunggu dengan sabar, membuat Wira sedikit merasa terganggu tentang privasinya. "Kenapa kamu masih diam, Lagian kalau hanya untuk memberitahukan jadwal, kamu bisa menggunakan alat ini." jawab Wira sambil mengangkat telepon private otomatis yang berada di meja kerjanya. "Memangnya kenapa kalau memberitahu secara langsung?" Itu tidak sopan Apalagi kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, Bagaimana kalau aku sedang tidak memakai busana nanti kamu terpincut oleh kegagahan saya." "Hanya wanita bodoh yang mau melihat tubuh yang tidak ada daya tariknya sedikitpun." "Jaga bicaramu! Mana mungkin aku tidak memiliki daya tarik, lihat saja tubuhku begitu atletis, apalagi ketika menggunakan kemeja ketat seperti ini, aku terlihat sebagai orang yang sangat sempurna." jawab Wira sambil meregangkan tangannya memamerkan otot-otot d**a yang tercetak jelas di bawah kemeja hitam. "Terserah itu pendapatmu, namun pendapatku kamu tahu banyak sebagai buaya darat yang tidak memiliki daya tarik sedikitpun. Oh ya aku datang ke sini ada seseorang yang mau menemuimu." "Siapa yang menemuiku sepagi ini, dan aku rasa Hari ini aku tidak memiliki janji bertemu dengan siapapun, kecuali dengan klien yang tadi kamu sebutkan. Tolong kamu usir dia agar tidak mengganggu pekerjaanku." "Aku tidak bisa mengusirnya." "Kenapa tidak bisa, kan aku sudah jelaskan bahwa siapapun orang yang bertemu denganku mereka harus memiliki janji dan menguntungkan bagi perusahaan." "Karena dia adalah wanita disabilitas yang duduk di kursi roda." "Maksudnya?" dahi Wira terlihat menurut dia menerka-nerka orang yang hendak menemuinya. "Tidak, tidak mungkin wanita lumpuh itu berani menemuiku karena aku belum memberitahu alamat Di mana tempat kantorku bekerja" gumam Wira yang membuat Lisa menatap Aneh ke arahnya. "Iya wanita yang memiliki kekurangan, jadi aku tidak tega kalau untuk mengusirnya, apalagi dia datang ke sini dengan menggunakan kursi roda." "Namanya Aluna bukan?" "Iya, kok kamu sudah tahu bahwa wanita itu namanya Aluna?" jawab Lisa yang semakin tidak paham dengan perlakuan bosnya, karena Wira terlihat sangat panik memindai keadaan sekitar seperti sedang mencari sesuatu. Truk...! truk....! truk.....! Dari arah luar terdengar ada suara ketukan di pintu membuat Wira semakin kalang kabut, mencari kursi roda yang tidak dimilikinya, Bahkan dia menyingkirkan Lisa agar tidak menghalangi pandangan. "Ada apa, Kok kamu terlihat panik?" "Tidak ada apa-apa kamu jangan berbicara dan jangan menimpali apapun yang aku bicarakan." "Maksudnya?" tanya Lisa yang semakin tidak mengerti. "Pokoknya ikuti perintahku dan nanti kamu akan mengetahuinya." ujar Wira yang dengan segera duduk di atas meja, kedua pahanya dirapatkan seperti orang yang tidak memiliki kekuatan. "Masuk!" perintah Wira kepada orang yang tadi mengetuk pintunya. Pintu pun didorong kemudian terdengar suara roda yang diputar dan muncullah gadis yang sangat cantik dengan senyum manis di wajahnya, membuat Lisa semakin tidak paham dengan apa yang sedang diperankan oleh sang CEO, namun dia tidak berani bertanya karena dia sudah diperintahkan. "Selamat pagi?" sapa Aluna yang terlihat manggut memberi hormat "Selamat pagi juga." Jawab Wira dan Lisa dengan serempak. Namun kedua wajah mereka sangat berbeda Wira terlihat tersenyum dengan begitu lepas, sedangkan Lisa hanya berpura-pura tersenyum karena masih merasa jengkel dengan atasannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN