introspeksi

1133 Kata
"Hadeh begitu aja sudah marah, aku cuma bercanda kok bro!" "Kamu tidak ada sopan-sopannya sama kakakmu, Kamu memanggilku dengan sebutan nama dan sebutan Bro seperti sama seorang teman aja." "Halah perkara pemanggilan saja kamu ributkan. ada apa kamu mengajakku bertemu di sini?" tanya Wira sambil menatap ke arah kakaknya. "Aku ingin mengingatkanmu bahwa kita lahir dari perut wanita yang sama dan seharusnya kamu memiliki kasih sayang yang sama seperti kasih sayang yang aku rasakan terhadap dia." "Orang yang sudah meninggal tidak butuh kasih sayang, karena mereka sudah kembali ke tanah dan mungkin hanya akan menjadi makanan belatung dan cacing." "Kalau berbicara denganmu rasanya urat suaraku mulai menegang, nafasku sedikit memburu, rasanya ingin kucabij-cabik wajahmu yang tanpa dosa itu. apa hatimu terbuat dari batu sampai-sampai kamu tak sedikitpun merasakan kecintaan kepada seorang ibu. padahal walaupun mereka berpisah tapi Ibu tidak pernah Kehilangan kasih sayang kepada anaknya." jawab Arwi yang merasa bingung dengan sikap adiknya yang selalu keras kepala, padahal Linda sangat menyayanginya tanpa batas. "Kalau mau berkhotbah nanti aku akan adakan salat Jumat di kantor kamu menjadi khatibnya. sekarang apa keinginanmu sehingga kamu memanggilku ke sini?" tanya Wira sambil melihat jam yang ada di tangannya soalah waktunya sangat sedikit kalau hanya untuk berbicara masalah keluarga. "Aku berencana menembok makam ibu, aku memiliki uang 3 juta dan itu masih kurang." "Oh kamu butuh uang, bilang dong dari tadi, jangan pakai ceramah-ceramah segala." jawab Wira, tanpa membuang waktu dia pun mengeluarkan handphonenya kemudian mengetikkan sesuatu. "Berapa kebutuhan untuk menembak makam ini?" tanya Wira sambil melirik ke arah kakaknya. "6 juta." "Sudah aku transfer 10 juta, sisanya buat kamu mengurus kepentingan yang lain. sudah kalau begitu aku mau berangkat ke kantor, ini sudah telat beberapa menit." ujar Wira setelah memasukkan handphonenya ke dalam saku celana, dia pun hendak pergi meninggalkan tempat itu namun segera Arwi menahan. "Tunggu dulu! aku masih belum selesai berbicara denganmu." "Kamu berbicara apa lagi, kalau mau ceramah lebih baik ceramahi dirimu sendiri yang kehidupanmu tidak maju-maju, yang hanya bekerja sebagai security di klinik. "Kamu memang benar-benar keterlaluan, kamu sudah membohongi tetangga kita yang bernama Aulia. kenapa kamu harus sampai berpura-pura lumpuh kalau hanya untuk mendapatkan seorang wanita?" "Itu adalah perjuangan. walaupun aku menceritakan Kamu tidak akan mengerti, bagaimana seni dalam mendapatkan cinta seorang wanita, karena dulu kamu langsung menikah tidak berpacaran terlebih dahulu. jadi kamu tidak akan mengerti apa yang sedang kunikmati sekarang." "Tapi tidak seharusnya dengan kebohongan, karena apapun yang diawali dengan kebohongan itu tidak akan baik untuk kedepannya ingat kamu itu sudah tua kamu seharusnya menjalin hubungan yang lebih serius dengan seorang perempuan, agar hidupmu ada yang mengurus." "Kenapa orang-orang selalu mempermasalahkan umurku, padahal umur segitu bagi orang yang memiliki karir Cemerlang, tidak harus dipermasalahkan. karena setiap malam pasti aku akan ditemani perempuan-perempuan cantik dan berkelas, Sehingga kebutuhan biologisku tetap terpenuhi meski tanpa adanya pernikahan." "Berkeluarga itu sangat harus bagi seorang manusia yang memiliki kehidupan yang normal, karena menikah itu bukan hanya melulu tentang kebutuhan biologis, tapi tentang membangun kehidupan selayaknya manusia pada umumnya." "Sudahlah Arwi, kamu lebih baik menasehati dirimy sendiri. kalau kamu mengerti masalah itu kamu bisa melakukannya sendirian, karena sekarang umurmu lebih tua dariku. Seharusnya kamu juga memiliki pendamping kalau kamu mampu menafkahinya. Sudah aku mau berangkat kerja dan nanti tolong kasih tahu kalau makam Ibu sudah di tembok." jawab Wira tanpa memperdulikan kakaknya dengan segera dia pun pergi meninggalkan area pemakaman. Melihat adiknya pergi Arwi hanya menarik nafas dalam tidak mengerti dengan pola pikir yang digunakan oleh Wira, karena melihat dari sikapnya Wira seperti tidak akan berubah dan akan terus berkelana menikmati keindahan wanita-wanita tanpa memikirkan hal yang lebih serius. "Semoga saja Aluna bisa merubah kehidupanmu, karena aku yakin wanita-wanita yang memiliki kekurangan mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, agar dia bisa mengerti dan paham bahwa kehidupan itu bukan hanya berpesta, melainkan kenyamanan dan ketenangan dalam berumah tangga, di mana akan ada hadir anak kecil yang harus dimilikinya." gumam hati Arwi yang begitu terus mendoakan Wira. Setelah itu dia pun menemui pak Mardi untuk membicarakan pemasangan batu nisan di makam ibunya, dan ketika sudah mendapat keputusan Arwi pun berjanji Nanti sore setelah pulang dari pekerjaan, dia akan menemuinya kembali untuk memberikan uang pembayaran. Sedangkan Wira setelah berada di dalam mobil dengan segera dia menekan tombol Start, sehingga mobil sportnya terdengar Meraung penuh keganasan, wanita-wanita yang sedang bertakziah di makam keluarga, terlihat mengagumi dan sedikit menatap ke arah mobil mewah yang berkilau di bawah sinar mentari pagi, membuat hal demikian sudah menjadi makanan sehari-hari bagi sang CEO itu. Wira terus melanjutkan kehidupan seperti biasanya. pagi-pagi dia akan berangkat ke kantor untuk mengurus bisnisnya yang bergerak di bidang kebutuhan-kebutuhan olahraga, Sedangkan malam harinya dia akan pergi ke klub malam mencari wanita-wanita kesepian untuk menemaninya di rumah. Waktu terus melaju begitu cepat bagaikan panah yang dihempaskan dari busurnya. tidak ada yang dapat menghentikan waktu, sekaya apapun orangnya, segagah apapun kekuatannya, waktu akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Hari Sabtu di apartemen mewah milik Wira. Pagi membangunkan keindahan di dalam apartemen mewah ini. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela kaca besar, mencerahkan setiap sudut ruangan. Interior yang elegan dengan furnitur mewah dan perabotan desain memberikan kesan kemewahan yang menyatu dengan kehangatan. Lantai marmer bersih terpancar keindahan di bawah cahaya pagi, menciptakan kilau yang eksklusif. Dari dapur yang dilengkapi dengan peralatan modern. Suara halus musik klasik terdengar mengalun dari sistem audio terintegrasi, menambahkan sentuhan harmoni pada pagi yang tenang ini. Pemandangan kota megah dari jendela memberikan latar belakang yang memukau, dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di bawah langit biru pagi. Di kamar tidur, selimut berwarna lembut dan kasur empuk memberikan kenyamanan ekstra, menciptakan suasana yang cocok untuk beberapa saat merenung dan bersantai sejenak sebelum memulai hari. Cahaya lembut lampu hias mungkin menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, Silahkan tinggalkan pesan setelah terdengar bunyi beep." terdengar balasan suara seorang customer service dari telepon yang digunakan oleh Wira. kala itu dia sedang berdiri setelah membersihkan tubuhnya bersiap untuk pergi ke tempat kerja, lengkap dengan handuk kimono yang ia kenakan. "Halo Aluna. Apa kamu masih ingat denganku Wira, yang minggu kemarin bertemu. aku minta maaf kalau aku baru menghubungimu karena akhir-akhir ini, aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Semoga kamu bisa mengerti dan kalau ada kesempatan Aku ingin mengajakmu duduk, eh. kita kan selalu duduk. Maksudnya aku mengajakmu untuk menikmati secangkir kopi dengan duduk bersama, bercerita kembali seperti yang pernah kita lakukan di rumah. Semoga kamu kalau mendengar pesanku bisa segera memberikan tanggapan." ujar Wira yang Meninggalkan pesan dengan wajah yang kaku, karena dia selalu salah berucap. Entah mengapa tiba-tiba hatinya terasa berdegup mungkin dia merasa Apa yang dia lakukan adalah kesalahan. "Haduh benar-benar merepotkan berbicara dengan orang yang cacat, selalu saja salah berucap ketika menyampaikan sesuatu. Aku harus pandai memilih kata-kata agar tidak menyinggung perasaannya." ujar Wira sambil melemparkan handphone ke atas kasur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN