Di jalan pinggiran kota Jakarta yang jauh dari hiruk pikuk kemewahan, suasana sore membawa nuansa sederhana dan penuh kehidupan sehari-hari. Jalanan yang ramai dengan kendaraan bermotor, sepeda, dan pejalan kaki menciptakan pemandangan yang khas di tengah hamparan rumah dengan penuh kesederhanaan. Warung-warung kecil berpayung-payung berwarna-warni menjadi tempat nongkrong para warga setempat. Aroma khas dari pedagang kaki lima yang menjajakan makanan lezat dan kopi hangat terasa di udara, mengundang orang-orang untuk singgah sejenak.
Di sepanjang trotoar, anak-anak terlihat bermain dengan riangnya, tertawa dan berlarian tanpa henti. Beberapa ibu rumah tangga sibuk berbelanja kebutuhan harian di pasar tradisional yang ramai untuk menyiapkan makan malam bersama keluarga. Suara riuh rendah dari percakapan para pedagang dan pengunjung kedai beralunan khas sore hari di pinggiran kota bercampur dengan suara kendaraan yang melintas dengan mantap di jalanan yang terlihat becek.
Langit yang mulai memerah dengan perlahan menandakan bahwa matahari akan segera bersembunyi di balik cakrawala. Lampu-lampu jalanan yang mulai menyala memberikan sentuhan kehangatan dan mempersiapkan jalan untuk suasana malam yang tenang.
Meskipun jauh dari gemerlapnya pusat kota, suasana sore di jalan pinggiran kota Jakarta menghadirkan kehidupan sehari-hari yang autentik, sederhana, dan penuh warna. Di sini, kehidupan berjalan dengan ritme yang lebih lambat, menciptakan keseimbangan antara keramaian kota dan keaslian kehidupan pinggiran yang hangat.
Arwi terus mengendarai motornya hingga akhirnya dia pun tiba di halaman parkir di salah satu rumah susun yang sedikit kumuh kurang perawatan. setelah memarkirkan motornya Arwi pun menuju ke lobby apartemen untuk naik ke lantai 4. sesampainya di depan pintu dengan segera dia pun membukanya dengan kunci yang selalu ia bawa.
"Biasanya kalau aku datang ibuku menyambut dengan begitu bahagia, karena anak yang hanya dua dan yang satu tidak menganggap keberadaan ibunya, membuatku merasa sangat dicintai. namun sekarang itu hanya menjadi kenangan Indah bersamanya." gumam Arwi sambil menutup kembali pintunya, dia sedikit kembali mengenang tentang sosok ibu yang sudah pergi meninggalkannya.
Arwi memindai keadaan sekitar yang terlihat acak-acakan, mungkin gara-gara adiknya yang beberapa hari tinggal di rumah itu. berbeda dengan ibunya yang sangat mencintai kebersihan meski hanya ada seusap Debu dia akan sangat protes kalau benda tidak mengenakan itu berada di kamarnya.
"Disuruh membersihkan malah menjadi acak-acakan. dasar anak tidak tahu diri!" gerutu Arwi sambil menggeleng-gelengkan kepala, merasa kesal dengan kelakuan adiknya yang tidak bisa membedakan mana rumahnya mana rumah orang tuanya.
Meski Badan terasa lelah, tubuh teras capek. dengan segera Arwi pun merapikan benda-benda milik ibunya ke tempat semula, soalnya dia sering mengunjungi tempat itu Apalagi setelah istrinya meninggal. Arwi sering menghabiskan waktu dan menemani ibunya yang terus sakit-sakitan Sebelum meninggal.
Selesai merapikan semuanya, dari ruang tamu, ruang makan, dapur dan kamar. Arwi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh menghilangkan keringat selepas membereskan apartemen, untuk mendapatkan kesegaran dan semangat yang baru.
Di luar matahari yang awalnya menampakan diri dengan memancarkan warna orange keemasan perlahan mulai turun dan bersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit, diikuti dengan alunan azan yang begitu merdu. Arwi yang berbeda jauh dengan adiknya dengan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat yang beragama.
Truk, truk, truk....!
Selesai melaksanakan salat terdengar suara pintu apartemen ada yang mengetuk. dengan segera Arwi pun bangkit lalu membuka pintunya. terlihatlah ada sosok wanita cantik dengan kantong kresek di tangannya. Arwi sedikit tercengang karena meski dia sudah lama sering berkunjung ke ibunya, Dia tidak menyangka kalau ibunya memiliki tetangga yang begitu cantik.
"Maaf mengganggu." ujar wanita itu yang sama-sama terkejut karena orang yang membuka pintu bukanlah orang yang diharapkan.
"Iya, ada apa?" jawab Arwi yang masih memindai dan mengagumi kecantikan wanita yang bertamu ke apartemennya.
"Maaf, Wiranya ada?"
"Tidak ada, Memangnya ada apa?" jawab Arwi balik bertanya.
"Kapan dia pulang?"
"Maksudnya bagaimana?"
"Kapan Wira pulang, Bukannya dia bekerja menjadi CEO di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang olahraga."
"Wira jarang pulang ke sini, dia lebih sering pulang ke apartemennya."
"Begitu, maaf kalau mengganggu. Terus kalau boleh tahu anda ini siapa, kok bisa berada di apartemen almarhumah Ibu Linda?"
"Saya kakaknya. Nama saya Arwi!" jawabnya sambil mengulurkan tangan mengajak wanita itu berkenalan.
"Aku Aulia temannya Wira. sekali lagi mohon maaf kalau saya mengganggu. dan saya mau menitipkan titipan orang tua yang kemarin lupa dia bawa oleh Wira." jawab wanita yang bernama Aulia dengan mengangkat plastik yang ia bawa.
"Titipan apa dan kapan Wira menemui orang tua kamu?"
"Kemarin hari Minggu dia berkunjung ke rumahku. ya sudah, Apa saya boleh masuk untuk menyimpan oleh-olehnya dan kalau bisa saya ingin mengobrol sedikit dengan kakaknya, karena saya merasa tidak enak dengan Wira."
Dengan terpaksa Arwi pun membiarkan Aulia masuk ke dalam rumah yang sebenarnya dia merasa tidak nyaman, karena kala itu Aulia hanya menggunakan baju tanktop yang diselimuti oleh hoodie berwarna Navy, dipadukan dengan celana sepaha, membuatnya takut tidak kuat menahan godaan yang hadir, namun dia tetap membiarkan wanita itu untuk menyimpan oleh-olehnya di dapur.
Setelah menyimpan bawaannya Aulia pun kembali ke ruang tamu kemudian duduk menghadap Arwi. soalnya dia masih merasa bersalah dengan Wira ketika berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Mau minum apa?" tanya Arwi setelah melihat tamunya duduk dengan nyaman.
"Kalau boleh saya minta kopi, Soalnya di rumah gulanya habis." Jawab Aulia tanpa sedikitpun memiliki kekakuan.
Arwi pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dapur untuk menyiapkan pesanan Aulia. namun itu tak lama dia pun kembali dengan membawa dua cangkir kopi yang terlihat masih mengepul, tak lupa dia juga membawa cookies kesukaan ibunya.
"Maaf jadi merepotkan."
"Tidak, tidak repot kok. lagian cuma kopi yang tinggal Seduh saja, Silahkan diminum, tapi hati-hati masih panas!"
"Terima kasih." jawab Aulia sambil mengambil gelas miliknya kemudian dia menyeruput kopi itu secara perlahan, membuat perutnya terasa hangat dan sedikit memberikan kesegaran.
"Oh ya kamu tinggal di apartemen ini?" tanya Arwi mulai kembali membuka pembicaraan.
"Iya aku hampir setahun lebih tinggal di apartemen sebelah, aku menyewanya karena tempat kerjaku Lebih Dekat dari sini."
"Memang aslinya dari mana?"
"Aku tinggal di salah satu pegunungan yang berada di Puncak Bogor."
"Pasti di sana udaranya sangat sejuk, berbeda dengan di sini yang sangat panas dan penuh polusi."
"Begitulah. kemarin saja Wira sangat memuji keindahan kampungku dan dia berjanji akan sering berkunjung ke sana lagi, Meski aku tidak yakin."
"Tidak yakin kenapa?" tanya Arwi yang mengerutkan dahi.