"Dia adalah pria yang sangat baik dan sangat bijaksana. Wira bercerita tentang dedikasinya jangan begitu tinggi untuk membuat yayasan disabilitas di Jakarta, untuk memfasilitasi orang-orang yang memiliki kekurangan supaya terus berkembang seperti dirinya."
Mendengar penjelasan Aulia Arwi terlihat mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh adiknya, karena dia sangat tahu kalau Wira sangat pandai berbohong hanya demi untuk mendapatkan hati seorang perempuan, sehingga dia tidak memberikan tanggapan apapun.
"Yang jadi aku lebih bangga terhadapnya. setiap hari Sabtu setelah pulang bekerja dia akan pergi ke toko pet shop untuk membeli beberapa makanan kucing ataupun anjing, untuk dibagikan buat hewan-hewan yang terlantar dan liar. memang pria itu begitu luar biasa." lanjut Aulia dengan wajah penuh kekaguman, namun sedikit terbesit rasa khawatir yang nampak dari Roman gadis yang sangat cantik itu.
"Terus kenapa kamu merasa yakin kalau Wira tidak akan kembali berkunjung ke rumahmu?" jawab Arwi yang merasa heran karena Aulia sangat cantik, tidak mungkin lelaki b******k itu meninggalkannya begitu saja.
"Mungkin ada perlakuanku yang menyinggungnya."
"Tidak mungkin, dia bukan tipe orang seperti itu. dia tipe orang yang tidak mudah tersinggung apalagi dengan seorang wanita. Memangnya Apa perlakuanmu yang membuatmu merasa yakin kalau dia akan tersinggung?"
"Aku mengenalkannya dengan adikku."
Mendengar perkataan Aulia, Arwi terenyum. dia sangat tahu kebiasaan buruk adiknya. Wira sedikitpun Tidak akan tersinggung kalau diperkenalkan dengan seorang perempuan, apalagi tipenya bukan pemilih maka siapapun wanitanya yang terpenting bisa dikencani, pasti Wira akan menerimanya dengan kedua tangan yang terbuka.
"Kenapa malah diam, Beneran ya dia tersinggung?" tanya Aulia yang terlihat dipenuhi wajah kekhawatiran.
"Tidak, dia tidak akan tersinggung masalah begituan."
"Syukurlah kalau begitu Aku senang mendengarnya. tapi yang perlu kak Arwi tahu, aku memperkenalkan dengan adikku yang duduk di kursi roda. Aku Bukan Tanpa Alasan memperkenalkannya dengan adikku, aku memperkenalkannya Bukan Tanpa Alasan. Aku berpikir mereka berdua memiliki keterbatasan yang sama sehingga aku memutuskan untuk mereka saling mengenal, saling mendalami, saling memahami, saling menguatkan dengan keadaan yang sedang mereka alami." Jelas Aulia dengan sedikit kepanikan.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Arwi yang terlihat wajahnya sedikit mengerut.
"Iya bukannya Wira dia juga memiliki keterbatasan seperti adikku yang hanya duduk di kursi roda, akibat kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu."
"Astaghfirullahaladzim," gumam Arwi yang tidak menyangka bahwa adiknya akan berbuat sejauh itu.
"Kenapa malah beristighfar, Apakah kecelakaan itu membuatmu merasa trauma sampai sekarang?"
"Tidak, tidak sedikitpun." jawab Arwi sambil menghela napas dalam, menenangkan diri dari perbuatan adiknya yang sudah kelewat batas.
"Aku yakin kamu pasti sangat menyayangi adikmu, karena dia begitu luar biasa. sekali lagi kalau kamu bertemu dengannya aku minta maaf, aku tidak bermaksud merendahkannya, namun aku harap dengan pertemuannya dengan adikku membuatnya merasa lebih baik karena mereka memiliki kesamaan yang sama." jelas Aulia masih dengan wajah yang sedikit ketakutan, Bahkan dia terlihat mengusap rambutnya ke belakang menandakan bahwa saat itu dia sangat kebingungan.
"Udah kamu tidak usah merasa bersalah, karena Wira akan baik-baik saja. dia tidak akan mudah tersinggung dan sudah menerima dengan apa yang menimpa dirinya." jawab Arwi sedikit menenangkan.
"Semoga saja seperti itu dan dia bisa berkenalan dengan adikku lebih jauh, soalnya aku melihat dari tatapan wajah adikku Dia sangat mengaguminya, karena Wira betul-betul pria yang sangat hebat yang pasti akan menjadi dambaan setiap wanita."
"Amin." hanya kata itu yang terucap dari mulut Arwi soalnya dia merasa bingung dengan tanggapan yang harus Ia berikan, Dia sangat tahu kalau Wira yang memiliki 1000 cara untuk mendekati seorang wanita. Tapi dia tidak menyangka kalau Wira akan berbuat sejauh Itu demi hanya satu nama seorang perempuan.
"Oh ya, bagaimana cerita kecelakaannya yang begitu tragis, sampai dia menjadi orang yang plegia?"
"Aku kurang tahu ceritanya, aku tahu-tahu Wira sudah tidak bisa berjalan seperti sekarang." jawab Arwi dengan jujur.
"Kasihan banget kalau melihat kenyataan yang harus dialami, namun aku sangat bangga memiliki kenalan seperti dia yang sangat gigih dalam berjuang dan kebaikan-kebaikan lainnya."
Mereka berdua pun terus mengobrol membahas Wira yang menderita penyakit plagia penyakit saraf yang mengakibatkan kelumpuhan, sehingga kegagahan dan ketampanannya harus terbatasi oleh kursi roda. Arwi yang tidak mengetahui alur cerita kebohongan adiknya dia hanya menjawab seperlunya.
Obrolan itu terus berlanjut meski mereka baru pertama kali bertemu namun Aulia melihat Arwi yang begitu baik sehingga dia merasa nyaman berlama-lama berbicara dengannya, Apalagi Arwi memiliki wajah dan ketampanan yang tidak jauh berbeda dengan adiknya, mungkin yang berbeda hanyalah kehidupannya yang biasa-biasa saja.
Setelah adzan isya berkumandang, Aulia pun berpamitan untuk beristirahat di kamarnya dan mereka berjanji kalau ada kesempatan mereka akan bertemu lagi.
"Dasar orang tidak tahu bersyukur, sudah diberikan kelebihan oleh Yang Maha Kuasa malah berbohong, berpura-pura menjadi orang lumpuh. Bagaimana kalau ucapannya di jadikan kenyataan, Apakah dia tidak akan mati uring-uringan tidak bisa menikmati kekayaan yang sedang ia miliki." gerutu Arwi dalam hati setelah mendengar kalau adiknya berpura-pura menjadi orang yang tidak bisa bergerak.
"Tapi ngapain Aku memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, apalagi memikirkan diriku yang payah ini. mendingan sekarang aku melaksanakan salat kemudian tidur, menyiapkan tenaga kembali hari esok yang mungkin akan lebih berat dari sekarang."
Di dalam apartemen kumuh, suasana kehidupan menjadi hening dan damai ketika adzan Isya berkumandang. Suara adzan yang merdu melintasi lorong-lorong sempit dan tembok-tembok yang sudah lama tak terawat. Anak-anak kecil yang bermain di dekat tangga berhenti sejenak, mendengarkan panggilan adzan dengan rasa khusyuk. Beberapa orang berhenti dari aktivitas sehari-hari mereka, memberikan momen untuk bersiap-siap mendengarkan seruan shalat.
Cahaya kuning yang remang-remang dari lampu teplok menyinari sudut-sudut gelap di dalam apartemen, memberikan kesan yang penuh ketenangan. Keheningan dan rasa sakral yang begitu terasa di udara, seolah-olah seluruh komunitas meresapi momen keagungan panggilan adzan.
Meskipun kondisi fisik apartemen mungkin sederhana, namun saat adzan berkumandang, setiap sudut menjadi berarti dan penuh kehormatan. Sejenak, kehidupan di apartemen kumuh itu menjadi bersatu dalam keheningan dan ketenangan yang diberikan oleh seruan shalat, menciptakan momen spiritual di tengah-tengah realitas sehari-hari yang sulit.
Setelah menunaikan kewajibannya Arwi pun masuk ke dalam kamar mendiang ibunya yang sudah hampir seminggu meninggalkan dunia Fana. Arwi membaringkan tubuhnya menatap langit-langit yang terlihat remang-remang tersinari lampu tidur yang berada di meja dekat ranjang.
"Dua orang yang sangat kucintai sudah meninggalkan dunia ini. aku merasa kesepian kalau harus hidup sendirian. Aku Ingin menyusul kalian berdua, agar aku menemukan kebahagiaan kembali." gumam Arwi sambil memutar memori memori indah bersama istri dan ibunya momen di mana kala itu hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan.
Setelah membayangkan hal-hal yang indah bersama kedua orang yang ia cintai, perlahan mata Arwi mulai tertutup sehingga mata itu tidak terbuka lagi dibarengi dengan suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya, menandakan bahwa hari itu aruhi sangat kecapean.
Kehidupan Arwi yang sangat jauh berbeda 180° dibandingkan adiknya yang selalu mengisi malam-malamnya dengan pergi ke klub atau bermain bersama wanita yang ia temui. sedangkan Arwi setiap malam setelah ibunya meninggal dia lebih memilih tidur lebih awal agar tubuhnya tetap sehat, tidak tercampur oleh minuman-minuman yang memabukkan.