"Kamu serius mengundangku untuk tidur siang di rumahmu yang penuh pendingin itu?" tanya Cindy seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kalau kamu tidak percaya Tolong secepatnya kirim lokasi penjemputan, agar sopir taksi tidak kesusahan mencarinya."
"Baik, baik. Aku kirim sekarang lokasiku." jawab Cindy yang mematikan telepon, dengan segera dia mengirimkan lokasi kosannya kepada Wira.
"Ternyata pria ini memang benar-benar sangat tertarik denganku, apalagi ketika tadi melihat tatapannya yang terus mengarah bagian d**a, Mungkin dia sangat mengagumi buah melon yang sangat besar ini." gumam Cindy yang melihat ke belahan dadanya yang sangat membusung dan kenyal, bahkan Tak sadar dia pun menyenggolnya membayangkan bahwa pria tampanan gagah yang baru saja ia temui sedang memainkan dengan begitu rakus.
"Apa dia merasa tidak enak saja kalau aku sudah membantu melaporkan penjualan produknya di tempat aku bekerja, yang sebenarnya bahwa dia tidak mau menikah karena sama sekali tidak menyukai perempuan?" lanjut pikiran Cindy yang sudah terbang kemana-mana, manabak-ngebak sebenarnya Wira itu orangnya seperti apa.
Tring!
notifikasi handphone pun berbunyi, terlihatlah sebuah pesan yang masuk yang dikirimkan oleh Wira yang memberitahu bahwa Mobil jemputannya akan segera tiba.
"Yes, yes, yes....!" teriak Cindy sambil bejingkrak bahkan menari-nari seperti orang yang baru saja memenangkan lotre. khayalan untuk hidup dengan pria yang sangat mapan dan mengubah taraf kehidupannya akan segera terwujud dengan pria yang baru ia kenal.
Kegirangan Cindy terhenti ketika melihat sahabatnya Clarissa yang baru keluar dengan muka bantalnya, Dia sedikit terkejut dan tersentak kaget mendengar teriakan yang begitu mendadak, matanya menatap heran ke arah Cindy yang tidak meneruskan kebahagiaannya.
"Kamu kenapa berteriak-teriak seperti orang yang kesurupan?" ujar Clarissa dengan wajah mengintrogasi.
"Nggak nggak apa-apa, aku bahagia saja ketika melihat tim idolaku menjadi juara."
"Tim apa?"
"Tim sepak bola yang sudah lama aku ikuti perkembangannya, sekarang mereka berhasil memenangkan juara."
Mendengar jawaban dari Cindy yang Agak rancu, Clarissa pun mengerutkan dahi. dia tahu bahwa sahabatnya tidak pernah memiliki tim kebanggaan, apalagi tim sepak bola. namun ketika dia hendak bertanya lagi Cindy keburu mendorongnya untuk masuk ke dalam.
Tanpa memperdulikan kebingungan sahabatnya, Cindy mengenakan baju terbaik yang ia miliki bahkan menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh, membuat suasana yang panas menjadi keleyengan pusing tak karuan. rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai ke belakang.
"Mau ke mana?" tanya Clarissa yang melihat perubahan aneh sahabatnya.
"Aku mau Merayakan kemenangan Tim favoritku bersama para fans lainnya."
"Di mana? ikut dong!" Clarissa mulai mencoba mempengaruhi meski jawabannya sudah bisa ditebak bahwa dia tidak akan diizinkan.
"Kamu di rumah aja beristirahat karena besok kita akan bekerja kembali. Ya sudah aku pamit dulu." jawab Cindy tanpa menunggu tanggapan dari sahabatnya, dia pun ngeloyor pergi keluar dari kontrakan, karena mobil yang menyebutnya sudah memberi kabar bahwa dia sudah ada di depan.
Clarissa yang masih penasaran dia terus memindai Cindy yang keluar dari kontrakan, dan masuk ke dalam mobil yang, membuatnya semakin merasa heran dengan tingkah laku sahabatnya.
"Mau ke mana dia dan Sejak kapan dia memiliki tim favorit sepak bola? Setahuku dia hanya wanita tomboy yang tidak menyukai olahraga." pikir Clarissa yang menebak-nebak ke mana akan pergi sahabatnya, namun itu tidak terlalu lama Clarissa masuk ke dalam untuk melanjutkan Istirahat di tengah panas yang begitu menyengat.
Tring, tring, tring....!
Baru saja merebahkan tubuh di hadapan kipas yang berputar dengan kencang, mengeluarkan suara berisik Deru angin. tiba-tiba teleponnya berbunyi dengan mengerutkan dahi Clarissa pun mengambil handphonenya kemudian melihat orang yang memanggil.
"Ada apa ini, kok aneh sekali. kenapa dia menelponku?" gumam hati Clarissa sambil menggeser tombol warna hijau ke arah atas.
"Ternyata kamu tidak tidur?" ujar pria yang menelepon tiba-tiba berkata seperti itu.
"Emang Kak Arfan dari mana kok bisa tahu bahwa Clarissa sedang tidur?"
"Barusan Cindy meneleponku dan menjelaskan kamu sedang tertidur lelap."
"Iya memang Barusan aku tertidur tapi aku terganggu dengan teriakan sahabatku yang seperti kesurupan."
"Kok bisa?" tanya Wira yang mengaku nama Arfan dengan ada penasaran.
"Nggak tahu, tapi tiba-tiba hari ini Dia terlihat sangat aneh, dia keluar dari kontrakan tanpa mengajakku, Tidak seperti biasanya yang selalu bersama."
"Maafkan Aku, gara-gara kalian mengenalku hubungan persahabatan kalian menjadi renggang."
"Maksudnya?" dahi Clarissa terlihat mengerut menebak Ke mana arah tujuan pembicaraan orang yang meneleponnya.
"Barusan dia meneleponku dan dia meminta izin untuk tidur siang di sini. Aku merasa tidak enak untuk menolaknya sehingga aku memutuskan mengirimkan mobil untuk menjemputnya."
"Oh pantesan saja Dia terlihat sangat kegirangan ternyata dia mau bertemu denganmu."
"Iya maaf aku memberitahumu agar tidak salah paham."
"Salah paham Di mananya, lagian itu hak Kalian mau ngapain saja, aku tidak akan ikut campur."
"Yah takutnya aku mengganggu hubungan persahabatan kalian dan kamu memiliki perasaan curiga terhadapku?"
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, dan apa tujuannya kamu menceritakan semua ini kepadaku?"
"Sejak tadi pagi aku melihatmu, Entah kenapa hati ini terasa berdebar tidak karuan dan ketika kamu pergi dari rumahku, seperti ada sesuatu yang hilang dari jiwaku."
"Maksudnya?" tanya Clarissa pura-pura tidak mengerti, Memang begitulah perempuan yang ingin mendapat kejelasan dari apapun yang ia dengar.
"Separuh Jiwaku sudah terbang bersama denganmu, aku tidak bisa berpaling untuk tidak mengingatmu. Aku sudah terjebak dalam kecantikan dan perilaku yang sangat baik, aku menyukaimu."
"Secepat itukah kamu menyukai seseorang?"
"Aku tidak mau bermain-main lagi, Aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius, karena umurku sudah tua." jawab Wira yang sangat pandai mengolah kata-kata, membuat wajah orang yang di teleponnya tersenyum penuh arti.
Perasaan Clarissa yang tidak jauh berbeda dengan perasaan Cindy dia merasa sangat bahagia dan senang ketika mendengar Pengakuan dari orang yang ia kagumi. namun yang berbeda Clarissa tidak seagresif sahabatnya dia sangat kalem seperti tidak membutuhkan, menahan harga karena sejatinya perempuan itu diperjuangkan.
"Kenapa kamu malah diam aku salah ya, berbicara seperti itu?"
"Tidak, tidak salah. terus kenapa kamu mengundang sahabatku untuk main ke rumah, kalau kamu menaruh hati padaku?"
"Ini pilihan yang sangat sulit, aku tidak bisa menyakiti hati orang lain. Jadi aku membiarkannya saja karena tujuannya hanya ingin menginap tidur siang. oh ya nanti malam kamu ada acara nggak, Kalau tidak kita ngopi sambil menikmati suasana malam yang dingin." Jawab Wira yang mengalihkan pembicaraan, dia sudah tahu bahwa setiap wanita yang didekatinya tidak mungkin bisa menolak meskipun berbagai cara untuk menerimanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Clarissa terdiam kembali, Dia menebak-nebak pria seperti apa yang sedang berbicara dengannya. Apakah pria itu memang benar-benar baik atau hanya ingin memanfaatkan dirinya dan Cindy, namun setelah lama dipikir dia merasa kesal dengan sahabatnya yang Sudah berani membohonginya, Padahal tadi ketika meninggalkan rumah Wira mereka akan bersama-sama ketika sang CEO itu memilih salah satu dari mereka.