Binar penuh kebahagiaan terpancar begitu jelas di manik remaja yang tengah bersiul di depan kaca. Cowok itu tak henti-hentinya tersenyum dan membenarkan tatanan rambut.
Di balik senyum yang tak kunjung pudar, tentu ada sebuah alasan yang mendasarinya. Jika waktu hanya dihabiskan untuk mengurung diri di kamar atau sekadar nongkrong bersama teman-temannya, itu bukanlah hal spesial.
Namun, hari ini berbeda. Sagara akan pergi bersama Luna ke mal untuk belanja bulanan. Terdengar sederhana, tetapi Sagara sangat menantikan momen seperti ini. Saat di mana dia dan ibunya pergi bersama. Hanya berdua!
“Berasa kencan, anjim!” serunya tertahan. Dia kembali merapikan rambut kemudian meraih sling bag yang sudah ia siapkan.
Cowok itu terkekeh. “Eh, tapi gue nggak pernah kencan, ding,” gumamnya ketika mengingat sebuah fakta.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Remaja itu bergegas meninggalkan kamar dengan berlari kecil. Ketika melintasi kamar sang adik, pintu itu sedikit terbuka. Dari luar, Sagara bisa melihat Elio yang sedang fokus pada layar laptop di depannya. Hari Sabtu biasanya Elio akan sibuk mengerjakan tugas, barulah besok bocah itu pergi bersama teman-temannya.
Tak mau mengganggu fokus Elio, Sagara melanjutkan langkah. Lagi-lagi bocah itu tersenyum, pasti Luna sudah menunggunya di bawah. Dia jadi semakin bersemangat!
“Ayo, Ma!” ajak Sagara begitu berhadapan dengan Luna.
Wanita itu hanya menggunakan celana jeans ketat dan kemeja putih, tampak serasi dengan kulitnya yang berwarna putih. Lagi, Sagara hanya bisa mengangumi Luna dalam diam.
Berbanding terbalik dengan Sagara yang menggebu, Luna terlihat malas dan langsung memasuki mobilnya. Wanita itu mengenakan kacamata hitamnya dan mulai menyalakan mesin mobil.
Enggan membuat sang ibu menunggu, Sagara juga ikut masuk ke mobil. Duduk di kursi samping Luna dengan senyum yang tak kunjung sirna. Meski ia tak berani mengajak bicara Luna, tetapi duduk sedekat ini sudah cukup bagi Sagara.
???
Hawa dingin langsung menyeruak begitu ibu dan anak itu memasuki pusat perbelanjaan. Luna mengambil troli dan menyerahkannya pada Sagara.
“Kamu bawa ini, kita langsung cari kebutuhan yang habis,” tukas wanita itu kemudian berjalan lebih dulu di depan Sagara.
Mendapat titah demikian, Sagara menurut. Bocah itu mengekor di belakang Luna sembari mendorong troli. Matanya menelusuri rak-rak yang berisi berbagai kebutuhan seperti keperluan mandi dan konsumsi.
Cowok itu mengingat-ingat, apa saja yang habis di dapur dan Luna harus membelinya. Karena terkadang, wanita itu sering lupa tentang apa saja yang harus ia beli meski sudah membuat daftar.
“Ma, nggak mau tambah stok nugget? Punya si El udah menipis stoknya,” usul Sagara ketika bocah itu melewati lemari pendingin berisi macam-macam nugget dan sosis.
Luna yang sedang memilih sayuran kemudian mengangguk. “Ya udah, kamu ambil aja yang kesukaan El,” sahutnya tanpa menoleh.
Begitu mendapat izin, Sagara langsung mengambil dua bungkus nugget berukuran besar dan memasukkannya ke dalam troli. Cowok itu kemudian mendekati Luna dan membantu membawakan barang yang dipilih oleh sang ibu.
Setengah jam berlalu, akhirnya troli yang semula kosong, kini penuh dengan bermacam barang. Sagara mendorongnya sampai ke depan meja kasir, sementara Luna berada di belakang sibuk mencari letak dompet di dalam tas.
“Mari, Kak. Silakan,” sapa seorang wanita yang tak lain adalah kasir.
Sagara tersenyum, kemudian mengeluarkan barang-barang dari dalam troli dan meletakkannya ke atas meja kasir. Sembari menanti kasir selesai menghitung, netra Sagara menangkap keberadaan sebuah kedai es krim di dekat eskalator. Membayangkan manis dan lembutnya makanan dingin itu, Sagara diam-diam meneguk salivanya.
Bocah itu lantas berbisik pada ibunya.
“Ma, aku beli es krim di situ, ya?” Ia menunjuk ke arah kedai es krim. Kali ini dirinya benar-benar berharap Luna akan memberinya izin.
“Ngapain, sih? Kayak anak kecil aja. Kamu Mama ajak ke sini bukan untuk main-main, ya. Tapi bawain barang-barang ini,” sentak Luna dengan suara pelan.
Dengan muka memelas, Sagara kembali memohon. “Sebentar aja, Ma. Nggak sampai lima menit, kok. Boleh, ya?”
Kesal karena Sagara merengek dan menarik perhatian beberapa orang, Luna akhirnya mengizinkan. Ia tak mau menjadi pusat perhatian hanya karena tidak membolehkan anaknya membeli es krim. Itu menyebalkan.
Kasir menyebutkan nominal uang yang harus Luna bayar. Wanita itu dengan sigap menyerahkan kartu debit berlogo bank BCT kepada petugas untuk membayar belanjaan. Sesekali wanita itu mengawasi Sagara yang masih mengantri untuk sebuah es krim. Dia tak habis pikir, Sagara sudah bukan anak-anak lagi, kenapa ia masih suka makanan manis seperti itu?
“Udah puas?” Luna melirik dua cup berisi es krim di tangan Sagara. Bocah itu mengangguk senang dan tersenyum hingga menampakkan dua gigi gingsulnya.
“Kalau gitu, kamu dorong ini. Kita taruh dulu barang-barang ke mobil. Nanti kita makan dulu di food court. Mama lapar,” lanjut Luna dan menyodorkan troli kepada Sagara.
Dengan sigap, Sagara menerima troli berisi belanjaan sang ibu dan mendorongnya hingga sampai luar pusat perbelanjaan. Ia juga telaten memindahkan barang-barang tersebut ke dalam bagasi mobil. Sementara Luna hanya mengamati hasil pekerjaan anaknya sembari membawakan dua cup es krim yang tadi Sagara beli.
“Udah, Ma!” tegur Sagara ketika dia selesai memasukkan barang terakhir ke dalam bagasi.
Luna mengembalikan dua cup es krim pada pemiliknya, kemudian berujar, “Ya udah, ayo makan.”
“Mama, tunggu.” Sagara menghentikan langkahnya Luna dan menyodorkan salah satu es krim kepada wanita itu. “Ini buat Mama, aku sengaja beli dua, hehe,” tukasnya sedikit malu.
Wanita berambut pendek itu menggeleng. “Mama nggak suka makanan manis,” tolaknya dan membiarkan tangan Sagara mengambang di udara.
Tentu Sagara tahu hal itu. “Makanya ini aku beli yang rasa mint. Mama ‘kan suka es krim rasa mint,” tukas cowok itu tak mau menyerah. Ia masih mengulurkan tangannya.
Daripada berdebat karena hal kecil, mau tak mau Luna menerima pemberian itu. Ucapan Sagara tak sepenuhnya salah, karena Luna memang menyukai makanan ringan dengan rasa mint. Bisa dibilang aneh, tetapi wanita berambut pendek itu lebih menyukai mint daripada cokelat.
Kembali memasuki mal, keduanya berjalan beriringan. Sagara yang berwajah manis serta Luna yang tampak lebih muda dari usianya membuat beberapa orang salah paham dan mengira bahwa mereka adalah kakak-adik.
Di samping itu, Sagara tidak henti-hentinya mengumbar senyum. Dia pikir setelah berbelanja, Luna akan langsung pulang, seperti yang sudah-sudah. Namun siapa sangka? Hari ini sang ibu justru mengajaknya untuk makan. Kejadian ini bahkan jauh lebih langka daripada Dirga yang mengizinkan dia untuk ikut ketika pergi bersama Elio.
“Kamu mau makan apa?” tanya Luna ketika mereka tiba di tujuan. Wanita itu mengedarkan pandangan, mencari kedai yang cocok dengan seleranya.
Sagara lagi-lagi terkesima. Kebaikan macam apa ini? Mengapa Luna sangat lembut hari ini? Rasanya Sagara ingin pingsan saja karena terlalu bahagia.
“A–aku sama kayak Mama aja, asal nggak pakai udang,” sahut bocah gingsul itu sedikit tergagap.
Luna mengangguk, kemudian wanita itu menghampiri sebuah kedai ramen tak jauh dari tempat mereka berdiri. Memesan dua porsi chicken kaarage ramen dan dua orange juice. Menerima nomor meja lantas duduk di bangku tak jauh dari kedai. Sagara hanya mengekor di belakangnya.
Selain rasa benci yang Luna tanamkan pada Sagara. Sebenarnya wanita itu memiliki banyak kesamaan dengan si sulung. Seperti soal makanan, keduanya merupakan pecinta mi. Semua makanan dengan unsur mi selalu berhasil menggugah selera.
Duduk berhadapan dengan Luna nyatanya tidak senyaman yang Sagara pikirkan. Bocah itu merasa canggung dan bahagia dalam waktu bersamaan. Alhasil ia mengeluarkan ponsel dan secara acak membuka menu di dalam benda pipih itu. Hanya berusaha terlihat sibuk sembari menunggu pesanan tiba. Kondisi mal yang cukup ramai membuat mereka menunggu sedikit lebih lama.
“Saga .…”
Si pemilik nama sontak menoleh dan menatap wajah Luna penuh tanya.
“Kenapa, Ma?”
Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan secara perlahan. Luna berkata, “Setelah Mama marahin kamu soal baju kemarin lusa, Elio jadi diemin Mama.”
Alis Sagara bertaut mendengar perkataan Luna. Dia tidak tahu jika dua hari ini adiknya mendiamkan sang ibu. Apalagi penyebabnya karena Luna memarahi Sagara.
“Jadi sekarang Mama minta kamu untuk bujuk Elio biar nggak marah lagi sama Mama.” Luna menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Lagi pula, penyebab Elio marah juga karena kamu dan kamu harus menyelesaikan masalah ini,” imbunya mengunci pandangan pada si sulung.
Seorang pramusaji datang dan membawa menu yang mereka pesan. Menginterupsi percakapan ibu dan anak yang mulai berubah tegang.
“Permisi, dua chicken kaarage ramen dan dua orange juice, ya, Kak,” ujar si pramusaji sembari meletakkan menu ke atas meja.
Luna mengucap terima kasih kepada pramusaji kemudian kembali fokus pada pokok bahasan semula. Wanita itu tak berbicara, tetapi dari sorot mata, Sagara tahu bahwa ibunya sedang menanti jawaban. Remaja itu menautkan kedua tangannya di bawah meja dan meremas pertanda cemas.
“Sekarang makan dulu, minya keburu dingin,” pungkas sang ibu setelah saling bungkam beberapa saat.
Sagara hanya mengangguk dan ikut melahap ramen di hadapannya. Selera makan Sagara sudah benar-benar hilang ketika Luna meminta dirinya untuk membujuk Elio. Hanya hambar yang bisa dirasakan oleh indera pengecap Sagara.
Bahagia yang tadinya sudah mulai ia rasakan, sekarang kembali sirna. Ternyata sikap manis Luna yang hari ini ia tunjukkan memiliki tujuan lain. Sagara tentu kecewa, tetapi dia tidak berani untuk menolak permintaan yang mana bisa membuat Luna bahagia.
???