Larut malam, Sagara sibuk membuka sebungkus camilan berisi keripik singkong dan melahapnya penuh semangat. Bunyi nyaring ketika ia mengunyah menjadi satu-satunya sumber kebisingan di kamar itu.
Bocah itu memilih berdiri di dekat jendela kamar dan membiarkan angin malam menerpa wajah putihnya. Lampu di kamar sudah padam, tetapi bocah itu menyalakan lampu belajar sebagai pengganti.
Oleh karena ketegangan sore tadi, Sagara tidak ikut makan malam. Ditambah Elio yang belum pulang, membuat bocah itu merasa tak nyaman jika hanya makan bertiga dengan Luna dan Dirga. Alhasil dia menjadikan belajar sebagai alibi untuk menghindari acara makan malam. Sekarang dia kelaparan, sampai harus mengeluarkan semua persediaan snack yang dia beli untuk mengganjal perut.
Sembari menyantap, pikiran Sagara berkelana ke masa lalu. Di mana ia dan Elio masih kanak-kanak. Mungkin ia berusia empat atau lima tahun, Sagara tak ingat jelas.
Saat itu, Sagara belum tahu bahwa Dirga bukanlah ayah kandungnya. Sama seperti anak kecil pada umumnya, yang ingin dimanja dan diperhatikan.
Sagara terjatuh ketika sedang bermain dengan Elio di salah satu taman tak jauh dari rumah. Bocah itu berlari mendekati Dirga dan mengadu.
“Papa, Papa! Saga jatuh, kaki Saga ada air merahnya. Sakit … hiks—” rengek bocah yang belum tahu bahwa air merah adalah darah.
Dirga yang irit bicara, tak menyahut. Namun, pria itu mengangkat Sagara dan mendudukkan bocah itu di bangku taman. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celana kemudian menggunakannya untuk menyeka darah di lutut Sagara kecil. Tak lupa ia meniup kecil luka itu dengan harapan bisa mengurangi rasa perih.
Selesai membersihkan luka Sagara, Elio datang dan menangis keras. Anak itu sampai terbatuk saking kerasnya menangis. Dirga buru-buru menggendong Elio dan membaca bocah itu untuk duduk di samping Sagara.
“Cup cup … El kenapa nangis? Jatuh? Atau ada yang nakal? Bilang ke Papa, siapa yang nakalin El?” tanya pria itu pada Elio yang masih sesenggukan.
Elio menggeleng. “El lihat cacing. El takut cacing. Huwee ….” Tangisnya semakin keras.
Dirga menghapus air mata putranya dan terkekeh geli.
“Anak Papa nggak boleh cengeng, dong. Katanya El mau jadi dokter. Nah, kalau jadi dokter, El harus pemberani,” bujuknya pada si kecil.
Mendengar hal itu, Elio pelan-pelan menghentikan tangisnya. Bocah itu menghapus sisa air mata dengan lengannya dan mengangguk patuh.
“El anak Papa, nggak bakal cengeng,” kata bocah itu dan berusaha tersenyum.
Dirga ikut tersenyum melihat kepolosan Elio dan mengusap kepala bocah itu.
“Saga juga nggak cengeng, kok. Saga ‘kan juga anak Papa. Iya, ‘kan, Pa?” celetuk Sagara yang duduk di samping Elio.
Hal itu membuat Dirga menghentikan gerakan tangannya. Pria itu menggeleng, kemudian mengajak dua bocah itu untuk pulang.
Dulu, Sagara pikir Dirga menggeleng karena pria itu malas menanggapi ocehan anak kecil sepertinya. Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, Sagara tersadar. Bahwa Dirga menggeleng karena Sagara bukan anaknya.
Cowok itu tersenyum ketika mengingat masa itu. Miris, tetapi fakta tak bisa ditentang.
???
Roda bus berhenti tepat di depan halte. Dua bersaudara yang duduk berdampingan di kursi belakang langsung berebut untuk turun.
“Yang sampe depan gerbang paling akhir, wajib beliin pemenang cilor di kantin!” usul Elio ketika keduanya sudah keluar dari bus.
Sagara belum menyetujui permainan yang Elio cetuskan, tetapi bocah sipit itu sudah lebih dulu berlari usai berucap. Mau tak mau Sagara ikut berlari mengejar adiknya.
“Heh, lo curang, El! Kalau gue kalah, gue nggak mau traktir!” teriaknya sambil terus memacu langkah.
Beberapa meter di depan, Elio terus berlari dan mengabaikan panggilan kakaknya. Saat-saat seperti inilah dia bisa mendapat makanan gratis dari kakaknya. Meski terkesan licik dan murah, tetapi Elio sangat suka jika mendapat sesuatu dari Sagara.
Ketika sampai tujuan, Sagara menarik kerah jaket putih milik Elio. Bocah itu berusaha mengatur napas sebelum akhirnya mengomel.
“Lo curang! Ogah gue disuruh traktir lagi,” protesnya menggebu.
Elio berontak hingga cengkraman Sagara lepas dari jaketnya. Bocah itu tertawa puas melihat kakaknya kesal. Menurutnya, wajah Sagara terlihat lucu ketika mencoba berekspresi marah.
Sagara memukul pelan kepala adiknya. “Ngakak aja, bantet!”
“Ya, maaf. Muka lo mood banget pas sok marah. Hahaha ….”
Hal itu membuat Sagara semakin kesal, tetapi dia tak bisa sepenuhnya marah kepada Elio. Pada akhirnya dia hanya bisa menghela napas melihat tingkah kekanakan adiknya.
Kini dua bersaudara itu beriringan memasuki area sekolah. Kelas Elio berada di gedung bagian timur lantai dua. Bocah itu menghambur lebih dulu menuju tangga dan berteriak lantang.
“Inget, Bang! Cilor di kantin nanti jam istirahat kedua!”
Sagara mengacungkan jari tengah mendengar teriakkan adiknya. Cowok itu melanjutkan langkah menuju kelasnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan melihat pesan beruntun yang berasal dari Daffin.
Kudapin:
[Lo nggak lupa titipan gue, ‘kan?]
Me:
[Lah, emang lo titip apaan? Jangan ngadi-ngadi, ya.]
Sagara mengernyit, dia tidak melupakan hal penting, ‘kan?
Kudapin:
[Astaghfirullah, Mas. Tega kamu, Mas. Aku titip salam sama sopir bus, loh. Kamu kok bisa lupa?]
Sagara mengumpat saat membaca pesan dari Daffin. Cowok itu nyaris melempar ponselnya ke lantai, jika saja dia tidak ingat bahwa baru beberapa hari lalu layarnya diperbaiki.
Terlalu fokus dengan ponsel, Sagara tak menyadari jika di depannya ada orang lain yang menghalangi jalannya. Dua langkah ke depan, sebuah kecelakaan tak dapat terelakkan.
Sagara menabrak seorang siswi yang tengah membawa setumpuk buku di tangannya. Gadis itu tersungkur ke lantai dengan buku berserakan.
“Ya ampun, bukunya jatuh semua!” pekik gadis itu sembari menatap dramatis buku-buku yang berserakan di lantai.
“Woi! Kalau jalan lihat-lihat, dong. Punya mata nggak, sih? Buku anak kelas pada jatuh. Ish!” gerutunya kemudian mulai memungut buku satu persatu.
Melihat hal itu, Sagara tidak tinggal diam. Cowok itu turut berjongkok dan membantu mengumpulkan buku yang jatuh dan mengumpulkannya menjadi satu tumpukan.
“Sorry, sorry. Salah gue,” ujarnya meminta maaf.
Gadis itu berdiri, wajahnya sudah tak sekesal lagi ketika melihat wajah Sagara yang tampak menyesal. Tak lama kemudian, muncul sebuah ide di kepalanya yang membuat gadis itu tersenyum licik.
“Nih, udah kekumpul semua bukunya.” Sagara menyodorkan tumpukan buku yang ia angkat. “Sekali lagi gue minta maaf, ya. Tadi gue terlalu fokus sama handphone sampai nggak lihat jalan,” tuturnya masih dengan wajah penuh sesal.
“Gue maafin, tapi dengan syarat, lo harus bantu gue antar buku ini ke ruang guru,” sahut gadis ber-name tag Sabrina itu.
Merasa dirinya bersalah, akhirnya Sagara mengangguk. “Oke, deal.”
Sabrina tersenyum lebar mendengar jawaban Sagara. Gadis itu memandu langkah keduanya menuju ke tempat tujuan. Tak sadar, kebersamaan mereka menarik perhatian banyak orang. Bermacam spekulasi muncul dari mulut pengamat. Tak sedikit dari mereka mengatakan bahwa Sagara dan Sabrina cocok satu sama lain. Ada juga beberapa gadis yang sedikit kesal karena idola mereka berjalan dengan gadis lain.
Namun, ada sosok yang mengutuk kedekatan mereka dari kejauhan.
“Sial! Siapa, sih, itu bocah?! Berani-beraninya deketin Sabrina,” decak cowok itu dengan tangan terkepal.
***
Sagara sampai ke kelas tepat ketika bel tanda jam pelajaran berdering. Cowok itu melempar tasnya ke atas meja dan langsung duduk dengan malas. Di sampingnya, Daffin sedang terlarut dalam permainan di ponsel sampai tak menyadari kedatangan Sagara.
Baru ketika Sagara menendang kursi yang Daffin duduki, cowok jangkung itu melepas pandangan dari ponsel dan menatap wajah kawannya.
“Heh, bro. Kaget gue, udah main sampai aja,” sapa Daffin.
Sagara tak memberi respons, selain hanya anggukan malas kemudian mulai mengeluarkan buku dari dalam tas. Mata pelajaran jam pertama adalah matematika, salah satu mata pelajaran yang ia benci dan membuat Sagara tak bersemangat padahal masih pagi.
“Ga!” Daffin tiba-tiba merangkul erat bahu sagara.
“Apaan?”
“Lo tadi jalan bareng sama Brina, ya?” Daffin berbisik, seakan takut pembicaraannya didengar oleh teman lain.
Sagara mengernyit. “Brina? Siapa, tuh? Nggak kenal gue,” balasnya bingung.
“Halah, cewek kelas sebelas IPA tiga. Yang galak tapi gemesin, tapi cakep juga itu. Masa nggak tahu, sih?” Daffin semakin antusias menggali informasi meski masih dengan bisikan.
Pertanyaan Daffin membuat Sagara merasa diinterogasi, tetapi cowok itu tak keberatan untuk mengingat-ingat. Jika yang dimaksud kawannya adalah gadis yang tidak sengaja ia tabrak tadi, maka jawaban Sagara adalah iya. Lagi pula, siapa lagi gadis yang dimaksud jika bukan siswi itu?
“Emang kenapa, sih? Gue tadi jalan bareng itu cewek karena nggak sengaja nabrak dia. Terus dia minta tanggung jawab, suruh bantu dia bawain buku ke ruang guru. Udah itu aja,” celetuk Sagara ketika beberapa saat terdiam.
Penjelasan itu membuat Daffin sumringah, dia mempererat rangkulannya.
“Nah, keren banget lo. Seumur-umur, cowok yang deketin Brina tuh selalu kena sembur. Ada yang cari perhatian dengan cara tawarin bantuan juga ditolak. Dia kayak jual mahal, tapi emang cantik, sih.”
Daffin menatap intens wajah Sagara. “Nah, dari cerita lo, ini tuh berita besar. Kayaknya Sabrina jatuh cinta pada pandangan pertama sama lu,” tukasnya dengan wajah serius.
Merasa kesal karena wajah Daffin terlalu dekat, Sagara mendorong wajah bocah itu dengan telapak tangan dan menghempas lengan yang semula merangkulnya. Mengabaikan protes kecil yang dilayangkan oleh sang sahabat.
“Mulutmu bau jigong!” Sagara menggeser tempat duduknya sedikit menjauh. “Udah, deh. Nggak usah lebay! Gue bantu dia karena gue yang salah. Udah gitu aja, nggak kurang dan nggak lebih.”
Daffin tak menyerah begitu saja, cowok itu kembali mendekati Sagara. Namun, kali ini dia tak merangkul atau lainnya, hanya membisikkan kalimat yang terdengar serius.
“Gue tahu, masa remaja kita harusnya bisa seneng-seneng dengan hal kayak pacaran. Tapi saran gue, lo jangan terlalu berharap buat bisa deketin Brina.” Daffin menjeda kalimatnya dan memandang sekeliling.
“Soalnya, Sabrina udah diincar sama kakak kelas. Itu yang namanya ….” Daffin menggaruk kepalanya untuk mengingat-ingat sebuah nama.
“Gavin! Nah, iya. Anak IPS juga, tuh. Gangsternya kelas dua belas.” Cowok itu menepuk dahinketika akhirnya mengingat nama yang sempat ia lupakan.
Mendengar bisikan Daffin yang terdengar seperti makhluk halus, membuat Sagara mengantuk. Bocah itu refleks menguap dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
Sagara berujar malas, “Sebenernya gue nggak paham maksud omongan lo. Tapi yang jelas, gue juga nggak ada niatan buat deketin Brina. Inget ‘kan, prinsip gue gimana?”
Daffin berdeham, kemudian menirukan gaya bicara Sagara. “Sukses dulu, urusan cinta nyusul,” tukasnya mantap.
“Tuh, tahu. Kenapa masih ngelantur kayak tadi?”
Kali ini Daffin sudah tidak bisa beraksi lagi. Bocah itu hanya terkekeh kecil kemudian menjauhkan kursinya. Guru yang sudah memasuki kelas dan mulai mengajar menjadi akhir dari percakapan pagi mereka.