Remaja berjaket hitam itu turun dari bus usai membayar ongkos. Lokasinya turun memang masih jauh dari rumah, sebab ia memang akan mampir ke gerai ponsel untuk memperbaiki layar gawainya.
Sagara menengok kanan dan kiri sebelum akhirnya dia masuk ke salah satu supermarket tak jauh dari halte tempat ia turun. Sebenarnya ada gerai yang letaknya tak begitu jauh dari kompleks rumahnya, tetapi Sagara tak berani datang karena pemilik toko tidak ramah.
Tak lupa, dia juga mengirim pesan kepada sang ibu tentang dirinya yang tak langsung pulang. Entah Luna membaca pesannya atau tidak, Sagara hanya tidak ingin membuat wanita itu khawatir.
Tunggu, apa dia baru saja berpikir soal Luna yang khawatir?
Sagara terkekeh. ‘Kok gue pede banget, ya?’ batinnya miris. Sepertinya ia terlalu banyak berharap sampai jadi halusinasi.
“Siang, Dik. Ada yang bisa dibantu?” tegur karyawan gerai yang Sagara singgahi. Tak lupa senyum ramah ia tunjukkan kepada pela-nggan.
Melihat itu Sagara balas tersenyum hingga menunjukkan dua gigi gingsul yang membuat wajah cowok itu semakin manis.
“Siang, Mas. Saya mau ganti tempered glass, soalnya udah nggak layak dimiliki oleh manusia semanis saya,” ucap Sagara penuh percaya diri.
Kalimatnya membuat beberapa pegawai terdiam sesaat. Namun akhirnya, mereka tidak bisa melontarkan kalimat balasan karena begitu melihat Sagara, mereka mengakui bahwa bocah itu manis. Pegawai yang tadi menyapa lantas meminta ponsel bocah itu dan mulai bekerja.
Pergi ke gerai di supermarket ternyata keputusan yang tepat. Selain pendingin ruangan yang sejuk, bocah itu juga bisa cuci mata sembari menunggu ponselnya selesai diperbaiki. Dia duduk di kursi yang disediakan oleh gerai.
“Sekolah di mana, Dik?” Si pegawai berbasa-basi.
Perhatian Sagara langsung beralih pada orang di depannya. “SMA Abdi Nusantara, Mas.”
“Oh, sekolah bagus itu. Anak tetangga saya juga ada yang di situ, anaknya cantik dan pinter.”
“Iya, emang banyak cewek cantik di sekolah saya, Mas. Tapi cowok ganteng juga nggak kalah banyak jumlahnya, termasuk saya ini.”
Jawaban itu membuat si pegawai bungkam seketika, beberapa teman di belakangnya tak bisa menahan tawa. Sepertinya memulai obrolan dengan pe-langgan di hadapannya adalah pilihan yang salah. Pria itu berhenti berbicara dan menaruh fokus pada pekerjaan. Sementara Sagara juga kembali mengamati lalu lalang manusia di sekitarnya.
“Nih, berhubung nilai kamu semester ini naik, kamu bisa pilih handphone mana yang mau beli,” celetuk seorang pria paruh baya yang berdiri di samping Sagara. Cowok gingsul itu langsung menoleh karena suara keras pria itu cukup mengejutkannya.
“Serius, Yah?” tanya si anak yang masih lengkap dengan seragam sekolah dengan antusias.
Sang ayah mengusap kepala anaknya. “Iya, ‘kan Ayah udah janji,” ujarnya tersenyum.
“Ya udah, Bunda bantu aku pilih hape, ya?” Anak itu meraih tangan ibunya untuk mendekat.
Mata bocah berseragam SMP itu langsung menjelajahi isi etalase kaca. Di dalamnya terdapat bermacam jenis ponsel dengan harga beragam. Dia membutuhkan waktu cukup lama untuk memilih, ponsel seperti apa yang akan ia beli.
Manis sekali, batin Sagara.
Cowok itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau yang lain. Namun, entah kenapa rasa nyeri menyerang dadanya. Jika bukan penyakit, maka Sagara tahu apa penyebab dari rasa sakit itu. Ya, apalagi kalau bukan iri.
Sagara tidak munafik, melihat keharmonisan keluarga yang tanpa sengaja ia lihat hari ini membuatnya iri. Hingga sebesar ini, belum pernah sekalipun Sagara merasakan bagaimana itu dimanja oleh orang tua. Sekali-kali dia ingin tahu, apa disayang semenyenangkan itu?
“Totalnya seratus lima puluh ribu, Dik. Garansi satu minggu, ya.”
Suara pegawai yang tadi memperbaiki layar ponsel mengalihkan perhatian Sagara. Bocah itu lantas mengangguk dan mengeluarkan uang dari dalam tas. Sagara menyerahkan uang itu dan menerima ponselnya.
“Makasih, Mas,” ujarnya berterima kasih.
Tak mau berlama-lama, Sagara langsung bertolak ke rumah ketika ponselnya selesai diperbaiki. Luna akan memarahinya jika pulang terlalu sore, karena wanita itu sudah menyuruh Sagara untuk membersihkan gudang di belakang rumah.
Cukup dengan rasa iri yang tidak berguna. Sekarang dia akan menjemput tugas dari ibu negara.
???
Remaja berkaus putih dibalut dengan kemeja berbahan flanel warna hijau tampak berlari kecil menuruni tangga. Bibirnya bersiul riang mengikuti irama di kepalanya. Sembari berjalan, dirinya memeriksa isi tas, berharap tidak ada lagi yang tertinggal.
Namun, sial. Hanya tersisa tiga anak tangga lagi, Elio teringat sesuatu. Bocah itu berhenti dan refleks menepuk dahinya.
“Power bank gue ketinggalan, ish! Males banget harus naik lagi, tapi kalo nggak balik ke kamar, baterai gue yang innalilahi.” Ia mendengkus kesal.
Pada akhirnya, Elio memutar arah dan kembali ke kamar. Ini salahnya karena terlalu buru-buru, tetapi pintu kamar menjadi korban kekesalan bocah itu. Ketika sudah ada di dalam kamar pun, dia tak langsung menemukan letak benda yang dicari.
Elio hampir mengumpat ketika dering ponsel menginterupsinya. Cowok itu menarik dapas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kasar. Ketika sudah bisa mengendalikan emosi, ia mengangkat panggilan.
“El! Lu sampe mana? Udah sore, nih. Deadline tugasnya ‘kan lusa, nah mau nggak mau hari ini kita selesai. Biar besok tinggal revisi aja,” ujar sosok di seberang telepon.
“Halo! Iya, bentar. Gue ambil power bank dulu, habis ini otw! Lagian rumah kita nggak jauh-jauh amat, tenang aja,” balasnya ketus.
“Lah, kok baru otw, sih? Ini temen-temen udah pada kumpul, loh. Nanti—”
Enggan mendengar omelan tak berkesudahan, Elio mematikan panggilan sebelum temannya. Bocah itu kembali mengobrak-abrik isi kamar hingga menemukan benda yang dicari. Kemudian, dia kembali berlari kecil meninggalkan ruangan bernuansa oranye itu.
Ketika melewati ruang tamu, sudah ada ibunya dan Sagara sedang berhadapan. Melihat Luna yang berkacak pinggang, Elio menangkap sinyal tak baik dari cara berdiri ibunya. Dia buru-buru mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Maaf, Ma. Aku beneran lupa. Soalnya tadi mendung, jadinya panik. Aku baca kok Whats*App dari Mama.” Sagara memelas. Cowok itu berusaha mendapat pengertian dari Luna, tetapi sang ibu tetap murka.
“Kamu buta, ya? Di luar matahari masih terang gitu, langitnya aja nggak ada awan. Mendung dari mana?” bantah Luna.
Memang benar kata Luna, sekarang pukul lima sore. Langit cerah nyaris tanpa awan, sama sekali tidak masuk akal jika akan datang hujan. Namun, Sagara berani bersumpah, tadi ketika ia keluar dari supermarket langit benar-benar gelap. Seketika dia panik dan langsung berlari menuju halte untuk mendapatkan bus, tetapi alasan itu ditolak mentah-mentah oleh Luna.
“Aku nggak bohong dan aku nggak buta, Ma. Tolong percaya sama aku, sekali aja.” Suara Sagara mulai serak. “Kalau nggak, biar aku balik dan ambil bajunya sekarang,” tukas bocah itu mencoba meyakinkan sang ibu.
Luna mengibaskan tangan di depan wajah dan berkata, “Nggak perlu. Kamu nggak pernah becus kalau disuruh, nggak berguna.”
“Ada apa, sih, Ma?” Elio awalnya hanya menyimak perselisihan, tetapi begitu mendengar kata-kata Luna yang begitu tajam, bocah itu tak tahan lagi.
Sang ibu tak menjawab, begitu pula kakaknya. Namun Elio tahu, apa akar masalah dari semua ini. Dia berjalan dan berhenti tepat di samping Sagara.
“Mama kenapa ngomong kayak gitu ke Abang? Itu kasar banget loh, Ma,” sergah Elio yang membuat Luna sedikit terkejut. Wanita itu tidak tahu jika putra bungsunya sedari tadi memperhatikan mereka.
“El, kamu mau ke mana kok rapi gitu?” Wanita itu mengabaikan ujaran Elio dan balik bertanya.
“Ini udah sore, loh,” lanjutnya usai melihat arloji di tangan kirinya.
“Mama jangan mengalihkan pembicaraan, dong. Aku nggak suka kalo Abang dibentak-bentak gitu. Abang juga anak Mama, loh.” Elio tak akan terkecoh lagi. Dia sudah cukup sabar ketika melihat kakaknya terus-terusan diperlukan tidak adil.
“Oke, Sayang. Mama marah juga karena ada alasannya. Kakak kamu ini nggak pernah bener kalau disuruh. Hari ini disuruh ambil jahitan juga, alasannya mendung terus lupa. Nggak ada bergunanya jadi orang,” pungkas Luna yang membuat nyali Sagara makin ciut.
“Namanya juga manusia, Ma. Lupa itu udah sifatnya. Lagian kalau Abang lupa, Mama bisa kok pakai jasa ojol. Jaman sekarang udah canggih, loh.” Bocah itu membuka ponselnya dan memencet salah satu menu kemudian menunjukkan kepada ibunya.
“Nih, suruh penjahitnya kirim pakai aplikasi ojol aja. Bayar ongkos kirim juga nggak seberapa, kok,” imbuh Elio.
Penuturan si bungsu membuat Luna terdiam. Wanita itu juga menyadari, karena terlalu emosi, dia sampai lupa jika ada teknologi semacam itu. Dia kemudian menghela napas dan menatap teduh pada Elio.
“Ya udah, iya. Mama pakai ojol aja. Sekarang Mama tanya, kamu mau ke mana?”
Elio tersenyum, akhirnya masalah terselesaikan. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Sagara, sebagai kode bahwa cowok itu tidak perlu khawatir.
“Aku mau kerjain tugas kelompok di rumah temen dan mungkin pulang habis makan malam,” sahutnya sembari menunjukkan tas yang menempel di punggung.
Sang ibu mengangguk. “Oh, ya sudah. Kamu berangkat sekarang, gih. Takutnya kalau makin sore, nanti kamu pulangnya makin larut. Kalau nggak berani pulang sendiri, kamu bisa chat Papa. Hari ini dia pulang cepet, kok,” pesan Luna.
Elio mengangguk patuh. “Iya, Ma.”
Usai mencium punggung tangan dan mengucap salam. Elio bergegas lari meninggalkan rumah. Temannya kembali menelpon begitu dirinya selesai mengucapkan salam.
Menyisakan ibu dan anak dalam satu ruangan yang saling membisu. Melihat tatapan dingin Luna, Sagara menunduk dan memilin ujung jaketnya. Wanita itu pasti semakin kesal karena Elio telah membelanya.
“Kamu ….” Suara Luna terdengar dingin.
Sagara kemudian mendongak, menatap tepat ke netra kelam sang ibu.
“Kamu belum puas bikin Mama tersiksa karena harus melahirkan anak seperti kamu, dan sekarang kamu mau rebut hati Elio juga? Hebat, ya?” sindir Luna. Wanita itu menatap Sagara seakan jijik dengan bocah itu.
Mendengar sindiran itu, Sagara refleks mengelus d**a. Bagaimana Luna bisa berpikir seperti itu? Dalam waktu bersamaan, hatinya juga merasa sakit ketika Luna melontarkan kalimat penyesalan karena sudah melahirkan Sagara.
“Astaghfirullah, aku nggak pernah berpikir seperti itu, Ma.” Dia ingin mengutarakan pembelaan, tetapi Sagara kehabisan kata-kata.
Luna berdecih. “Kamu itu licik, sama kayak orang itu. Andai Mas Dirga nggak larang, kamu udah Mama gugurkan. Nggak ada yang bagus dari lahirin kamu,” tukasnya penuh penekanan.
Wanita itu lantas berbalik dan pergi meninggalkan Sagara dengan keheningannya. Bocah itu mendadak pusing dan kehilangan kekuatan untuk berdiri. Dia sampai bersandar pada dinding untuk tetap berdiri.
Sakit sekali.
Dadanya terasa sesak, padahal sirkulasi udara di dalam ruangan sangat lancar. Namun, rasanya sangat sulit bagi Sagara untuk bernapas. Bocah itu memukul-mukul dadanya, berusaha agar rasa sesak itu hilang. Sialnya, malah sakit yang ia dapat.
“Fyuh …” Sagara menghela napas, “tenang, Ga. Semua bakal baik-baik aja, Mama tadi Cuma kebawa emosi. Dia nggak bermaksud buat ngomong gitu,” gumamnya menenangkan diri sendiri.
Setelah beberapa saat mematung dan mendinginkan pikiran. Sagara akhirnya berhasil mengendalikan emosi. Bocah itu beranjak meninggalkan tempatnya dan pergi ke dapur. Mau bagaimana pun, dia harus membantu Luna untuk menyiapkan makan malam.
***