LUKA LAMA

1286 Kata
Rapat telah usai, para karyawan berhamburan keluar kembali ke ruangan masing-masing. Begitu juga Zeta dan Salsa yang bak perangko kemana-mana selalu berdua saja, kalau ada Salsa pasti ada Zeta begitu saja seterusnya dan sebaliknya. “Ta!” Panggil Intan dari belakang, Zeta menoleh dengan senyuman ramah. “Gimana Tan?” Tanya Zeta mendekat pada Intan yang berdiri di ambang pintu ruangannya. Salsa berjalan lebih dulu sepertinya obrolan keduanya penting, Zeta tidak terlalu mengenal sosok Intan. Perempuan di hadapannya itu memiliki jabatan di atasnya, Zeta hanya mengetahui Namanya saja tidak akrab. Mereka hanya tegur sapa saja. “Lo dipanggil Pak Adi di ruangan dia.” Ucap Intan dengan senyum mengusap bahu Zeta kemudian memilih masuk ke ruangannya. Sedangkan Zeta terdiam, termangu mengapa managernya memanggilnya. Zeta segera bergegas menemui managernya yang masih berada di ruang rapat rupanya. Zeta menghentikan langkahnya kala di seberang lantai Genta tampak sedang bercanda dengan Dicky. Zeta menarik ujung bibirnya, tersenyum. Cinta memang membutakan segalanya, Zeta cukup Bahagia dengan hal sepele yang berhubungan dengan Genta. Tok…tok… “Ya masuk!” Ucap seseorang di dalam begitu mendengar ketukan pintu ruangannya. Zeta masuk dengan sopan kemudian berdiri di hadapan Adi, Adi hanya tersenyum melihat sikap Zeta yang ia tunjukan di depan atasannya. Wajahnya yang bak lemah lembut berubah menjadi sosok yang tegas. Ia sedang tidak mencari muka, tetapi memang seperti itulah dia. “Jadi ada apa ya Pak Adi memanggil saya?” Tanya Zeta dengan sopan dan senyumannya. “Jadi proposal kamu yang lalu sudah di acc kan Ta! Nah mulai depan mungkin bisa dikerjakan project yang kamu susun kemarin sebelum kita berangkat ke Batam untuk meeting dengan kolega.” Ucap Adi to the point menyampaikan semuanya. “Oh begitu baik pak!” Jawab Zeta dengan senang hati, ia benar-benar senang bukan main mengetahui proyeknya akan segera di mulai. “Kalau begitu saya permisi pak!” Pamit Zeta membalikkan tubuhnya beranjak untuk pergi. “Eh Ta sebentar!” Ucap Adi tiba-tiba berdiri mengambil sebuah berkas menghampiri Zeta yang menghentikkan langkahnya begitu Adi memanggil Namanya. “Iya pak?” Jawab Zeta menunggu Adi berdiri tepat di hadapannya. “Saya nitip ini sekalian ya untuk Genta.”Ucap Adi kemudian menyodorkan beberapa lembar dokumen untuk Zeta. Zeta menerimanya dan mengangguk, kemudian berlalu. Ia berjalan pelan memandang sendu pada dokumen yang ia genggam ini. Mengapa ketika ia berhenti ah tidak lebih tepatnya ia sedang belajar berhenti justru semesta seakan tidak mengizinkannya. Ada apa sebenarnya mengapa harus begitu. Semenjak Zeta tahu bagaimana sudut pandang Genta kepada Ayu mulai ia pertanyakan lagi pada hatinya, akankah seorang Genta pantas menerima tulusnya perasaannya kepada lelaki dingin itu. “Ta!” Sahut seseorang yang sudah berdiri di sampingnya, Zeta sedikit terkejut dengan keberadaan Dicky di sampingnya. “Lo ngapain berdiri di depan ruangan gue?” Tanya Dicky membuat Zeta justru tampak bingung seperti orang yang sedang linglung. “Oh! Ini gue disuruh sama Pak Adi buat ngasih ini ke Bang Genta.” Ucap Zeta sambil dagunya menunjuk beberapa dokumen yang ada di tangannya. Zeta menyodorkan ke Dicky, alih-alih segera menerimanya justru Dicky sedikt menjauh membuat Zeta tercengang karena respon Dicky kepadanya. “Nitip Dik!” Rengek Zeta pada Dicky yang jelas-jelas ia sedang menghindar. “Kasih sendiri aja Ta! Gue kebelet.” Ucap Dicky berlari menjauh membuat Zeta yang tadinya ingin menahan kepergian lelaki itu akhirnya mengurungkan niatnya. Zeta menghela nafas kala seseorang di dalam ruangan itu menyadari kehadirannya, Zeta masuk ke ruangan menghampiri lelaki yang tadinya sempat melakukan kontak mata dengannya kini mengalihkan pandangannya kembali. Sangat jelas jika dia sengaja tidak mau menatap Zeta. “Dari Pak Adi Bang!” Ucap Zeta menyodorkan dokumen yang ia bawa pada Genta yang tampak tidak peduli. Zeta memilih segera pergi saja, berdua dengan Genta di dalam ruangan yang dulunya sangat menjadi candu baginya justru menjadi tidak nyaman. Ia takut, bukan takut Genta akan berbuat yang tidak-tidak. Tapi Zeta takut dengan ucapan-ucapan Genta bak sebuah belati yang menggoreskan rasa perih bukan ampun. “Tunggu!” Cegah Genta membuat Zeta langsung menoleh dengan senyum yang ia sembunyikan. “Gue cuman mau balikin ini!” Ucap Genta menyodorkan sebuah kotak bekal yang tadinya Zeta bawakan bolu untuknya. Kotak itu jatuh, Genta awalnya memang sedikit melempar kasar tapi tidak menyangka jika kotak itu akan terjatuh ke lantai. Genta tertegun melihat sangat jelas di wajah Zeta senyum yang sengaja disembunyikan memudar, tatapannya pilu pada kotak yang tergeletak di lantai. ‘ Zeta memungutnya dan berlalu pergi, Genta merutuki dirinya sendiri. Mengapa sikapnya selalu berubah arogan kepada Zeta. Mungkin sebab ia tidak menyukai sikap Zeta dan ia mengetahui Zeta memiliki perasaan untuknya membuat ia merasa terganggu. “Ta! Si Zeta pergi gitu aja?” Tanya Dicky langsung antusias mengintrogasi sahabatnya yang justru berdecak kesal melihat Dicky yang dari kamar mandi langsung berlari menuju kemana ia duduk. “Ya emang harus gimana sih Dik?” Tanya Genta mulai terpancing kesal pada Dicky yang selalu menantikan ada momen-momen antara dirinya dengan Zeta. “Kok gitu sih Ta.” Ucap Dicky kesal sendiri melihat keangkuhan Genta jika membahas tentang Zeta. “Yah elu aneh! Ngapain gitu. Kemarin dukung gue sama Ayu sekarang balik lagi ledekin gue sama Zeta mulu.” Ucap Genta kesal. “Iya deh sorry-sorry…” Ucap Dicky dengan senyuman mengajak Genta yang bercanda, hampir saja ia terpancing emosi. Sikap seorang Genta pada Zeta seolah Zeta adalah sesuatu yang harus ia hindari, begitu sensitive. “Bang Genta!” Sapa Ayu yang melintas di depan ruangan membuat Dicky dan Genta menoleh dengan cepat. Genta hanya mengangguk kemudian perempuan yang menyapanya tampak senang mendapat balasan ramah dari sang idaman hati. Sedangkan Dicky mencebikkan kedua bibirnya melihat respon Genta kepada Ayu begitu berbanding balik dengan Zeta. “Lo demen beneran sama dia Ta?” Tanya Dicky penasaran. “Menurut lo?” Tanya Genta malah menanyakan balik, ia yakin Dicky mengetahui jawabannya hanya saja lelaki itu mencoba memastikan jawaban dari Genta sendiri. Dicky memilih diam, Genta yakin dugaan Dicky salah tentang siapa yang sebenarnya dalam dirinya. Genta mulai memikirkan bahwa kini ada jarak diantara dirinya dengan sang perempuan itu namun Genta hanya menyimpannya dalam diam dan mencoba mencari tahu sendiri sebab perempuan itu mulai berubah menurutnya. *** Salsa memasukkan semua dokumen ke dalam tasnya, ia melihat Zeta yang tampak bersantai dan juga berkemas-kemas. Ia justru sedang men-scroll beranda i********: miliknya. Mata Zeta tampak Lelah makanya ia menyandarkan bahunya ke bantal di belakang punggungnya, ia meletakkannya lebih tinggi dari biasanya. “Lo nggak balik Ta?” Tanya Salsa menghampiri Zeta yang hanya melirik kedatangannya. “Gue nunggu Ira! Dia lembur sampe jam 8 nanti.” Ucap Zeta dengan senyumannya kemudian meletakkan ponselnya, meneguk air mineral miliknya yang tersisa setengah botol itu. “Nunggu Ira? Kenapa nggak sama Genta?” Tanya Salsa penasaran. “Nggak! Bang Genta juga udah sama Ayu Sa!” Ucap Zeta menggeleng sambil menunjuk ke luar ruangan. Benar yang dikatakan, Genta sedang berjalan beriringan dengan Ayu. Zeta menunduk tak kuasa melihat lelaki yang ia sukai berjalan dengan perempuan lain. Salsa yang meliriknya justru kesal sendiri, mengapa kehadiran Ayu seolah sengaja merampas Genta dari Zeta. “Ayu ganggu banget gak sih Ta?” Tanya Salsa kesal menatap Genta yang perlahan menghilang dibalik tembok. “Nggak dong Sa! Gimana pun Genta bukan milik gue!” Ucap Zeta dengan senyum yang sangat dipaksakan. Dari sorot matanya tidak bisa dipungkiri ada tatapan yang penuh luka yang hanya bisa melihat hanya orang terdekat Zeta sendiri. “Ya udah ayok sama gue aja pulang. Lagian Ira masih lama lo mau sendirian di kantor?” Tanya Salsa membuat Zeta menggeleng. Ia segera berkemas dengan semangat. Ia segera menuju parkiran, langkah Zeta sedikit pelan menyadari Genta yang masih di parkiran dengan Ayu. Zeta mengalihkan pandangannya dengan lebih memilih seolah mendengar Salsa yang sedang bercerita meski kenyataannya tidak ada cerita yang masuk sama sekali. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN