SHE KNOW

2130 Kata
“Ta pulangnya kok terlambat?” Ucap Mila begitu mendengar suara pintu dibuka, ia menoleh dan sedikit terkejut karena rupanya Zeta tidak pulang sendirian melainkan mengajak rekan kerjanya. Salsa tersenyum menyapa Mila yang buru-buru segera ke dapur untuk mencuci tangannya kemudian menyambut kedatangan teman anaknya selain Ira. Salsa pun duduk matanya tidak bisa diam, terus mengitari keadaan rumah sekitar dalam diamnya sedangkan Zeta masuk ke kamar terlebih dahulu. “Sa! Gue tinggal ke kamar dulu ya!” ucap Zeta yang langsung dibalas anggukan Salsa. Mila datang membawa minum dan beberapa camilan dalam sebuah toples. Salsa pun hanya tersenyum dikala Mila duduk di hadapannya. “Saya mamahnya Zeta.” Ucap Mila memperkenalkan diri yang langsung dibalas anggukan Salsa. “Saya temen kantornya tante, Salsa.” Sahut Salsa akhirnya membuka suara sejak ia masuk ke dalam rumah kontrakan Zeta ia sedikit menjadi pendiam. Sangat berbeda ketika ia di kantor, apalagi hanya ada Zeta di sekitarnya ia akan bersikap bebas dan sedikit kocak. Beberapa orang memang tampak pendiam di tempat asing bukan? Dan akan bergerak aktif bak amoeba yang membelah diri pada lingkungan yang ia kenali. “Ya gini ya keadaannya rumah Zeta.” Ucap Mila apa adanya ia tidak mau anaknya diterima di lingkungan karena rekayasa sebuah cerita. “Iya sama aja Tante, punya Salsa sama kok.” Jawab Salsa merendah ia tidak mungkin menampilkan dirinya sebagai perempuan yang dilahirkan dari keluarga kaya raya. Zeta kemudian keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah ganti dan rambut yang basah usai keramas. Rupanya perempuan itu tengah mandi begitu Salsa ditemani oleh mamahnya. Mila menepi perlahan, ganti Zeta yang mengajak Salsa untuk naik ke atas kamarnya. Setiba di kamar Zeta, Salsa kembali pada sikapnya yang sangat bar-bar itu. Ia melempar tas kerjanya asal di tempat tidur, padahal di dalamnya ada ponsel dan juga laptopnya. Zeta hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Salsa sembari meletakkan tas Salsa dengan benar. “Lo tahu nggak sih! Tempat favorit gue tuh kamar yang ada jendelanya, terus jendela itu langsung ke jalanan gini.” Ucap Salsa dengan matanya yang berbinar. “Emang kamar lo nggak kayak gini?” Tanya Zeta mendekati Salsa yang masih berdiri memandang pemandangan di jalanan ketika malam hari. Gemerlap lampu di beberapa sudut kota, juga di tengah jalan raya di atas pembatas. Benar-benar indah bak lukisan yang nyata. “Pantes aja ya elo bisa tahu Genta udah berangkat apa belum ternyata dari sini toh!” Ucap Salsa dengan senyum menggoda Zeta yang justru menatapnya kesal. “Ye, nggak gitu juga kali Sa! Gue hafal lagi kapan Genta berangkat makanya bisa pas kadang gue berangkat bareng.” Ucap Zeta sombong, seolah yang tahu semua tentang Genta hanya dia. “Lo tuh bisa bucin banget ya sama si Genta!” Selidik Salsa dengan mata yang memicing menatap intens pada Zeta yang sedikit gugup karena mendapat tatapan begitu tajam Salsa. “Enggak dong, kalau gue bucin ya pasti gue musuhin si Ayu. Apapun yang terjadi harus dapetin Bang Genta.” Ucap Zeta denagn wajah seolah meminta persetujuan dengan pernyataannya tadi. Salsa terdiam, yang dikatakan sahabatnya itu memang ada benarnya juga. Zeta keluar kamar tiba-tiba membuat Salsa justru menjadi diam karena berada di dalam kamar orang lain. Sekali pun milik orang terdekat di kantornya. “Ta! Sini!” Ucap Mila lirih memanggil anaknya yang baru saja menutup pintu kamarnya. “Kenapa?” Tanya Zeta dengan nada lirih juga mengikuti sang mamah. “Temen kamu kesini naik mobil, kok kamu nggak bilang sama Mamah dulu biar Mamah siapin apa gitu biar pantes.” Omel Mila masih dengan nada lirihnya, wanita paruhbaya itu merasa tidak enak karena tidak mempunyai suguhan untuk tamu dadakannya. “Nggak usah! Dia itu yang orangnya sederhana kok Mah.” Ucap Zeta menenangkan mamahnya yang bingung karena tidak memiliki apa-apa. “Ya udah ajak makan aja!” Ucap Mila menyuruh Zeta untuk menyiapkan makan malam dengan Salsa. Zeta masuk ke dalam kamar lagi, Salsa tengah rebahan nampaknya ia sedang penat sekali lagi sambil memainkan ponselnya. “Yok makan dulu di bawah!” Ajak Zeta membuat Salsa langsung terbangun dengan senyumannya ia bergegas mengekor pada Zeta yang berjalan lebih dulu. “Ayo Salsa makan dulu!” Ucap Mila yang tengah menyiapkan beberapa lauk yang sudah ia hangatkan. Zeta dan Salsa duduk dengan semangatnya. Kemudian disusul oleh Mila. Mereka makan dalam keheningan tidak ada suara percakapan dan juga suara sendok pada piring pun. Semuanya benar-benar tenang tidak seperti biasanya. Selesai acara makan malam, Zeta dan Salsa kembali lagi ke kamar. Salsa rasanya enggan untuk pulang, padahal besok masih harus bekerja. Zeta yang sudah terbaring dengan ponselnya hampir terpejam sebelum pertanyaan Salsa membuat rasa kantuknya hilang. “Mamah lo ramah banget ya Ta!” Ucap Salsa dengan senyumannya. “Ya sama kayak ibu-ibu pada umumnya.” Jawab Zeta asal membuat Salsa menggeleng, tidak semua orang tua menyambut temen anaknya seperti itu. “Lo pernah tanya ke gue kan Sa dimana bokap gue!” Celetuk Zeta memandang langit-langit kamarnya. Salsa mendekat dan ikut berbaring di samping Zeta dari matanya sahabatnya sangat jelas jika mengingat papahnya adalah sesuatu yang menimbulkan luka yang paling dalam. Salsa pun menunggu kalimat berikutnya yang akan dikatakan Zeta. “Gue sebenarnya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, nenek gue yang cerita tapi di depan nyokap gue! Gue pura-pura nggak tahu dan menunggu dia cerita.” Ucap Zeta dengan suara yang sedikit parau. Rasanya hampir menangis jika mengingat kisah kelam di masa kecilnya, ah bukan lebih tepatnya ketika dia mulai muncul di Rahim mamahnya. Tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi, kehadirannya yang tiba-tiba tanpa direncanakan sebelumnya. “Bokap gue tuh pergi dan nggak akan pulang lagi.” Ucap Zeta menoleh pada Salsa yang sejak tadi rupanya tidak mengalihkan barang sedikit pun pandangannya dari Zeta. “Maksud lo meninggal?” Tanya Salsa penasaran, kalimat Zeta sedikit ambigu baginya. “Gue nggak tahu, dia sudah meninggal atau masih hidup. Yang jelas dia pergi waktu mamah gue hamil.” Tegas Zeta begitu singkat namun cukup mendalam, Salsa bungkam ia tidak tahu harus berkata apa. Masalahnya cukup serius, Salsa enggan melanjutkan cukup ia tahu pada intinya bagaimana keadaan keluarga Zeta yang sebenarnya. Zeta terdiam, ia benar-benar marah entah pada siapa. Setiap ia membuka percakapan tentang papahnya dengan mamahnya, Mila akan marah justru menimbulkan pertikaian di antara keduanya. “Cuman elo aja yang tahu Sa!” Ucap Zeta dengan senyumannya, seolah ia memberikan kepercayaan kepada sahabat rekan kantornya itu. “Kayaknya anak kantor udah tahu Ta! Mungkin nggak berani aja bahas di depan elo!” Ucap Salsa dengan lirih, ia tidak enak hati tapi memang itu kenyataannya. “Ya biarin aja sih!” Ucap Zeta dengan senyumannya. “Eh udah jam 10 aja gila! Gue harus pulang.” Pekik Salsa tak sengaja melihat waktu yang ditunjukkan jam dinding di kamar Zeta. “Serius lu mau balik?” Tanya Zeta. “Iya! Besok kerja Ta! Kalau libur udah tidur disini aja gua.” Ucap Salsa dengan tertawa. “Ayo gue anter lo pulang!” Ucap Zeta terbangun dari berbaringnya, mengantar Salsa untuk berpamitan dengan orang tua Zeta. “Tante, Salsa pulang dulu ya!” Ucap Salsa dengan senyumannya. “Hati-hati ya!” Jawab Mila yang tengah duduk menonton tv. Zeta ikut keluar mengantar Salsa sampai perempuan itu masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba Salsa membuka kaca mobilnya membuat Zeta yang tadinya ingin masuk ke dalam rumahnya mengurungkan niat. “Eh Ta! Itu bukannya si Genta.” Ucap Salsa menunjuk dari arah selatan. Zeta memicingkan tajam pandangan matanya dan benar itu memang Genta dan Ayu, rupanya tidak langsung pulang mereka. Zeta merasa cemburu tapi apalah daya dia bukan siapa-siapa Genta. Seorang pengagum yang bukan rahasia lagi. “Gila! Baru balik mereka!” Ucap Salsa menggelengkan kepalanya. “Udah buruan balik sonoh! Hati-hati ya Sa!” Ucap Zeta melambaikan tangan pada sahabatnya itu. *** Zeta tersenyum menyambut pagi yang mulai datang, hari yang cerah untuk jiwa yang sepi begitu kiranya salah satu lirik lagu yang terdengar dari music yang diputar dengan volume cukup rendah hanya sebatas penyemangat pagi untuk Zeta menyambut hari. Zeta merapikan bajunya yang berwarna hijau olive membuat kulitnya tampak lebih cerah dari biasanya. Zeta keluar kamar sekalian menenteng tas kerjanya, Mila seperti biasa sudah duduk di meja makan menunggu sang anak sarapan. Zeta menatap senyum Mamahnya, kemudian ia duduk di hadapan Mila yang sejak tadi memandang Zeta dengan senyumannya. “Mah, tahu nggak semalem Salsa bahas apa sama Zeta?” Celetuk Zeta tiba-tiba ingin membahas obrolannya semalam dengan Salsa. “Memang kalian ngobrolin apa?” Tanya Mila dengan matanya yang tampak antusias bersiap untuk mendengat cerita yang sangat jarang-jarang. “Salsa tanya kemana Papah Zeta kerja.” Jawab Zeta dengan singkat, ia tetap focus pada makanannya dia tidak menyadari perubahan wajah mamahnya. Kilauan di mata Mila hilang dalam sekejap, senyuman yang sejak tadi terpajang di wajahnya menghilang entah kemana. “Kenapa dia tanya itu?” Tanya Mila dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. Zeta tidak menjawab, ia meletakkan sendoknya padahal sarapannya masih tersisa setengah. Mila sejak tadi menatap Zeta dari gerak-gerik anaknya, sampai akhirnya Zeta memberanikan diri membalas tatapan mamahnya. “Itu pertanyaan wajar Mah. Dan Zeta nggak bisa jawab pertanyaan umum seperti itu.” Bantah Zeta seolah tidak ada yang salah dalam pertanyaan Salsa, sayangnya Zeta selalu mendadak bisu karena tidak bisa menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu. “Kamu kan bisa berbohong.” Tandas Mila seolah Zeta sengaja mengungkit masalah itu. “Untuk apa? Zeta nggak mau ada rekayasa dalam hidup Zeta. Zeta juga tahu kemana sebenarnya Papah pergi.” Bantah Zeta tidak terima ketika Mila justru menyuruhnya untuk berbohong. “Kamu tidak tahu apa-apa soal papah kamu!” Tandas Mila dengan penuh penekanan pada setiap katanya, memberi peringatan bahwa harusnya Zeta tidak perlu membahas apapun hal yang menyangkut tentang papahnya. “Iya, terus Zeta harus seperti orang bodoh yang nggak tahu gimana cerita keluarganya dulu.” Ucap Zeta mulai terpancing emosi. Mengapa terlalu rumit hanya sebuah cerita masa lalu tapi mamahnya benar-benar menutup rapat dan enggan membicarakan papahnya lagi. Bahkan sekalipun Zeta tahu cerita sebenarnya ia tidak akan meninggalkan Mamahnya untuk hidup sendiri. Bukan seandainya lagi karena begitu mengetahui cerita sebenarnya Zeta tetap berada disamping wanita yang melahirkannya, ia marah dan kecewa karena Mila menyembunyikan hal itu. “Mamah Cuma nggak mau..” “Nggak mau dikucilkan?” Tanya Zeta memotong ucapan Mila. “Itu udah resiko yang harus Zeta tanggung karena Zeta tidak memiliki keluarga yang utuh!” Ucap Zeta geram beranjak berdiri segera lenyap dari meja makan. “Zeta!” “Zeta!” “Zeta!” Panggilan Mila tidak dihiraukan oleh Zeta sama sekali, anaknya memilih segera memakai sepatu dan berjalan keluar tidak memerdulikan Mamahnya yang kini menatapnya dari kejauhan. Zeta menghampiri Ira yang sejak tadi menunggunya di bawah pohon rindang sambil menyalakan motornya. “Ta! Lo datang nggak ada jejaknya.” Omel Ira pada Zeta yang masih diam membisu, mencoba merendam emosinya yang hampir saja meledak hanya karena membahas papah dengan mamahnya. Ira yang melihat ada Mila dari rumah tersenyum menyapanya. Sedangkan Zeta justru mengalihkan pandangannya ia benar-benar tidak habis fikir betapa Mamahnya begiru keras kepala. Motor melaju menuju kantor. “Ta! Elo kenapa sih diem aja?” Tanya Ira menyadari sejak tadi sahabatnya hanya diam seribu Bahasa di jok belakangnya. “Gue? Gue kanapa? Baik-baik aja kok Ra!” Ucap Zeta seolah tidak memahami kearah mana pembicaraan Ira. “Tuh bisa bareng Genta.” Ucap Ira berhenti di depan kantor Zeta bersamaan dengan Genta yang baru saja melintas menuju parkiran. Zeta melepas helm kemudian melambaikan tangan pada Ira yang melajukan motornya lagi meneruskan perjalanannya ke tempat kerjanya lagi. Zeta masuk ke dalam kantor sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan karena ia memakai helm. “Hai Ta!” Sapa Dicky pada Zeta yang justru membuat Zeta mengerutkan kedua alisnya karena menurutnya Dicky tidak bersikap seperti biasanya menggoda Zeta. “Gue mau beli kopi lo mau nitip nggak?” Tanya Dicky pada Zeta, Zeta yang melirik sekilas Genta yang tampak bersikap tidak peduli. “Duluan aja Dik, gue nyusul sama Salsa.” Ucap Zeta menolak dengan senyumannya. Genta sedikit mencuri pandang pada Zeta yang seperti tidak berminat untuk mengambil kesempatan demi Bersama Genta seperti biasanya. “Orang Salsa aja nitip gue Ta!” Ucap Dicky membuat Zeta tampak tergagap, harus dengan cara apa lagi untuk menolak dengan halus kebaikan yang ditawarkan Dicky. “Ya nanti gue..” “Udah deh Dik, kalau dia nggak mau nggak usah dipaksa lagi.” Potong Genta menyeret Dicky untuk segera pergi meninggalkan Zeta yang mematung di ambang pintu ruang kantornya. “Percuma nawarin cewek sok jual mahal mah.” Ucap Genta dengan tatapan sinis memandang Zeta dari atas sampai bawah membuat Zeta semakin merasa dikucilkan di mata Genta, tidak akan pernah benar dan akan selalu disalahkan. Kebencian benar-benar menutup hati Nurani seorang Genta. “Emang gue jual mahal dih.” Desis Zeta yang sejak tadi menahan emosi ditambah sikap Genta yang juga memancing emosinya. TBC 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN