Hari ini, langit tak dihiasi awan hitam. Sang mentari bersinar begitu cerah tanpa halangan. Tapi tidak dengan hati Zeta. Gadis bernama lengkap Arzeta Maharani sedang menangis sesunggukan dibalik pintu kamarnya. Beruntung kamarnya yang kedap suara mampu meredam suara tangisannya yang menggema di sudut ruangan untuk tak terdengar dari luar. Ia menatap nanar obat yang sejak tadi dalam genggaman tangan kanannya, penuh dengan kekesalan bukan main. Perasaan kecewa, marah, sedih bercampur jadi satu membuat Zeta tidak tahu harus berbuat apa ia sekarang. Bak sebuah bola yang dilempar jauh menembus beberapa tingkatan langit, kemudian jatuh di jurang paling dalam tanpa adanya sebuah cahaya. Rupanya maksud Genta mengajaknya keluar dan jalan-jalan kemarin. Untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya

