Tidak ada muka untuk tetap berada dalam lingkungan mereka. Zeta tengah duduk di meja kerjanya. Datang lebih awal menghindari kemacetan tentunya diantar oleh Ira sahabat karibnya. Genta sudah datang, mereka saling diam seperti biasanya. Sedangkan Zeta pura-pura tidak mengetahui kedatangan lelaki yang baru saja melintas itu. Dicky saling melirik interaksi Genta dan Zeta yang sengaja ia pantau, mereka tampak sengaja saling menjauh. Dicky menatap wajah Zeta yang tampak lemah dan matanya sembab usai menangis. Dicky sangat paham dengan perasaan seorang perempuan, meskipun dia dikenal sebagai lelaki buaya, pasangannya ada dimana-mana. “Zeta! Temenin gue ke atap dong!” Celetuk Dicky membuat Zeta menatapnya heran. Tentu saja sejak kapan Dicky menjadi bergantung pada Zeta, tapi perempuan itu t

