Agung sibuk melihat berkas-berkas laporan perusahannya.
"Sejauh ini, sudah ada peningkatan di beberapa cabang perusahaan kita Pak" ujar karyawannya saat Agung membaca selembar laporan.
Agung mengangguk setuju.
"Iya, untungnya banyak banget kemajuannya. Respon dan juga kepercayaan konsumen kembali lagi ke kita. Harus benar-benar di jaga. Hal-hal seperti ini, gak akan datang dua kali" ujar Agung serius.
"Yasudah, kamu bisa kembali bekerja. Oh ya, ngomong-ngomong kapan Dito kembali dari Bali?" tanya Agung pada karyawannya yang tengah membereskan map.
"Tasi Pak Dito kirim kabar sudah boarding, mungkin sekarang sudah take off atau mungkin udah mendarat Pak" jawab karyawan tersebut ramah.
Agung hanya mengangguk mendengar jawbaan itu.
Maira masuk ke dalam ruangan sambil membawa plastik berisi menu makan siang.
"Kamu kok repot-repot ke ruangan Papa?" Agung buru-buru menghampiri Maira.
"Udah, gak apa-apa kok Pa. Sekali-sekali aku nyamperin Papa, masa iya Papa yang nyamperin aku melulu" ujar Maira sambil tersenyum.
"Kamu gak mau urus cuti?" tanya Agung sambil membuka bungkusan dari dalam plastik.
"Gak, nanti aja Pa, oh iya tadi udah liat laporan perkembangan perusahaan belum Pa? Perkembangannya Lumayan banget!" ujar Maira riang.
"Iya, tadi Papa udah liat. Memuaskan banget walaupun mungkin presentasenya masih kecil. Gak apa-apa kita harus optimis supaya bisa lebih lagi" ujar Agung dengan penuh optimis.
Agung menatap putrinya yang nampak senang hari ini.
"Kamu seneng banget? Ada apa?" tanya Agung.
Maira menoleh ke arah Agung dengan senyuman.
"Gak ada apa-apa kok, emang gak boleh?" tanya Maira balik.
Agung hanya mengangguk sambil tersenyum saja.
"Kamu melahirkan berapa lama lagi?" tanya Agung.
"Kurang lebih dua bulan lagi Pa" jawab Maira sambil asyik menyantap makan siangnya.
Terkadang, Agung masih tidak percaya, putrinya ini sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menjadi ibu. Rasanya baru kemarin Agung dengan sangat bahagia mengantar Maira ke sekolah untuk pertama kali.
"Di sana, kamu baik-baik aja kan?" tanya Agung.
Maira mengangguk mantap.
****
"Jadinya lu mau pake yang mana?" tanya Dimas pada Maira yang melihat-lihat katalog berisi berbagai model CCTV.
"Yang kecil, dan tersamar. Jadi gaada yang tau itu CCTV" ujar Maira. "Bisa connect ke hape gue langsung. Jadi kemana pun gue pergi, bisa gue pantau isi kamar" ujar Maira sambil membayangkan Hilda yang seenaknya masuk ke kamar bayi miliknya.
"Hape lu aja, hape suami lu gak?" tanya Dimas memastikan.
"Gak. Hape gue aja" jawab Maira mantap.
Setelah penolakan Nico kemarin, Maira semakin yakin untuk tidak lagi mengharapkan sekecil apapun perhatian Nico padanya.
"Okay, kapan mau gue pasang?" tanya Dimas.
"Secepatnya" sahut Maira cepat.
"Kan lu belom melahirkan" ujar Dimas lagi.
"Ya emang masangnya kudu nunggu gue melahirkan gitu?" sahut Mara tidak kalah cepat.
"Iya-iya, minggu depan gue pasangin deh. Nanti gue kasih tau kalo orangnya udah ada ya" ujar Dimas.
"Mbak gak ada kunci kamar bayinya si Maira apa?" tanya Hilda pada pembantu rumah tangga.
"Gak ada Non, bukan saya yang megang. Itu Non Maira yang pegang" ujar pembantu tersebut.
"Terus kalo Mbak mau bersihin gimana?" tanya Hilda lagi.
"Ya saya bersihin pas ada Non Maira" jawab pembantu tersebut.
Hilda hanya bisa merengut karena tidak bisa melihat peralatan apa saja yang sudah Maira belikan.
"Lagian buat apa sih Non? Itu juga kamar orang, kepo banget" ujar pembantu rumah tangga yang protes dengan permintaan Hilda.
"Mbak kepo aja sih!" sahut Hilda.
"Ada juga lu yang kepo! Punya otak gak sih?" sahut Arya dengan amat sangat sewot pada Hilda.
Reaksi Arya membuat Hilda kaget.
"Ngapain lu ngepoin kamar ponakan gue? Mau naro apaan lu? Mau nyantet ya?" tuduh Arya tidak tanggung-tanggung.
"Enak aja! Enggak kok!" Hilda mengelak.
"Mama ada Mbak?" tanya Arya.
"Gak ada Tuan, Nyonya pergi tadi, mungkin baru pulang menjelang sore" jawba pembantu tersebut.
"Yaudah Mbak, bikinin mie goreng dong. Saya mau beresin baju saya di atas" ujar Arya.
Arya pun melewati Hilda begitu saja, ia bergegas menuju kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya yang masih tersisa.
"Ngapain coba dia balik lagi? Udah bagus tinggal di apartmennya" Hilda misuh-misuh.
"Ngomong apaan lu barusan?" Arya memutar tubuhnya saat mendengar ucapan Hilda itu.
"Ini masi rumah gue, mau gue balik ke sini kek, ngapain kek, itu urusan gue. Gue berhak! Gak kayak lu, numpang tinggal di rumah orang! p*****r kayak lu gak pantes tinggal di sini!" maki Arya yang kesal setengah mati.
"Gue gak peduli ya lu sakit hati kek, merasa terhina kek. Bodo amat! Lu sendiri udah buat diri sendiri hina, udah bikin kakak ipar gue sakit hati lagi!" ujar Arya yang langsung pergi.
Hilda hanya terdiam mendengar makian dari Arya sambil kembali merengut dan berjalan menuju kamarnya.
Agung menyempatkan diri untuk membenahi lemari berisi barang-barang peninggalan istrinya itu.
Sudah lima tahun sejak kepergian Agni, ia belum sempat membereskan lemari tersebut.
Beberapa barang masih bagus, jika Maira menyukainya Agung memilih untuk memberikannya kepad aputrinya agar selalu merasa 'dekat' dengan Agni.
Sebuah jam tangan berwarna hitam milik Agni membuat Agung teringat akan kenangan di masa lalu. Saat-saat dimana ia berusaha untuk meluluhkan hati Agni.
"Ni, aku tadi liat jam tangan ini. Sepertinya cocok sama kamu. Ini" Agung menyerahkan sebuah bungkusan kepada Agni saat baru sampai di rumah.
Agni menerimanya dengan wajah datar. "Terima kasih" jawabnya, lalu berlalu begitu saja menuju kamar tanpa mau menemani suaminya untuk makan malam.
Di dalam kamar, Agni langsung membuka isi dari bungkusan tersebut.
Betapa terkejutnya ia saat melihat sebua jam tangan berwarna hitam tersebut dengan sangat indahnya memukau matanya.
"Beli dimana ya dia? Bagus banget ini" Agni terkagum sendiri.
"Ahh kalo gitu nanti aku simpeh deh! Lumayan kalo jalan-jalan bisa di pake" Agni dengan senang hati menyimpan jam tangan tersebut dengan hati-hati dan juga merawatnya dengan sepenuh hati.
Agung tersenyum mengenang Agni yang selalu memakai jam tangan tersebut bahkan saat ia harus bolak-balik berobat.
"Kayaknya Maira cocok deh kalo di kasih ini, dia pasti seneng" Agung pun memasukkan jam tangan tersebut ke dalam kotaknya dan menaruhnya di atas nakas.
Saat sibuk beberes, tanpa sengaja beberpaa buku milik Agni terjatuh.
Agung memungutnya dan menumpuknya di sisi lain. Ia akan mengelap buku-buku tersebut setelah ia mengeluarkan seluruh isi lemari.
Salah satu buku yang Agung bersihkan ternyata merupaka buku harian Agni ketika muda dulu.
Awalnya ia ingin meletakkannya kembali, namun ia sedikit penasaran dengan isi buku harian tersebut.
"Pa! Ini makanannya udah dateng!" pekik Dito dari luar kamar.
Agung pun mengurungkan niatnya dan menaruh buku harian tersebut di dalam meja nakasnya, saat ia sudah selesai makan mungkin ia akan membaca buku tersebut.
****
"Lagi masang apaan Pak?" tanya Nico pada seorang tukang yang tengah bekerja di dalam kamar bayi.
"Masang CCTV Pak" jawab tukang tersebut.
Nico pun berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu jadi masang CCTV?" tanya Nico pad aMair ayang sibuk melipat pakaian bayi.
Maira menjawab dengan anggukan.
Nico pun ikut menimbrung melihat Maira yang sibuk melipat baju-baju bayi.
"Udah semua?" tanya Nico.
Maira lagi-lagi hanya menjawab dengan anggukan.
Saat melihat diaper bag, Nico baru teringat Hilda belum mendapatkan benda itu dari kemarin.
"Eh kamu beli diaper bag dimana?" tanya Nico antusias.
"Online. Kenapa? Hilda belom punya?" tanya Maira.
Nico diam-diam kaget karena istrinya ini bisa menebak isi pikirannya.
Jangan-jangan Maira cenayang nih batin Nico.
"Iya, dia belum dapet diaper bag dari kemaren belanja. Boleh liat gak?" tanya Nico.
"Boleh, tapi jangan di berantakin udah aku isi soalnya" ujar Maira sambil tetap menyibukkan diri.
Nico pun mengambil tersebut dan melihat fitur-fitur dari produk tersebut sambil bertanya pada Maira.
"Harganya berapa?" tanya Nico.
"Tiga ratus ribu, belum termasuk ongkos kirim sama cukai" jawab Maira.
"Cukai? Kamu beli dai luar?" tanya Nico lagi.
Maira mengangguk.
"Kirimin nama online shop nya ya, link kirim ke WA aku aja" tutur Nico.