DUA PULUH TIGA

1198 Kata
"Akhirnya!!" Hilda memekik bahagia saat diaper bag miliknya akhirnya sampai juga. "Bagus banget!! Bisa custom bikin nama juga lagi!" Hilda tidak henti-hentinya membanggakan benda tersebut.  "Harus aku isi secepatnya" ujar Hilda yang beralih ke sebuah lemari di sudut kamar. Nico hanya tersenyum melihat Hilda yang sangat gembira karena akhirnya produk penting itu akhirnya tiba juga di hari-hari menjelang kelahiran bayinya. "Aku balik ke kamar dulu ya" ujar Nico yang tidak di gubris oleh Hilda yang terlalu asyik dengan tas tersebut. Nico pun kembali ke kamarnya dan mendapati Maira yang asyik dengan ponselnya sambil bersandar di headboard tempat tidur.  "Makasih ya diaper bagnya" ujar Nico pada Maira. "Hmmm" sahut Maira tanpa menoleh ke arah Nico. "Sibuk amat" ujar Nico lagi. Meskipun tidak, namun tidak enak juga rasanya saling diam seperti ini. "Sibuk sama grup SMA" ujar Maira. Nico hanya mengangguk.  "Masak gak?" tanya Nico lagi. "Mbak yang masak, aku udah gak kuat bediri lama-lama" ujar Maira. Nico hanya mengangguk. "Ahh hampir lupa!" Nico menepuk keningnya. "Lupa apaan?" tanya Maira lagi. "Mau nganterin Hilda ke studio foto ngambil hasil foto kemaren" Nico bergegas pergi meninggalkan Miara tanpa berpamitan dulu. Maira hanya bisa menghela napas melihat tingkah suaminya itu. "Lu jagain Papa yang bener ya" ujar Maira pada Dito di telpon.  "Iya-iya, bawel lu" ujar Dito di sebrang sana. "Lu juga hati-hati, udah tau punya lakik gak beres begitu, lu mau gak mau kudu bisa sendiri"" ujar Dito.  "Iya-iya tenang aja lu" ujar Maira lagi. "Mana sini, gue mau ngomong sama Papa" ujar Maira pada Dito. Dito pun mengoper ponselnya ke Agung. "Halo Maira, gimana kabar kamu Nak?" tanya Agung dengan penuh kasih sayang. "Baik Pa. Papa sendiri gimana?" tanya Maira balik. "Papa baik-naik aja kok, Dito jagain Papa denganbaik, kamu tenang aja" ujar Agung sambil terkekeh melirik putranya yang cemberut karena terus di teror kakaknya ini. "Oh iya, kemaren Papa sempet beres-beres lemari Mama. Ada jam tangan punya Mama dulu, inget gak yang warna hitam? Kalo kamu mau, Papa mau kasih ke kamu" ujar Agung.  "Oh boleh Pa" ujar Maira sambil sedikit meringis karena perutnya mulai sakit. Jangan bilang mau lahir sekarang deh, Papa kamu belom pulang Nak batin Maira sambil mengelus perutnya itu. "Yaudah Pa, udah dulu ya. Aku mau siapin buat makan siang dulu" pamit Maira.  Setelah menutup pembicaraannya, Maira pun segera menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang. Nitya sibuk membenahi piring-piring di meja makan.  "Sini Ma, biar aku bantuin" ujar Maira mencoba untuk membantu menata piring di meja makan. "Ehh udah, kamu duduk aja" Nitya langsung mengambil alih piring-piring tersebut dari jangkauan Maira. "Nico belum pulang ya?" tanya Nitya mencoba memastikan mobil Nico sudah terparkir di dalam garasi. "Belum Ma, mungkin mereka makan siang di luar" ujar Maira lagi-lagi sambil sedikit meringis. Sebisa mungkin Maira menahan perutnya yang mulai sakit itu itu di hadapan ibu mertua. "Itu anak, istrinya udah hamil sembilan bulan begini malah pergi-pergi gak jelas" omel Nitya. Setelah siap semua, Nitya memanggil suaminya untuk makan siang bersama. "Si Nico kemana Ma?" tanya Sutedja saat tidak mendapati putranya itu di ruang makan.  "Lagi keluar dulu, mungkin makan siang di luar" ujar Nitya samabil menyendokkan nasi di piring suaminya itu. "Mau nambah lagi gak Pa nasinya?" tanya Nitya. Sutedja menggeleng dan mulai menyendokkan lauk ke piringnya. Maira hanya mengambil lauk-lauk yng dapat ia jangkau saja, guna mengurangi gerakannya dan juga sakit di perutnya itu. "Ra, kok gak ambil ikannya?" tanya Nitya melihat isi piring menantunya hanya sayuran saja.  "Sayur emang bagus, tpi kamu juga butuh daging, buth ikan juga. Nih" Nitya menaruh sepotong ikan di piring Maira. "Makasih Maa" ujar Maira. "Makan yang banyak, melahirkan butuh tenaga" ujar Nitya lagi. Setelah selesai makan, Maira memilih untuk langsung ke kamarnya. "Duh kamu pengen keluar sekarang ya?" tanya Maira pada perutnya itu.  "Nanti yah, tunggu Papa ya. Bentar aja kok, abis Papa pulang sama mak lampir itu kita ke rumah sakit. Okay?" Maira mencoba untuk meyakinkan janinnya. "Tas mana tas" Maira langsung mempersiapkan tas untuk segera berangkat ke rumah sakit. Nico masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya. Saat ia masuk ke kamar, Maira menghela naps lega karena suaminya akhirnya datang juga. Oke, ini belom sakit-sakit amat. Ntar aja minta ke dokternya batin Maira. Nico ikut bersender di tempat tidur bersama Maira. Selama menikah, hanya satu hal yang mmebuat mereka kompak. Film.  Semakin larut dalam film yang mereka tonton, semakin terasa pula rasa sakit yang dirasakan oleh Maira. Ntar dong Nka sabar dikit lagiiii batin Maira sambil mengelus-elus perutnya. Namun rasa sakitnya ternyata sudah tidak bisa di toleransi lagi, memang sudah saatnya ia bernagkat e rumah sakit. "Nico.." ujar Maira lirih. Nico hanya menjawabnya dengan gumaman. Melihat Miara yang tidak juga merespon jawabannya, Nico menoleh ke arah istrinya. "Kenapa kamu?" tanya Nico dengan kening berkerut. "Ke rumah sakit ya?"                                                                                              **** Dengan gembira Nitya menjemput Nico dan Maira yang akhirnya pulang dari rumah sakit.  "Akhirnya dateng juga!" pekik Nitya bahagia saat melihat cucuna itu akhirnya sudah pulang ke rumah, lalu mengambil alih bayi mungil itu. "Mbak! Itu baju kotornya ambilin" t eriak Nitya ke arah dapur. "Mama udah nyuruh Mbak buat bersihin kamar sama nyalain AC. PAsti di atsa udah ade. Yuk!" Nitya menaiki tangga rumahnya dengan hati-hati.  Maira hanya tersenyum mendengarnya. "Aku ke kamar ya, ngantuk banget" ujara Nico yang langsung berbelok ke kamarnya. Maira hanya mengangguk.  "Nahh ini kamarnya Arfa" ujar Nitya sambil mencium pipi cucunya itu. "Eh Mbak? Udah pulang?" Arya datang dari belakang kamar.  Maira kaget melihat adik iparnya itu sudah berada di ambang pintu. "Lohh kapan kamu dateng?" tanya Maira. "Baru tadi pagi" ujar Arya tersenyum sambil menutup pintu. Nitya menaruh bayi mungil itu di dalam boks bayi dan menutup kelambu di yang menggantung i atas boks bayi tersebut. "Udah Maira, kamu istirahat aja. Pasti kamu masih capek kan? Jangan stress ya ASI kamu ntar seret" ujar Nitya. "Urusan makan kamu gausah mikirin, pokoknya Mama udah nyuruh Mbak khusus buat masak makan buat kamu aja. Jadi kamu bisa fokus ngurusin Arfa" ujar Nitya dengan tegas. "Kamu gausah cuci ini itu, udah urusin Arfa aja ya" imbuh Nitya lagi. Maira hanya mengangguk dengan senyuman. Bersyukur bukan main karena ibu mertuanya itu sangatamat menyayanginya. "Kamu istrahat dulu sana, kamarnya udah adm gini. ENak banget kalo buat istirahat. Udha yuk Arya, kita keluar dulu biar Maira istirahat" Nitya sudah bersiap untuk keluar dari kamar tersebut. "Baru mau liat ponakan Ma" ujar Arya cemberut seraya berdiri dari keluar kamar. "Iya nanti aja sorean dikit, abis mandi kamu ajak ngobrol sana. Biar kenal ama Omnya" ujar Nitya sambil menutup pintu. Setelah Nitya dan Arya keluar dari kamar, Maira bisa istirahat. Ia merebahkan tubuhnya dengan hati-hati di tempat tidur. Ternyata mengerjakan skripsi semalam suntuk kalah dengan lelahnya melahirkan seorang manusia kecil. Ponselnya yang bergetar membuat Maira beranjak untuk mengambil tasnya. Dito Udah sampe rumah belom? Papa mau neflon nih Maira pun langsung menelfon adiknya. Setelah menunggu beberapa saat, Dito pun mengangkat panggilan kakaknya. "Haloo" ujar Dito membuka percakapan. "Mana sini Papa katanya mau ngomong" ujar Maira. "Halo Maira? Kamu sudah pulang Nak?" tanya Agung dengan nad akhawatir. "Sudah Pa, ini udah di kamar" jawab Maira dengan sedikit meringis karena jahitan bekas sayatan di bawah sana masih menyissakan nyeri. "Sukurlah kalo gitu. Kamu istirahat yang cukup ya. Kalo butuh bantuan apa-apa, bilang sama Papa ya" ujar Agung khawatir. "Iya Pa. Di sini aku d bantu banget sama Mamanya Nico, ada mbak juga yang bantu ngurusin" jawab Maira. Agung tersenyum di sebrang sana. "Yasudah, kamu istirahat ya. Sering-sering kirim fotonya Arfa ke Papa ya" pesan Agung pada MAira. "Iya Pa, pastinya" jawab Maira sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN