DUA PULUH EMPAT

1145 Kata
"Ra kenapa berisik banget sih?!" Nico mengeluh karena Arfa tidak kunjung berhenti menangis. Maira yang baru selesai mandi langsung menghampiri Arfa yang menangis di tempat tidur. "Iya-iya sebentar ya. Mama baru selesai mandi" Maira buru-buru menggendong bayi mungil itu. "Kan udah ada kamarnya, sana taro aja di kamarnya kenapa sih? Heran banget aku" ujar Nico kesal.  "Ya aku kan lebih banyak di sini, maknaya aku taro dia di sini. Lagian aku cuman nitipin bentar ke kamu juga, di tinggal mandi bentar" ujar Maira. Suara ketukan pintu membuyarkan keduanya. Nico membuka pintu dan mendapati pembantu rumah tangganya.  "Mas Nico, di panggil Non Hilda" ujar pembantu tersebut. Nico pun langsung keluar kamar dan menghampiri Hilda di kamar sebelah. "Manja bener jadi cewek, tinggal jalan, ngetok pintu kemari apa susahnya coba" sungut Maira. "Kamu kalo udah gede nanti gak boleh manja ya. Harus mandiri, gak boleh numpang hidup sama orang lain" Maira mengelus-elus lembut kepala bayinya. Baru di tinggal beberapa saat, Nico kembali lagi ke kamar dengan terburu-buru. Tanp membuang waktu, Nico segera mengganti pakaiannya. "Mau kemana?" tanya Maira bingung sambil menyusui Arfa yang mulai terlelap itu. "Hilda mau lahiran" Nico keluar kamar sambil menutup pintu dengan beigut kencang, hingga membangunkan Arfa. Maira hanya bisa menghela napas dan berusaha menenangkan Arfa untuk tidur kembali. "Iya sayang, maaf ya Papa nutup pintunya kenceng banget" Maira menimang-nimag Arfa yang menangis tidak ada hentinya. Nitya masuk ke dalam kamarnya karena mendengar tangisan Arfa dari luar. "Arfa kenapa?" tanya Nitya khawatir. "Ahh kebangun dia Ma. Tadi Nico nutup pintu kenceng banget, kaget dia jadinya" Maira mengelus-elus punggung Arfa. Di cerain Maira tau rasa kamu Nico batin Nitya. Nitya merasa bersalah untuk yang kesekian kalinya karena sedari awal tidak memisahkan Hilda dan Nico. Menantunya yang tidak tahu apa-apa ini harus menanggung pahitnya di abaikan oleh suaminya sendiri. "Arfa nyusunya gimana?" tanya Nitya duduk di tepi tempat tidur. "Lancar kok Ma" jawab Maira. "Ma pindah ke kamarnya Arfa aja ya"  Maira meletakkan Arfa di dalam boks bayi itu.  "Hilda mau lahirn ya Ma?" tanya Maira pada Nitya. "Iya. Permepuan udah kayak kucing aja, hamil ama siapa, melahirkan ama siapa" ujar Nitya kesal. Maira hanya mengangguk-angguk. "Semoga aja anaknya gak bikin repot kita, awas aja bikin repot" keluh Nitya lagi. Maira membuka laptopnya dan melanjutkan beberapa pekerjaan. "Kamu kerja?" tanya Nitya. "Iya Ma, sebagian pekerjaan yang masih bisa aku handle ya aku kerjain. Sisanya yang berat-berat gak aku pegang, bisa stress nanti" jawab Maira. "Butuh suster gak kamu?" tanya Nitya pada menantunya sambil melipat pakaian cucunya itu. "Butuh juga Ma. Apalagi nanti kalo aku kerja, pasti butuh banget kan buat jagain di rumah" jawab Maira. "Lagi bingung juga Ma, ini cari dimana. Udah minta bantuan Dito dan Papa, kali aja ada sodara punya kenalan penyalur suster gitu" imbuh Maira lagi. Nitya hanya mengangguk-angguk. "Selama ini Nico pernah bantuin?" tanya Nitya hati-hati. "Cuman bantu gendong, itu pun sebentar" jawba Maira secukupnya. Ia sudah cukup bersabar dengan sikap Nico yang jijik dan tidak mau mengurus anaknya sendiri. "Nanti Mama coba tanya sama teman Mama ya. Kebetulan anaknya juga baru melahirkan, dan sudah pakai suster. Nanti Mama coba hubungi" ujar Nitya menepuk-nepuk Maira. Maira hanya mengangguk sambil tersenyum.                                                                                          **** "Ma bantuin dong" pinta Nico  pada Nitya yang tengah asik duduk menonton televisi. "Bantuin apaan?" sahut Nitya. "Itu bantu ngajarin Hilda ganti popok gimana" ujar Nico. "Minta si mbak ajarin aja" sahut Nitya enteng. "Yah kok kenapa musti mbak sih?" keluh Nico "Yah kok kenapa musti Mama sih?" Nitya membalikkan kata-kata Nico. "Cucu Mama juga bukan. Anak kamu juga bukan, kenap amusti pusing? Itu anak dia, bukan anak kamu. Anak kamu tuh nama Arfandra, bukan Bianca. Ngerti?" ujar Nitya. Nico yang putus asa akhirnya memilih untuk kembali ke kamar Hilda. "Gimana? Mama kamu mau bantuin?" tanya Hilda kebingungan, karena bayinya tidak berheni menangis. "Haduh ini bayi nangis melulu! Mama punya dek!" omel Hilda pada putri kecilnya itu. Nico menggeleng. "Mama kamu kenapa sih? Aku minta bantuan loh, sesama perempuan, sesama ibu juga" keluh Hilda. "Coba minta tolong sama Maira" Hilda menemukan ide 'brilian' itu. Nico berpikir keras apakah istrinya itu mau membantu Hilda yang kesusahan itu. "Coba sana gih, aku udah gak tahan ini anak dari tadi nangis melulu" Hilda menyuruh Nico untuk secepatnya pergi dan menemui Maira. Nico masuk ke dalam kamar Arfa dan mendapati Maira baru selesai mengganti popok Arfa. "Nah, udah bersih sekarang. Udha wangi lagi" Maira 'membungkus' putranya itu dengan kain bermotif animasi ikan, lalu menggendongnya. Nico terdiam sesaat melihat pemandangan di depannya. Jika di ingat-ingat, Maira tidak 'mengomel' pada Arfa sekeras apapun bayi itu menangis. "Ra" panggil Nico di ambang pintu. Maira menoleh ke sumber suara, mendapati Nico berdiri di ambang pintu. "Apaan?" tanya Maira. "Bantuin dong, itu gantiin popok bayi gimana" pinta Nico. "Si Hilda?" tanya Maira sambil berjalan ke arah Nico. Suaminya mengangguk. "Nih gendong dulu" Maira menyerahkan Arfa ke Nico. Nico pun buru-buru menggendong bayi kecil itu. Maira memasuki kamar Hilda di sambut dengan tangisan kencang bayi kecil Hilda. Hilda yang masih kukuh dengan gengsinya itu bertindak seolah tidak membutuhkan bantuan Maira. "Mana sini" Maira bertanya pada Hilda. Hilda menunjuknya dengan dagu. Udah dia yang butuh, masih aja gengsi. Liatin aja abis ini gak bakaln gue bantun=in lagi batin Maira. Dengan cekatan Maira mengganti popok bayi perempuan itu dengan sabar. Ruam popok yang merah membuat Maira terbelakak sendiri. Pasti udah lama nih belom di ganti popoknya batin Maira. "Kemaren di rumah sakit gak di ajarin?"tanya Maira sambil sibuk memasangkan popok. "Di ajarin kok" jawab Hilda. "Terus kenapa gak bisa?" sahut Maira. Hilda hanya terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Maira. "Udah liat kan tadi caranya?" tanya Maira setelah selesai menggantikan popok Bianca. "Udah, makasih ya Mama Arfa" ujar Hilda dengna gengsi selangit. Nico asyik sendiri menggendong Arfa. Ini kali pertama ia menggendong putra sendiri lebih lama.  Berasa ngeliat Nico versi mini batin Nico saat menggendong Arfa. Matanya Hidungnya Bibirnya Alisnya Semuanya gue banget. Gak ada Maira sedikit pun  Nico semakin menjadi memuji anaknya sendiri dalam batin. "Udah sini, balikin Nico" Maira dengan nada dingin meminta Nico untuk mengembalikan Arfa ke gendongannya. Nico pun memberikan Arfa kembali kepada Maira. Istrinya itu langsung keluar dari kamar Hilda tanpa sepatah kata pun.                                                                                         **** Hari ini, Maira sudah harus kembali bekerja karena cuti melahirkannya sudah habis. "Sus, jangan lupa ya yang saya sudah bilang. Kalo misalkan di ajak pergi sama Mama, gapapa pergi aja. Tapi bilang sama saya ya, WA suster sudah aktif kan?" tanya Maira. "Iya bu sudah" jawab suster tersebut. Dengan bantuan Dito, Maira berhasil menemukan suster untuk Arfa. "Kamar ini ada CCTV, mbak gak usah ngomong-ngomong sama yang lain. Sengaj asupaya apapun yang terjadi bisa kerekam. Kalo butuh apa-apa bilang sama saya ya Sus" ujar Maira sambil mengangkat tas kerjanya. "Udah ya sayang, Mama berangkat dulu. Jangan bandel sama suster ya" Maira mengecup kening Arfa di gendongan suster. Maira pun keluar dari kamar dan segera menuju ruang makan untuk sarapan. "Gimana Arfa? Anteng gak sama susternya?" tanya Nitya saat Maira baru sampai di ruang makan. "Anteng kok Ma" ujar Maira sambil tersenyum
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN