Nico memilih untuk menghabiskan malam terakhirnya sebagai seorang ‘lajang’ di sebuah bar. Sendirian. Tanpa seorang teman yang menemaninya.
Ia masih tidak bisa percaya besok ia harus menikahi wanita yang tidak ia kenal. Wanita yang urusannya dengan ayahnya, namun harus ia yang ‘menanggung’ ini semua. “Maira…” Nico mengucap nama calon istrinya itu.
“Siapa tuh cewek?” Nico bertanya pada dirinya sendiri. Sejauh ini, Nico tidak pernah mendengar nama Maira dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan dari ayahnya yang katanya teman dekat dari ayahnya Maira sendiri, tak pernah ia mendengar nama itu.
“Besok gue jadi suami orang, terus nasib gue sama Hilda gimana?” lagi-lagi Nico bertanya pada dirinya sendiri, tentang hubungannya dengan Hilda kedepan.
Keputusan orang tuanya sepertinya sudah tidak dapat di ganggu gugat. Keduanya benar-benar tidak memberikan restu untuknya dan Hilda. Bisa di pastikan, hubungannya dan Hilda tidak ada harapan lagi ke depannya.
Seketika Nico memutar kembali ingatannya.
Mencoba mengingat beberapa mantan pacarnya yang pernah ia kencani selama ini.
“Dita, Karin, hmm siapa lagi ya” Nico menjentikkan jemarinya, menghitung berapa banyak mantan pacarnya.
“Kalo di inget-inget gue lamaan jomblo ketimbang pacaran. Sama Hilda doang lama, hampir tiga tahun” ujarnya.
“Udah rada ngaco nih” Nico menenggak gelas terakhirnya.
***
“Udah aku mau ke kamar duluan, kamu kalo masih mau nongkrong sama teman-temanmu silahkan banget” ujar Maira tanpa melihat wajah suaminya. Ia sudah benar-benar lelah dengan hari ini, hari pernikahannya.
Nico hanya berdeham tanda setuju. Setelahnya Maira bergegas ke kamar mereka di hotel tempat mereka menikah. “Hey! Lo gak mau susulin istri lo
?” tanya Jim, salah seorang teman Nico sekaligus best man pada pernikahan Nico dan Maira.
“Kagak, biarin aja. Gue gak bakal ngapa-ngapain juga” ujar Nico yang sudah paham betul dengan isi otak Jim. Temannya itu tertawa terbahak-bahak.
“Hey! What’s wrong with you? Seharusnya lo sneeng hari ini menikah, lo gak perlu repot-repot cari cewek yang mau sama lo, orang tua lo milihin buat lo malahan!” ujar Jim mencoba untuk menghibur Nico. “Milihin istri buat gue kayak gue gak bisa nyari sendiri gitu?” balas Nico sengit sambil menenggak wine miliknya.
“Gue gak tau musti ngomong apa sama Hilda” ujar Nico frustasi setelahnya.
Jim tersedak mendengar ucapan temannya itu.
“Demi Tuhan Nico! You’re still in a relationship with that b***h?!” Jim tidak habis pikir. Nico mengangguk lesu. “I still love her! Gila aja lo gue udah hampir tiga tahun pacaran! Gue tadinya mau nikahin dia, but my parents disagree” ujar Nico.
Jim menggelengkan kepalanya. “Heh! Bokap sama nyokap lo gak setuju ya jelas lah! Hilda aja asal usulnya gak jelas! Mau di taro dimana itu muka keluarga lo? Bener-bener lo ya, udah bucin banget sampe gak mikirin keluarga lo gimana!” Jim memukul bahu temannya itu.
“Bokap lo ngebangun perusahaan pake kerja keras, bangun citra keluarga lo pake keringet. Lo seenak-enaknya mau ngancurin dengan nikahin cewek gak jelas macem Hilda? Sinting lo emang!” ujar Jim.
“Gue kalo jadi bokap lo, udah gue jodohin lo dari awal” ujar Jim kesal sendiri. “Gue tau lo nikahnya gara-gara apaan. Tapi sekarang, udah gak seharusnya lo mikirin tuh cewek. Maira is way better than Hilda” ujar Jim.
“What makes her better than Hilda?” tanya Nico balik sambil menatap Jim dengan tatapan menantang. Mencoba untuk menemukan jawaban, seberapa jauh Maira lebih baik daripada Hilda.
“Look, Maira keluarganya jelas. Maira sendiri juga jelas anaknya. Lulusan kampus terbaik di Amerika, lulusan terbaik pula! Dan lo masih milih cewek gak jelas macem Hilda? Kerjaan gak jelas, keluarga gak jelas, dan lo masih ngebelain dia? Perlu gue ruqyah juga lo” ujar Jim kesal.
Nico semakin tidak bisa berpikir jernih, kekesalannya sudah menumpuk. Ia benci ini.
***
Maira sudah siap untuk tidur. Ia sudah membersihkan dirinya dan bergegas mengganti pakaian tidurnya dengan piyama kesayangannya.
Suara ketukan pintu cukup keras membuatnya tersentak. “Nico nih pasti. Gak bisa santia banget sih!” Miara segera berdiri dna menuju pintu kamar.
Benar saja, ia mencapati Nico yang sudah berdiri di depan pintu. “Lama amat sih buka pintu doang!” Ujar Nico kesal sambil masuk ke dalam kamar dan menutup pintu cukup keras.
“Aku mau mandi” ujar Nico sambil melepas jasnya. “Koper kamu mana? Sini aku siapin” ujar Maira. “Tuh” Nico menunjuk kopernya dengan dagu setelah itu berjalan menuju kamar mandi. Maira menyiapkan pakaian ganti suaminya, ia masuk ke kamar mandi dan menaruh pakaian bersih Nico di pinggir wastafel.
Maira keluar dari kamar mandi dan bersandar di headboard tempat tidur sambil bermain ponselnya.
Saat sedang asyik bermain ponsel, Nico keluar dari kamar mandi dengan pakaian ganti yang tadi Maira siapkan untuknya. Nico bersikap acuh pada istrinya itu, ia menaruh baju kotornya ke dalam kopernya.
“Kenapa kamu nerima tawaran Papaku buat nikah sama aku?” tanya Nico dingin.
Maira langsung menolehkan wajahnya ke arah suaminya. Ia menaruh ponselnya dan berdiri menghadap ke arah Nico. “Aku gak terima kalo perusahaan keluargaku harus merge sama perusahaan keluargamu” ujar Miara tak kalah dingin.
“Kamu mandang remeh perusahaanku hah? Lupa siapa yang ngebantuin perusahaan kamu selama ini?” tanya Nico meradang. “Siapa yang bilang ngeremehin hah? Kamu belom dengerin jawaban lengkap aku, dan main simpulin begitu?” tanya Maira sengit.
“Perusahaan keluarga aku di bangun susah payah terus harus di kasih ke orang lain? Masih mending pindah tangan ke saudara lain. Ini ke orang lain yang gak ada hubungan keluarga? Mana bisa” ujar Maira sengit.
“Aku ngelakuin ini demi perusahaan, Bukan karena aku punya perasaan sama kamu. Gila aja, kita ketemu baru tiga bulan lalu, terus udah cinta mati sampe mutusin buat nikah gitu?” balas Maira sengit.
“Seharusnya kamu terima kasih sama Papaku karena udah mau nolongin perusahaan kamu yang sekarat! Kamu gak mikir opsi lain apa? Aku sampe harus di korbanin begini, nikah sama kamu! Perempuan gak jelas!” ujar Nico sambil menunjuk Maira.
Maira jelas saja meradang mendengar ucapan Nico.
“Aku gak habis pikir kenapa bisa aku di jodohin sama wanita kayak kamu! Gak jelas banget! Semustinya kalo emang orang tua kita saling kenal, aku pasti pernah denger nama kamu dari Papaku. Tapi ini enggak! Kamu itu anak kandung atau anak pungut sih?” Nico benar-benar sudah tidak mengontrol lisannya.
“Dari sekian banyak wanita, why the f**k should I ended up with you?!” ucap Nico kasar sambil setengah berteriak.
Maira masih terdiam mematung di posisinya. Ia baru tahu Nico sekasar ini mulutnya.
“Urusan kamu itu sama Papaku, bukan sama aku. Tapi aku pun juga jadi keseret gara-gara ini. Heran!” Nico frustasi sendiri.
“Kamu pikir aku mau perusahaanku keadaannya begini?” tanya Maira dengan suara sengit. “Makanya punya perusahaan itu di maintain baik-baik! Atur human resource yang bener, kebersihan dapur restoran yang bener! Sekarang masalah di perusahaan kamu, aku sampe harus ke seret begini! Masalah bisnis malah jadi masalah pribadi! Kamu juga bego amat sih kayak gak bisa ksaih alternatif lain!” ucapan Nico kali ini benar-benar menyayat hatinya.
Maira memang tidak mengharapkan malam pertam ayang indah dna mesra dengan suaminya ini, namun setidaknya ia tidak harus mendengar ucapan kasar ini di malam pertama.
“Asal kamu tau aja ya” ujar Nico menggantung.
“Aku sebenernya udah punya pacar! Pacarku gak tau kalo hari ini aku menikah sama kamu. Aku udah punya rencana untuk menikah sama dia. Semua hancur gara-gara kamu! You’re a professional mocker” ujar Nico sambil menggeleng kepalanya.
Hal ini semakin membuat Maira terkejut. Nico sudah memiliki kekasih.
Dan ia, di tuduh menghancurkan rencana indah Nico.