TIGA BELAS

1200 Kata
Maira tidak dapat menahan kantuknya pagi ini. Sudah beberapa hari ini ia selalu mengantuk, padahal ia sellau tidur malam dengan cukup.  "Gue kenapa ngantukan mulu deh" Maira mengeluh sambil terus menguap. "Mau mesen kopi tapi males" Mair abersandar pada kuris kerjanya.  "Kamu kok ngantuk Ra keliatannya?" tanya Agung yang masuk ke dalam ruang kerjanya. "Eh Papa" Maira membenahi posisi duduknya. "Iya nih, gak tau juga Pa, padahal aku tidurnya selalu cukup kok, Papa tau kan aku gak suka begadang" ujar Maira sambil menguap lagi.  "Kamu kalo ngantuk ya tidur aja" ujar Agung. "Apa jangan-jangan diabetes aku naik ya?" Maira langsung melotot. Bergidik ngeri jika kadar gula darahnya tinggi. "Coba aja kamu cek darah, mungkin aja" ujar Agung. "Wah aku harus cari dokter bua periksa nih" Maira langsung mengambil ponselnya dan mencari dokter yang tepat untuk segera ia datangi.  "Besok kita ada rapat, jangan lupa ya" Agung mengingatkan putrinya. "Perusahaan kita mulai membaik sedikit demi sedikit. Kemarin Papa sudah terima laporan dari beberapa cabang" ujar Agung sambil tersenyum.  Maira menoleh pada Agung dan tersenyum kecil, dengan penuh optimis.                                                                                         *** Akhir pekan ini, Maira lebih memilih untuk di habiskan di rumah ketimbang pergi. Lagi-lagi rasa kantuk tidak dapat ia tahan di pagi hari. Padahal ia sudah berniat untuk membuat kue bersama ibu mertuanya, namun ras kantuknya kali ini sangat amat tidak bisa ia toleransi lagi.  "Ra, kamu kok nguap melulu dari tadi?" tanya Nitya memperhatikan Maira yang menguap tiada henti saat mengambil beberapa bahan untuk membuat kue. Maira langsung menoleh ke arah Nitya. "Kamu semalam begadang?" tanya Nitya sambil menghampiri Maira. "Enggak kok Ma, aku juga gak ngerti akhir-akhir ini aku ngantuk melulu, gak kenal waktu lagi kalo ngantuk" jawab Maira. "Kalo ngantuk, ya tidur" ujar Nitya. "Ya jangan dong Ma. Ka aku udah janji sama Mama mau bikin kue, masa kita udah belanja macem-macem gak jadi cuman gara-gara aku ngantuk begini" keluh Maira manja. Kehadiran Maira mampu menghibur Nitya. Ia merasa memiliki seorang anak perempuan. Karena ketiga anaknya laki-laki semua dan menantu pertamanya tak tinggal bersamanya, Nitya merasa sangat terhibur dengan keberadaan Maira di dekatnya. Di tambah lagi Maira selalu bersikap manis dan baik padanya. Kadang ia berpikir mengapa putranya begitu bodoh mengacuhkan wanita sebaik Maira, malah sibuk membanggakan wanita seperti Hilda. "Udah, kamu tidur aja. Gak apa-apa, nanti siang atau sore kita bisa buat" ujar Nitya. Maira merasa tidak enak hati pada mertuanya itu. "Maaf ya Ma" ujar Maira dengan penuh rasa bersalah. "Udah, gak apa-apa kok" jawab Nitya sambil tersenyum. Maira pun bergegas menuju kamarnya.  Sesampainya di kamar, ia memekik kaget karena Nico hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. "Kalo masuk tuh ketok pintu dulu kenapa sih?!" ujar Nico kesal. "Ya maaf" sahut Maira sambil masuk ke dalam kamar. "Siapin baju!" perintah Nico.  "Kamu mau pergi kemana?" tanya Maira. Jangan bilang mau pergi sama si Hilda  "Mau pergi sama siapa lagi kalo bukan sama Hilda? Gausah ngimpi aku bakalan ngajakin kamu pergi!" ujar Nico ketus.  Ucapan Nico menggoreskan luka di hatinya. Nico bahkan mengatakannya dengan nada jijik. Seolah-olah Maira sangat menjijikan di matanya.  "Siapa juga sih yang mau di ajak jalan sama kamu? Gausah ke pedean" balas Maira tak kalah sengit. "Gausah kepedean, gak ada yang mau tau rasa!" ujar Miara sambil membuka pintu lemari dengan kasar.  Dengan rasa kesal yang tidak dapat Maira bendung, ia melempar pakaian Nico. "Heh! Kamu kenapa sih?!" tanya Nico sambil memungut pakaiannya. "Kesel aja aku! Sial banget punya suami kayak kamu! Nybelein banget lagi! Duh Tuhan!!" keluh Maira. "Udah ah aku mau tidur aja!" Maira melangkah ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. "Baru jam sepuluh, udah mau tidur lagi. Dasar males" ujar Nico.  Tanpa ia duga, Maira melempar bantal miliknya dengan cukup keras. "Aduh!" Nico memekik.  Nico meninggalkan Maira yang terlelap dalam tidurnya. Bisa Nico pastikan suara pintu yang terbuka tidak membangunkan Maira. "Mau kemana kamu?" tanya Sutedja saat melihat Nico sudah siap untuk pergi. "Eh Papa" ujar Nico. "Mau pergi" jawab Nico. "Pergi kemana?" tanya Sutedja lagi. "Ya biasa, ketemu sama temen Pa" jawab Nico. Ia berdoa agar Sutedja tidak menebak ia pergi untuk bertemu dengan Hilda. "Hmm yaudah sana" ujar Sutedja sambil berlalu. Nico mengelus dadanya lega, dan kemudian segera pergi untuk bertemu Hilda.                                                                                     **** Maira sibuk berkutat dengan adonan kue. Ia sangat bersemangat dari pagi untuk membuat kue. "Maira" panggil Sutedja. Maira langsung menoleh dan menatap ayah mertuanya. Ia sedikit merasa canggung berkomunikasi dengan ayah mertuanya. "Mama kemana?" tanya Sutedja mencair istrinya. "Mama lag terima telfon Pa" jawab Maira yang kembali sibuk dengan kue-kuenya. "Nanti tolong bilangin Mama, ada undangan dari tetangga. Tanggal 24 nanti, undangannya tuh Papa taro di situ ya" ujar Papa. Maira mengangguk dan kembali menoleh. "Nanti, aku sampaikan Pa" jawab Maira. Tapi tiba-tiba Maira membeku sendiri mendengar ucapan Sutedja. "Tanggal 24?" gumam Maira. Seketika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia harus memastikan ini setelah ia selesai dengan kue-kuenya. Maira mengambil kalender meja untuk memeriksa tanggal. "Gue belom mens" ujar Miara gugup sendiri. "Iya, gue belom mens . Seharusnya sekitaran tanggal 24-an kemarin gue mens tapi belom" ujar Miara. Ia selalu memberik tanda silang berwarna merah di kalender setiap kali ia datang bulan, namun sudah lama ia tidak memberikan tanda itu di kalendernya. "Masa sih gue hamil" Miara merinding sendiri. Sejujurnya, tidak mengapa jikalau dirinya memang hamil, toh ia sudah menikah dan ia tidak melanggar norma apapun. Namun yang menjadi masalah adalah, akankah Nico menerima kehamilannya ini? Sudah dapat Maira prediksi, Nico tidak akan menerima kehamilanya, dan akan terus mencari celah untuk mengelak bahwa istrinya itu mengandung. Maira harap-harap cemas smabil menghitung hari terakhir dirinya mestruasi.  "Haduh kalo begini, gue jadi pusing" Miara frustasi sendiri. "Gue gak bsia kayak begini, gue harus mastiin sendiri, apa gue hamil atau gak" ujarnya yakin. "Haduh urusan Nico, ntar dulu deh. Gimana pun juga Nico harus nerima karena ini anak dia" Miara langsung beranjak dari tempat tidur dan mengganti celana pendeknya dengan celana yang lebih panjang.  Maira keluar dari kamarnya dengan gerakan agak tergesa. "Mau kemana Mbak?" tanya Arya saat melihat Mair ayang hendka pergi. Maira yang pikirannya tengha kacau kaget dengan pertanyaan Arya. "Mbak mau pergi dulu" jawab Maira. "Mbak sakit?" tanya Arya memastikan. "Enggak kok , kenapa emangnya?" tanya Maira lagi. "Abisnya mbak pake jaket rada tebel gitu, terus muka mbak juga pucat. Aku pikir mbak sakit" jawb Arya. "Yaudah deh, eh itu kuenya aku makan ya mbak" ujar Arya denga senyuman kekanak-kanakan. "Iya, makan aja. Tapi jangan di habisin ya, yang lain belum makan soalnya" tanpa berbicara lebih panjang Maira langsung menuju mobilnya. Di perjalanan, Maira sejujurnya bingun ia harus kemana. Ia merasa seperti anak muda yang bingung setengah mati karena hamil di luar nikah. "Gue kalo ke rumah sakt mau kemana coba?" tanya Maira pada dirinya sendiri. "Gak punya kenalan dokter, temen yang hamil pun juga gak ada" keluhnya lagi.  "Tanya Jenita juga gak mungki. Bisa-bisa bocor duluan yang ada nanti" ujar Maira sambil menarik rem tangan. Maira melihat ada apotek tak jauh dari lampu merah ia berhenti. Ia tahu yang harus ia lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN