Lidya tidak mau mengalah, ia terus memojokkan Yusuf dengan semua pertanyaan yang memaksa. Seminggu ini ia telah sabar menunggu dan menunggu. Sekarang adalah waktunya mengetahui, kenapa, dan bagaimana Yusuf melupakannya. Yusuf tak sanggup menatap mata Lidya. Wanita itu tampak sangar sekali, dengan pelototan mata yang tajam memindainya dari depan. Seolah Yusuf adalah seekor mangsa yang siap dijadikan santapan. Hawa sesak yang dari tadi menyiksanya, sekarang berubah mencekam. Tangan Lidya telah bersarang pada kerah bajunya, menariknya untuk semakin mendekat. Badan Yusuf tiba-tiba tersentak ke depan. Tepat di jarak satu jengkal pada wajah Lidya, wanita itu langsung berteriak. “Kenapa kau tidak menghubungiku!” suara Lidya berubah berat, hendak melahap semua yang ada di hadapannya. “Aku tida

