Lidya meminta Yusuf menjemputnya. Ia merasa kepalanya mulai pusing setelah menghabiskan dua gelas minumannya. Setelah menunggu tiga puluh menit, Yusuf datang. “Mbak,” kata Yusuf yang sudah berdiri di depan tempat duduknya. Lidya mendonggak, kepalanya pusing, pandangan matanya mengabur. Ia tidak kuat untuk berdiri. Kebiasaan buruknya kalau sudah minum alkohol selalu mabuk dan akan membuat onar jika diteruskan. Itu menyusahkan. Ia mengangkat tangan, meminta Yusuf membantunya berdiri. “Sini mbak.” Yusuf langsung membuka jasnya dan menutupi pundak Lidya yang terbuka. Ia sangat menyayangkan wanita itu memakai baju terbuka, karena melihat tatapan lelaki di sana sangat nakal menatap Lidya. Setelah itu Yusuf langsung menggendong Lidya keluar dan membawanya ke parkiran mobil. “Yusuf. Kamu jaha

