Lidya mengetuk pintu depan rumah Sarah, perlu berbicara dengan sahabat baiknya, satu-satunya orang di dunia yang bisa membantunya memahami perasaannya yang kacau balau. Tapi malah Riska, adik Sarah yang membuka pintu. “Lidya! Kau datang!” kata Riska bersemangat, membuka pintu. Matanya mengamati celana, blus, dan sepatu berhak tinggi yang dikenakan Lidya di kantor. “Pakaianmu terlalu formal untuk acara barbekyu, tapi… tak apalah.” Lidya menelengkan kepalanya bingung. Riska adalah gadis dua tahun di bawahnya. Wanita itu sangat ceria dan ramah jika bertamu ke rumahnya. “Barbekyu?” kemudian ia ingat. Seminggu yang lalu Sarah memberitahukan lewat pesan w******p kalau dia mengajak untuk bertemu. Menikmati waktu bersama setelah pernikahan. Saat itu Lidya bermaksud untuk menjawab, tapi kemud

