Bab 2 - Detektif Kampus

1025 Kata
Dua minggu sudah Aira dirawat di rumah sakit sampai dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Dengan pertimbangan bahwa Aira harus tetap rutin pemeriksaan setiap bulan terkait amnesia yang ia alami. Keesokan harinya, Aira mulai menjalani aktifitas pertamanya sebagai pasien rawat jalan. Dia bersikukuh untuk mulai berkuliah lagi dengan susah payah membujuk orang tuanya agar diizinkan. Aira akhirnya bisa menikmati jalanan kota London yang mulai ramai. Suhu di London kini mencapai 10◦C dengan beberapa tumpukan salju yang mulai mencair di tepi jalan. Menandakan pergantian musim dingin ke musim semi yang mulai sejuk. Aira sudah berada di halte dan menaiki bus merah di depannya, mengeluarkan Oyster Card dan menempelkan kartu tersebut ke mesin di balik pintu masuk bus. Ia memilih duduk di dekat jendela agar dapat mencium udara London yang sepertinya ia rindukan, daya ingatnya ternyata tidak berpengaruh pada daya penciumannya. Aira membuka tasnya, memeriksa naskah novelnya yang sudah mulai kusut. Ia memastikan bahwa semua naskahnya lengkap karena hari ini Sindy sudah berjanji akan mempertemukan Aira dengan teman detektifnya. Bus berhenti, seorang wanita berambut pirang yang Aira kenal sudah menunggunya di halte pemberhentian di dekat kampus mereka. “Ajaib sekali kau bisa sampai sini sendirian,” ujar Sindy yang tersenyum lebar mendekati Aira yang baru saja turun dari bus. “Ada teknologi bernama GPS. Asal kau tahu,” jawab Aira sambil bergurau. “Wah! Kau dari masa depan? Teknologi macam apa itu?” jawab Sindy menyambut gurauan Aira dengan senang. Aira dan Sindy tiba di depan kelas. Terlihat beberapa mahasiswa sudah duduk memenuhi seisi ruangan. Sindy menarik Aira ke sebuah kursi yang terletak di dekat jendela. Aira memandang keluar jendela yang persis berada di samping tempat duduknya. Terlihat bangunan lain di seberang gedung kampus tempat ia duduk sekarang. “Tempat apa itu?” Aira bertanya pada Sindy sambil menunjuk gedung sebrang yang terlihat mirip dengan gedung kampusnya. “Itu kampus kita juga. Hanya saja berbeda jurusan dengan kita. Oh iya, teman detektifku berada di gedung seberang. Setelah kelas berakhir, aku akan memperkenalkanmu dengannya,” jawab Sindy sambil berbisik karena seorang dosen sudah datang. “Baiklah. Aku tidak sabar,” jawab Aira dengan suara pelan. *** Sesuai janjinya, seusai kelas Sindy membawa Aira ke gedung kampus sebrang untuk menemui teman detektifnya. Aira mengekor Sindy dari belakang yang berjalan menuju sebuah ruang kelas yang sudah mulai sepi. Sindy melihat sekeliling ruangan dan matanya tertuju pada seseorang. “Itu pasti dia,” ucap Sindy dengan senyuman seperti menemukan harta karun. Aira melihat arah Sindy menunjuk. Dia tidak melihat siapapun kecuali seorang pria yang sedang—tertidur di meja? “Hei, Mr.Detective. Bangunlah! Waktunya bekerja!” kata Sindy sambil mengetuk meja si pria yang tertidur tadi dengan pulpen yang ia bawa. Aira hanya terdiam melihat pria tadi yang mulai bergerak seperti zombie—meregangkan tubuhnya, menguap sekali dan mengatakan, “Kalian sudah datang?” Aira tertegun sejenak melihat sosok pria di hadapannya. ‘Dimana pria culun dengan kacamata tebal, kemeja putih dengan kancing yang rapat sampai leher, rambut klimis belah tengah?’ ucap Aira dalam hati mengingat imajinasinya ketika Sindy menyebut kata detektif. Pria yang di depannya kini malah sebaliknya, hanya mengenakan kaos hitam dan celana jeans, rambut sedikit acak-acakan dan—cukup tampan. “Kau si detektif itu?” tanya Aira pada pria di hadapannya. “Ya ... tidak meyakinkan bukan?” sahut Sindy. “Ya ... setidaknya bukan aku saja yang berpikir seperti itu,” timpal Aira mengiyakan. “Bisakah kalian bergosip tentangku ketika aku tidak ada? Aku masih di sini,” jawab pria tadi. Aira dan Sindy sontak tertawa mendengar responnya. Sindy yang masih terkekeh segera memperkenalkan Aira dengannya. Namanya Alden Altair, dia jurusan hukum di kampus mereka. Sindy menerangkan bahwa Alden pernah memecahkan beberapa kasus di kampus mereka mulai dari kasus kehilangan barang, kasus pelaku pencoretan ruang dekan, sampai ke kasus perselingkuhan. ‘Terdengar kasus yang sangat sepele. Namun, patut dicoba,’ pikir Aira. Alden mengulurkan tangannya kepada Aira. Aira menyambut jabatan tangannya dan memperkenalkan dirinya. “Aku Aira Smith. Aku tidak ingat apa pun tentang diriku jadi tidak bisa terlalu banyak memberikan perkenalan.” “Aku tidak minta berjabat tangan. Aku hanya ingin lihat naskahnya,” ucap Alden dengan tak acuh. Aira yang malu mendengar hal itu langsung mengeluarkan naskah dalam tasnya dan menyerahkannya pada Alden. Sindy memberitahu bahwa dia sudah menjelaskan masalah yang Aira hadapi pada Alden. “Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?” tanya Aira kepada Sindy sambil menyikutnya. Sindy hanya cekikikan melihat tingkah temannya. Alden membaca dengan serius naskah Aira lembar demi lembar. Alden kemudian selesai membacanya dan mengatakan, “Tidak ada yang lain?” Aira menjawab, “Ya, hanya itu. Kupikir kau sudah tahu bahwa naskahku belum selesai.” “Aku tidak bisa menerima kasus ini,” ucap Alden tiba-tiba yang sangat mengejutkan Aira dan Sindy. “Hah?! Kenapa?” tanya Aira dengan nada kecewa. “Aku tidak tertarik dengan percintaan seseorang. Kau akan mengingatnya nanti ketika ingatanmu kembali,” tutur Alden sambil berteriak memanggil nama seseorang. “Ciki!” Tiba-tiba sebuah burung beo terbang ke arah mereka yang sontak membuat Aira dan Sindy terkejut. Burung beo tersebut hinggap di bahu Alden dan langsung dielus-elus pemiliknya. “Jadi, kau tidak akan menerima kasusku?” tanya Aira. “Ya. Maaf,” jawab Alden. Alden segera berpamitan dengan santai dan pergi dengan ‘teman burungnya.’ “Aku lupa bilang kalau Alden memiliki julukan lain,” kata Sindy ketika Alden meninggalkan ruangan. “Alden punya julukan ‘NerdBird.’ Aku baru tahu maksud kata Nerd dan Bird itu.” “Pria aneh dengan teman burungnya?” tebak Aira. “Ya! Mungkin,” jawab Sindy sambil tertawa. “Jadi ... bagaimana sekarang?” tanya Aira pada Sindy. Sebelum Sindy menjawab pertanyaan Aira, tiba-tiba ponsel Aira berdering. Aira melihat nama yang tertera di layar ‘Ibu Pemilik Apartemen.’ Aira segera menjawab teleponnya dan terdengar suara seorang wanita paruh baya di sambungan telepon itu. “Miss Aira, bagaimana kabarmu? Aku hanya ingin mengabari bahwa aku harus mengirim seseorang untuk maintenance setiap unit apartemen. Hanya unitmu yang belum menerima respon. Jadi, kapan kau kembali ke apartemen?” ucap wanita paruh baya tersebut. Aira yang masih pusing soal Alden, sekarang terlihat sangat kebingungan dengan fakta baru bahwa dia memiliki sebuah unit apartemen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN