Bab 3 - Tetangga Baru

1251 Kata
Aira akhirnya meminta izin ibunya untuk mengecek apartemen yang ia sewa. Sesampainya di apartemen, Aira memasuki lift dan menuju lantai lima. Malam itu sangat sepi, ia sampai memikirkan hal-hal horor yang bisa saja menimpa dirinya di dalam lift. Selangkah ia menginjakkan kaki di lantai tujuannya, ia melihat sebuah boneka anjing di tengah jalan di depan pintu lift. Tangannya mencoba mengambil boneka berbulu coklat tersebut untuk memindahkannya. Ketika akan menyentuhnya, tiba-tiba .... “Ber ... ge ... rak? Jadi, kau bukan boneka?” ucap Aira sendirian dengan terbata-bata memastikan benda yang ada di depannya. Boneka itu, yang tadinya hanya bergerak sedikit, kini menggonggong memecah keheningan di lantai tersebut. Dia yang tersadar bahwa di depannya adalah anjing sungguhan, seketika perlahan menjauhi anjing itu. Sialnya, anjing itu malah mengikutinya dan mulai mengejarnya. Aira yang tanpa memikirkan apapun, langsung berlari menyusuri lorong di depannya. Tidak ada satupun orang yang bisa dimintai tolong, ia terus berlari hingga melihat ada sebuah pintu salah satu unit apartemen yang sedikit terbuka. “Please ... buka lebih lebar! Tolong aku!” Aira menerobos masuk ke dalam unit apartemen itu tanpa berpikir panjang. Ia hanya mencoba menyelamatkan hidupnya dari seekor ‘boneka bergerak’ tadi yang ia tidak tahu kenapa terus mengejarnya. “Save!” desah Aira lega. Aira mencium aroma kopi yang sangat menenangkan, ia memejamkan matanya dan mulai tersadar ketika sebuah suara membuyarkan lamunannya. “Apanya yang save?!” ucap seseorang. “Ma ... maaf!” seru Aira sambil duduk dan membetulkan busananya yang sedikit berantakan. “Sampai kapan kau akan berada di atasku? Aira Smith.” Aira yang terkejut namanya dipanggil, sontak memandang sumber suara tadi. Alden Altair, pria detektif yang sudah menolak kasusnya kemarin—kini berada di bawahnya dan sedang ia tindihi. Ting. Cekrek. “Lama tidak bertemu kau sudah selingkuh, huh?!” ucap seorang wanita yang muncul di balik pintu. Aira menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita cantik mengenakan kacamata hitam. Ia merasa sangat malu dengan kejadian ini. “Tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Alden sambil berdiri dan mengacak-acak rambutnya. Aira yang kebingungan dengan situasi ini akhirnya mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Alden mempersilakan kedua wanita itu duduk di ruang tamunya yang sedikit berantakan. Aira dan Alden sama-sama tidak mengira bahwa mereka bertetangga. “Jadi, kau teman kuliah Alden? Aku Puri Altair. Kakak perempuan Alden. Aku tidak mengira Alden akhirnya memiliki teman wanita,” kata Puri. “Apa kau artis? Kenapa kau memakai kacamata hitam di dalam?” seru Alden meledek kakaknya. Puri membuka kacamata hitamnya, terlihat kantung mata yang sangat hitam dengan maskara yang mulai luntur dari sudut matanya. “Ha ha ha ha ha ... apa itu?” ucap Alden dengan tawanya yang memenuhi seisi ruangan. “Kejam sekali kau!” Puri memukuli adiknya dengan bantal sofa di sebelahnya. “Kau habis menangis?” tanya Aira yang berusaha memahami. Puri yang mendengar itu langsung menangis di kursinya. ‘Dasar wanita, ditegur begitu malah makin menangis,’ batin Alden melihat kakaknya yang bertingkah seperti anak kecil. “Aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu, Alden,” ucap Puri. “Sepertinya kalian akan berbicara serius. Maaf sudah mengganggu kalian.” Aira berdiri dari sofa yang ia duduki dan berusaha untuk kabur dari situasi kikuk ini. Puri tiba-tiba menahannya untuk pergi. Aira menengok mencari tahu maksudnya. “Kau bisa menolongku?” tanya Puri. “Sepertinya dewi fortuna sudah berbaik hati padaku sekarang. Apa kau mau menjadi modelku?” lanjut Puri dengan tiba-tiba. “Puri ... jangan membuat situasi semakin rumit. Sebenarnya apa yang terjadi?” sela Alden. Puri menjelaskan bahwa acara fashion show yang akan diadakannya terancam batal karena seseorang mengirimi surat ancaman kepadanya, entah kenapa surat tersebut bocor dan sampai diketahui oleh kedua model utama. Puri meminta tolong kepada Alden untuk mencari siapa pelaku yang mengirim surat tersebut, dan tiba-tiba terpikir ide untuk menyuruh adiknya dan temannya menjadi model pengganti dalam acara tersebut. Alden mengernyitkan dahi dan mengatakan, “Tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku menjadi model? Kau sudah gila?” protes Alden. “Tolonglah! Acaranya itu besok.” Aira yang sejak tadi hanya terdiam, tiba-tiba menawarkan diri untuk membantunya. “Aku mau,” ujar Aira dengan singkat. “Kan ... sudah kubilang itu ide gila. Mana mungkin dia ma ... apa?! Kau mau?” tanya Alden yang sangat terkejut. “Benarkah? Kau baik sekali.” Puri langsung memeluk Aira dan langsung berpaling ke adiknya. “Orang asing saja mau membantuku. Apa kau benar-benar memiliki darah yang sama denganku?” sindir Puri kepada adiknya. Setelah beberapa menit membujuk Alden, Alden akhirnya luluh. Ia tidak mau kakaknya itu akan mendiamkannya lagi selama beberapa bulan seperti kejadian sebelumnya. “Baiklah. Kami hanya harus berpose saja kan?” tanya Alden. “Ya, berpose dan berjalan di catwalk sebagai pasangan pengantin,” jawab puri. “APA?!” teriak Alden dan Aira bersamaan. “Ingat! Kalian sudah setuju tadi,” ucap Puri sambil nyengir lebar memamerkan gigi putihnya. “Kalian sudah setuju ... kalian sudah setuju ....” Tiba-tiba saja sebuah suara lucu terdengar menyahut mengikuti ucapan Puri barusan. Aira melihat burung yang sama yang menghampiri Alden di kampus saat pertemuan pertama mereka. Aira baru sadar bahwa gedung apartemennya ini mengizinkan hewan piaraan untuk tinggal. Seperti anjing yang mengejarnya tadi. *** Aira akhirnya menemukan unit apartemennya. Ia berkeliling dan mengagumi desain interior bergaya Eropa beserta beberapa furniture mewah di sekelilingnya. Ia berbaring di tempat tidurnya yang terasa tidak asing. Ia menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan tentang kejadian barusan. Ia masih tidak mengira bahwa dia memiliki apartemen sendiri dan kebetulan satu gedung dengan Alden. Ini kesempatan baginya, pikir Aira. Aira mengambil ponselnya, menelepon ibunya untuk mengabari bahwa ia akan menginap di apartemennya malam ini. Aira berjalan ke sudut ruangan, mendekati sebuah mesin kopi yang tampak baru. Ia tidak tahu bahwa dirinya menyukai kopi. Aira mencoba menyalakan mesin kopi itu dan ternyata masih berfungsi dengan baik. Ia teringat wangi parfum Alden yang juga beraroma kopi. ‘Ah, apa yang kupikirkan,’ batin Aira dengan rasa malu. Keesokan paginya ... Aira selesai mandi dan berpakaian. Ia memandang cermin dan memoleskan sedikit pelembab ke bibirnya. Ia baru ingat pakaian yang ia kenakan kemarin adalah satu-satunya pakaian yang ia bawa. Ting! Tong! ‘Itu pasti Alden, bagaimana kalau dia mengira aku belum mandi dari kemarin karena memakai pakaian yang sama?’ pikirnya. Setelah beberapa menit, Aira akhirnya membuka pintu. Ia melihat Alden juga memakai busana yang mirip seperti kemarin. “Kau sudah siap?” tanya Alden. “Ya ... sepertinya,” kata Aira sambil keluar unit apartemennya. Alden meletakkan sesuatu di genggaman tangan Aira, dengan cuek ia pergi mendahuluinya ke arah lift. Aira melihat apa yang Alden berikan, ternyata sebuah sandwich yang tampak sangat menggiurkan. “Lezat. Bagaimana kau tahu aku belum sarapan?” Aira bertanya sambil menyantap suapan pertama pada sandwich-nya. “Ini masih pukul tujuh pagi. Kau pasti belum sarapan karena kau baru pindah ke apartemenmu dan belum mengenal wilayah ini. Dan kemarin kau hanya membawa tas tangan yang sangat kecil. Tidak mungkin kau membawa makanan ke dalam tas itu. Jadi, kau pasti belum sarapan,” ujar Alden menjelaskan analisisnya. “Wow! Kau benar-benar detektif! Kau sampai mengingat sedetail itu," kata Aira terkesan. “Kau akan lebih terkesan dengan seseorang yang lebih hebat dariku dalam mengingat,” sahut Alden seperti bisa membaca pikirannya. “Siapa?” tanya Aira sambil mengunyah potongan sandwichnya. “Kau akan tahu nanti,” jawab Alden mengakhiri percakapan sambil memencet tombol lift. Aira mengikutinya dan baru terpikir bahwa Alden mungkin saja juga menyadari dia tidak berganti pakaian sejak kemarin. ‘Malu sekali,’ batinnya sambil menutup wajahnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN