Aira dan Alden telah tiba di sebuah gedung dengan eksterior modern dan panggung yang sangat mewah. Suasana di gedung tersebut masih sepi.
Jelas saja, acaranya pukul tujuh malam. Sekarang baru pukul tujuh pagi. Alden mengajak Aira ke sebuah ruangan di belakang panggung. Mereka melihat sebuah tulisan di tengah-tengah pintu ruangan tersebut, ‘VVIP’.
Mereka perlahan memasuki ruangan itu dan melihat dua buah meja rias dengan lampu – lampu vanity mirror besar berjejer di sudut ruangan tersebut. Terlihat Puri, orang yang mengundang mereka sedang memoleskan sebuah perona pipi di wajah seorang wanita yang sangat cantik dengan berpakaian nyentrik di hadapannya.
“Kau baru tahu?” tanya Alden ketika sudah mengajaknya duduk di sofa dalam ruangan tersebut.
“Apa?” tanya Aira.
“Puri adalah seorang Makeup Artist profesional,” kata Alden dengan bangga menjelaskan profesi kakaknya.
“Ya ... aku baru tahu. Mengejutkan sekali.”
Puri menyelesaikan pekerjaannya dan melihat ke arah Alden serta Aira yang baru datang. Terlihat Puri berbisik kepada wanita yang tadi ia rias. Wanita tersebut kemudian memandang ke arah Alden dan Aira lalu tersenyum dengan manis.
Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam ruangan dengan wajah panik. Pria itu mencabut beberapa notes yang tertempel di cermin yang berhadapan dengan wanita nyentrik tadi.
Pria itu kemudian mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak dimengerti Aira. Wanita dengan pakaian nyentrik tadi terlihat sangat kesal dan memaki Puri yang ada di hadapannya.
Puri terlihat mencoba menjelaskan sesuatu sambil sekali menunjuk ke arah Alden dan Aira yang sedang duduk menyimak di sofa.
Puri kemudian menghampiri Aira dan Alden lalu mengatakan, “Wanita itu adalah Maiden. Desainer yang bajunya akan diperagakan oleh para model dalam fashion show nanti malam. Dia tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Orang disebelahnya adalah Jay, asistennya.” Puri mencoba menceritakan situasi tidak menyenangkan tadi kepada Alden dan Aira.
Selepas menenangkan kliennya, Puri mengajak Alden dan Aira ke ruangan lain. Ruangan itu ternyata adalah tempat para model mem-fitting busana pengantin mereka.
“Kenapa? Tiba-tiba ingin pulang?” Puri menanyakan hal itu kepada Aira dan Alden yang mematung saat melihat deretan busana pengantin yang sangat mewah di hadapan mereka.
Seorang wanita bertubuh kurus menghampiri Aira. Seorang laki-laki yang agak feminim menghampiri Alden.
Alden tiba-tiba menatap Aira dengan tatapan seolah meminta pertolongan. Aira langsung menahan tawanya, merasa puas melihat Alden ketakutan.
Aira dipakaikan busana pengantin berbentuk duyung yang memamerkan lekukan tubuhnya. Potongan busananya sangat indah dengan bentuk d**a sabrina yang memperlihatkan sedikit bahunya.
Aira bercermin dan takjub dengan dirinya sendiri. Tiba tiba, wanita kurus yang sejak tadi membantunya berpakaian langsung menarik tali ikatan di pinggangnya dengan sangat kuat, membuat Aira kesulitan bernapas.
“Hei, apa kau ingin membunuhku?” tanya Aira terkejut.
“Model itu harus seperti tengkorak berjalan,” jawab wanita tadi yang ternyata adalah salah satu tim wardrobe acara tersebut.
Beberapa pakaian telah dicoba oleh Aira dan pilihan desainernya adalah gaun duyung putih yang ia kenakan pertama kali. ‘Lalu, untuk apa aku mencoba semua gaun itu?’ gerutu Aira dalam hati.
Selesai fitting busana, Aira mengenakan pakaian casual-nya lagi dan mencari keberadaan Alden. Ia penasaran apakah Alden sudah 'disantap' oleh pria feminim tadi? Pikirnya dengan kehaluan yang sangat tinggi.
Puri yang menyadari Aira mencari keberadaan adiknya, menanyakan sesuatu pada gadis tersebut. “Apa kau benar bukan pacar adikku?” Aira yang terkejut dengan pertanyaan itu langsung menyanggah, “Bukan! Kami tidak seperti itu. Kami hanya ... berteman.”
“Kenapa kau terlihat ragu menjawabnya?” tanya Puri dengan tatapan menggoda.
“Well, sebenarnya aku ini kliennya. Belum resmi ... tapi aku sedang mencoba membujuknya agar dia mau menerima kasusku,” jawab Aira.
Puri masih terus menggoda Aira, tanpa terasa ruangan fitting sudah sepi. Beberapa saat kemudian, Alden masuk ke dalam ruangan dengan tatapan serius.
Ia menghampiri Puri dan berbisik bahwa ia menemukan petunjuk tentang siapa pria yang mengirim surat ancaman padanya. Alden juga mengatakan bahwa ia akan mencari bukti kuat untuk memastikan bahwa orang itu adalah pelakunya.
Puri dan Alden terlihat sedang mendiskusikan sesuatu tanpa melibatkan Aira. Aira hanya bisa melihat kedua kakak beradik itu dari jarak beberapa centi meter sambil mengagumi paras mereka.
“Ada hal yang lebih penting yang harus kalian lakukan sekarang.” Puri menarik tangan Alden dan Aira untuk mengikutinya dari belakang. Mereka pergi ke sebuah ruangan yang dikelilingi cermin besar.
Puri memberikan sepasang sepatu heels yang sangat tinggi kepada Aira sambil mengatakan, “Ada alasan kenapa aku menyuruh kalian datang sepagi ini. Kalian harus melakukan latihan.”
Aira dan Alden dipaksa melakukan pelatihan singkat layaknya seorang pasangan model profesional. Seorang pria feminim yang tadi di ruang ganti mengibaskan jarinya mengarah ke tangan Aira.
“Pegang tangannya! Kalian pasangan yang baru menikah. Bukan baru bercerai. Jadi, segeralah berpegangan tangan!” Aira dan Alden saling bertatapan.
Alden yang malu untuk memulai hanya bisa menggaruk kepalanya dengan gugup. Aira langsung mengingat tujuannya menerima tawaran model ini.
Ia akhirnya meraih tangan Alden dan membuat Alden sedikit terkejut. Alden membalasnya dengan menautkan jari mereka, sontak membuat Aira melotot ke arahnya.
Tiba-tiba sebuah tangan lain memukul kedua jari mereka yang sedang bertautan. “Hei, kalian baru menikah. Bukan baru pacaran! Begini caranya,” ucap pria feminim tadi yang belakangan mereka tahu bernama Kendrick-berusaha memperagakan.
Alden dan Aira sama-sama malu dan tidak dapat mengatakan apa pun lagi.
***
Malam hari tiba, Aira telah mengenakan busana pengantin yang ia fitting tadi siang. Setelah dua jam dirias oleh Puri, Aira kini terlihat seperti pengantin sungguhan. “Kau benar-benar sangat cantik!” ucap Puri yang bangga dengan mahakaryanya sendiri.
Alden memasuki ruangan dengan mengenakan tuxedo putih berlis hitam, rambutnya juga sudah tertata lebih rapi dari biasanya.
Aira mencoba untuk tidak terpaku padanya, dan menyembunyikan kekagumannya terhadap ketampanan Alden yang naik sepuluh kali lipat dibanding biasanya.
Seorang pria yang mengenakan mic wireless di telinga memasuki ruangan. “Model utama sudah siap?” tanya pria itu.
“Ya ... mereka sudah siap,” jawab Puri sambil mengangkat sedikit tubuh Aira agar berdiri.
Alden menyodorkan tangannya kepada Aira, Aira yang sudah berlatih dengan keras meraih tangan Alden. Alden melihat ke arah Puri dan mengatakan, “Kenapa ekspresimu seperti itu?”.
“Aku seperti mengantar adikku akan menikah sungguhan,” jelas Puri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Alden hanya mengabaikan pernyataan konyol kakaknya tersebut dan segera berjalan mengikuti arahan pria dengan mic wireless tadi sambil menggandeng Aira yang telah mengenakan gaun cantiknya.
Lampu sorot telah siap mengiringi langkah Alden dan Aira di atas panggung, disertai alunan musik lagu khas wedding fair, Thousand Year yang mengalun dengan indah.
Alden tidak percaya ia harus melakukan hal ini, kalau bukan demi membantu kakaknya, mungkin ia sudah kabur sejak tadi dan lebih memilih tidur di kamarnya dengan nyaman. Selain itu, Alden lebih tidak percaya lagi gadis yang ada di sebelahnya sekarang menyetujui hal ini.
Aira dan Alden berhasil berjalan mulus sebagai model pakaian pengantin tanpa terjatuh. Para model kini berbaris di bagian belakang panggung.
Seorang MC meneriakan nama perancang busana yang karyanya dipakai oleh para model hari ini. Sorakan penonton memenuhi ruangan hingga Aira hampir tidak dapat mendengar apa pun dengan jelas.
“Kau sangat cantik,” ucap seseorang di sebelahnya sambil berbisik.
“Kau bicara apa?” tanya Aira sambil berteriak untuk memastikan.
Alden, yang saat itu sangat malu untuk mengucapkan kalimat yang sangat jarang diucapkan, hanya menoleh ke arah lain dan tidak menjawab pertanyaannya.
‘Apa dia mengatakan aku cantik? Ah, pasti aku salah dengar,’ batin Aira berusaha untuk terlihat tidak peduli.