Acara fashion show yang terancam gagal akhirnya selesai dengan sukses. Puri sangat lega karena ia dapat mengatasi masalah yang sempat mengancam karirnya.
Di belakang panggung, Aira dan Alden sudah disuruh memasuki ruang ganti busana. Namun, Aira lebih memilih untuk duduk di kursi depan ruangan tersebut, menunggu para model lainnya berganti pakaian lebih dulu agar ia dapat menghindari kerumunan.
Alden yang sejak tadi berada di sampingnya, tiba-tiba berjalan menjauh. Aira yang merasa penasaran, mencoba mengikutinya dari belakang.
Ia bergegas mencopot high heels lima belas centi-nya dan mengendap-endap takut ketahuan. Alden terlihat berjalan menuju parkiran mobil.
Aira menyesal sudah berusaha mengikutinya, gaun yang sangat panjang yang ia kenakan, sangat menyulitkannya berjalan. Ia baru ingat bahwa gaun tersebut sangat mahal, ia lantas berpikir untuk segera kembali.
Namun, sayangnya ia sudah terlalu jauh mengikuti Alden dan rasa penasarannya lebih besar dari rasa lelahnya.
Baru saja Aira berpaling sedikit untuk membetulkan ekor gaunnya, tangannya telah ditarik, Alden menemukannya.
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Alden sambil melihat sekeliling dengan waspada.
Alden seperti tidak menunggu jawaban dari pertanyaan itu, Aira lantas tidak menjawabnya, ia lebih tertarik dengan apa yang sedang diamati oleh Alden.
Alden mengambil sebuah sapu tangan dalam saku jasnya, kemudian mengelap kaca mobil tempat mereka bersembunyi. Aira mencoba membaca situasi. Ia hanya diam dan mencoba agar tidak menjadi penghalang.
Dari kejauhan, terlihat sosok seorang pria yang sepertinya pernah ia lihat, dan seorang wanita berpakaian modis dengan kacamata hitam di depannya. Pria tersebut memberikan sebuah amplop kepada wanita di hadapannya tersebut.
“Apa kau membawa ponsel?” tanya Alden tanpa menoleh dan tetap fokus pada kedua orang misterius yang sedang mereka amati.
Aira mengambil ponsel di tas kecilnya, membuka fitur kamera dan memberikannya kepada Alden, ia mencoba menebak apa yang akan Alden lakukan.
Ia tidak mengira Alden juga mengambil ponsel miliknya sendiri, Alden memotret adegan di depannya dengan ponselnya, dan tangan lain membuat rekaman video dengan ponsel Aira.
Beberapa saat kemudian, wanita yang sedang mereka amati pergi, meninggalkan pria berjas hitam di depannya sendirian.
Alden berlari mendekati pria tersebut sambil berseru, “Kau sudah tertangkap basah, Jay!”
Aira baru ingat, pria di hadapan mereka adalah Jay, asisten dari Maiden—sang desainer busana yang pakaiannya masih dikenakannya.
“Apa maksudmu?” tanya Jay pada Alden sambil menggosok kedua telapak tangannya di celananya sendiri.
Alden melihat tingkah gugupnya dan melanjutkan ucapannya, “Wanita tadi adalah model utama yang mengundurkan diri bukan? Kau telah menyuap mereka agar mengundurkan diri sehari sebelum acara.”
“Kau tidak memiliki bukti,” terang Jay merasa yakin.
Alden mengeluarkan ponselnya, memamerkan foto-foto hasil dari intaiannya tadi. Jay melihat hal itu seketika mengambil ponsel Alden dan membantingnya ke bawah.
Aira tampak terkejut dan mengetahui kenapa Alden memerlukan ponselnya juga untuk merekam kejadian barusan.
“Beraninya kau!" Jay mencengkram kerah kemeja Alden dan mengatakan, “Foto-foto itu tidak membuktikan apa pun!”
Alden hanya mengernyitkan kedua matanya tanpa gentar.
“Aku menemukan ini di tong sampah,” tukas Alden sambil mengeluarkan sebuah gumpalan kertas berwarna abu-abu yang terlihat seperti kertas koran lokal.
Jay merogoh saku celananya sendiri dan tidak menemukan apa pun di dalamnya.
“Kau menjebakku!” geram Jay dengan wajah yang teramat marah.
“Kau membuat surat ancaman yang dikirimkan kepada Puri dengan menggabungkan beberapa kata yang kau gunting dari sebuah koran. Kau tidak pandai dalam teknologi, karena itu kau tidak menggunakan komputer untuk mengetik suratnya. Kau bahkan lebih memilih memberikan uang tunai daripada transfer uang dengan ponsel. Jika menulis dengan tulisan tangan, kau akan ketahuan. Karena Maiden sangat mengenali tulisan tanganmu dari notes yang sering kau tinggalkan,” terang Alden menjelaskan analisisnya.
“Ke-kenapa kau melakukannya, Jay?” Tiba-tiba suara seorang wanita memecah suasana tegang di area parkir tersebut.
Maiden dan Puri sudah berdiri di belakang mereka. Menyaksikan kejadian menegangkan barusan.
“Aku ... maafkan aku Maiden!” pinta Jay sambil memohon dalam Bahasa Perancis.
Maiden berlari menjauhi mereka dan Jay pun mengejarnya.
“Apa kita tidak perlu memanggil polisi?” tanya Aira.
“Tidak perlu. Ini hanya masalah hati," jawab Alden singkat.
“Alden sudah memberitahuku bahwa Jay dalang di balik semua ini, Alden memintaku mencari tahu bagaimana perlakuan Jay selama ini kepada Maiden,” sambung Puri menjelaskan.
“Dan ternyata?” tanya Aira penasaran.
“Jay berperilaku sangat romantis dan sangat perhatian kepada Maiden. Begitu juga Maiden memperlakukan Jay dengan sangat hormat, tidak seperti asistennya. Maiden pernah menceritakan kepadaku bahwa ia akan menggantikan Jay dengan seorang wanita untuk menjadi asisten barunya,” terang Puri menceritakan kisah kliennya.
“Dan aku menduga motifnya adalah karena Jay tidak ingin Maiden menggantikannya dengan orang lain sebagai asistennya. Tapi sayangnya, Maiden tetap akan menggantikannya.” Alden melanjutkan analisisnya sambil membuka dasi pada kemejanya dan menyingkap sedikit kerah bajunya.
Aira meneguk ludah pelan menyaksikan pemandangan eksotis tersebut.
“Kenapa ia tetap akan dipecat?” Aira yang makin penasaran, mencoba memandang Alden dengan mata berbinar-binar.
“Karena mereka saling mencintai,” ucap Alden dan Puri secara bersamaan.
Pada akhirnya, Maiden memaafkan Jay dan mereka saling mengungkapkan perasaannya. Jay akhirnya tahu bahwa Maiden akan mengganti asistennya karena ia menganggap Jay lebih dari asisten.
Setelah kasus terungkap, Aira dan Alden akhirnya memasuki ruang ganti yang sudah sepi pengunjung, bahkan staff wardrobe pun semuanya telah pergi. Aira melihat sekeliling, mencari keberadaan Puri yang ingin ia mintai pertolongan.
“Puri sedang berbicara dengan para tamu VVIP,” kata Alden mencoba menebak apa yang Aira pikirkan. Aira kemudian menutup pintu ruang ganti, mendekati Alden dan mengatakan, “Kau saja kalau begitu.”
“Maksudmu?”
“Kau saja yang buka ikatan gaunku. Ini di belakang, tanganku tidak bisa menggapainya. Aku tidak tahan menunggu Puri selesai, napasku sudah sangat sesak.”
“Kau lupa kalau aku ini pria?”
“Lalu? Apa kau bernafsu padaku?”
“Kau benar-benar gila.”
“Cepat lakukan atau sebentar lagi aku menjadi mayat.”
Aira menyingkap rambut panjangnya agar Alden dapat melihat dengan jelas tali pengait gaunnya, memamerkan leher dan punggungnya yang indah tanpa disengaja.
Beberapa menit keraguan menghantui Alden, akhirnya ia memberanikan diri untuk memegang ujung tali yang terikat sangat kuat.
“Aku akan menerima kasusmu,” ucap Alden sambil melonggarkan ikatan tali gaun yang dikenakan Aira.
“Kau bilang apa?” tanya Aira.
“Bukankah ini alasanmu mau membantu Puri hari ini? Agar aku bisa menerima kasusmu,” jawab Alden.
Aira yang merasa senang mendengarnya, berbalik menghadap Alden sampai melupakan suatu hal, gaunnya yang sudah longgar, tiba-tiba melorot dan menampakkan sedikit branya.
“Aaah! Cepat keluar!” teriak Aira dengan menahan rasa malu.
Alden keluar ruangan, kakinya lemas dan jantungnya berdegup sangat kencang.
‘Akhirnya aku bisa bernapas,’ batin Alden dengan lega. Alden ingin memberi dirinya sendiri penghargaan karena sudah berhasil menahan diri sejak tadi pagi.